Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Membius Peserta Seleksi


"Ayo semua, yang haus yang haus hahaha." seru Ye Chen, dan untuk meyakinkan mereka, Ia sengaja menenggak satu cawan yang tentu tidak akan berpengaruh padanya.


Aroma arak yang lembut memenuhi arena, bahkan sampai ke arena disebelahnya. Lapat-lapat dapat tercium juga di hidung para tetua di tribun utama. Sementara Lin Yungtao tersenyum melihat apa yang Ye Chen lakukan.


"Sial apa bocah itu akan meracuni para peserta." kata tetua akademi.


"Aku akan menghentikannya." sahut tetua lain.


"Tunggu saja, tak mungkin Ia berani melakukannya." seorang tetua mencegah mereka.


"Eh nona... kenapa kalian tidak minum? ini bukan racun, tenang saja." kata Ye Chen ketika melihat dua orang gadis tidak berusaha meminum arak.


Dua gadis itu menggeleng, "Aku tidak pernah minum arak." katanya. Lalu gadis kedua berkata tidak biasa minum dengan satu cawan, apalagi bekas laki-laki.


Ye Chen mengangguk, "Tidak masalah, akademi juga tidak memaksa kalau tidak mau." Setelah itu Ia menuangkan araknya lagi sampai semua peserta di atas arena mendapat bagiannya, kecuali dua gadis tadi.


Arena lain tampak sudah selesai, masing-masing arena kini hanya tersisa dua puluh orang yang sedang beristirahat. Dan yang tersisa hanya arena tempat Ye Chen berada saja.


Ye Chen memang sengaja mengguncang arak agar aromanya tercium sehingga seratus peserta itu berhenti dan tertarik mencoba araknya.


Tak butuh waktu lama sampai obat bius yang larut dalam arak bekerja, sudah ada peserta sudah ada yang jatuh tersungkur di lantai. Ye Chen menunggu sampai semua peserta jatuh, hanya peserta tingkat surgawi saja yang masih mencoba melawan.


"Hehe percuma saja kalian mencoba." ucap Ye Chen sambil terkekeh kecil. Ia berjalan menuju peserta yang masih bertahan, meraih tangannya dan menyeretnya ke pinggir arena dan membuangnya begitu saja.


Setelah selesai dengan mereka, Ia melanjutkan lagi pekerjaannya dengan peserta yang tak sadarkan diri. Cukup lama juga sampai Ia selesai, arena yang luas dan Ye Chen yang berjalan santai seperti membuang sampah itu menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada di sana.


Ada yang berteriak curang tapi tidak sedikit juga yang memujinya cerdik. Penggunaan racun, senjata dan pukulan mematikan tentu saja tidak dilarang, semua bebas menggunakan kemampuan masing-masing, panitia akan bertindak cepat jika ada yang hampir tewas.


"Nah selesai juga." Ye Chen mengusap peluh di keningnya. Ia lalu mendekati dua gadis dan memberikan arak dan cawan baru. "Tenang saja, ini aman, aku berani bertaruh apapun."


"Be-benarkah...?


"Tentu saja, tak ada gunanya aku membius kalian. Si tua yang menjadi panitia itu, mengatakan hanya tiga yang boleh lolos, dan lihat kita tinggal bertiga... hahaha ayo, ayo jangan sungkan." Ye Chen tidak mengontrol ucapannya, Ia berbicara seolah berada di kedai arak saja sampai semua yang Ia katakan dapat terdengar jelas.


Dua gadis itupun tidak ragu, mereka langsung meminum arak dan tak sadar sampai menghabiskan satu guci kecil di depannya. Arak istimewa itu bukan saja membuat energi mereka terisi penuh tapi juga dantian mereka meluap.


"Jangan menerobos di sini." bisik Ye Chen pada mereka berdua, tak mau membuatnya menjadi perhatian.


Di tribun utama.


"Hahaha menarik, sungguh menarik!"


"Anda benar, anak itu cerdik."


"Si tua panitia, aku mau melihat reaksinya setelah ini hahaha...."


"Nah nona, kita berpisah di sini. jaga diri kalian baik-baik." kata Ye Chen ramah sambil tersenyum.


"Kau suka padanya?" gadis kedua bertanya pada gadis pertama.


"Ah aku liat kau juga senyum-senyum manis padanya, jangan bohong." balas gadis pertama lalu keduanya pun tertawa bersama. Sosok Ye Chen memang unik, lain dari pria manapun. Caranya yang cerdik menyingkirkan peserta lain sampai pandangan matanya yang biasa, tak seperti pria lain ketika melihat wanita.


Hanya satu yang aneh, pakaiannya penuh darah yang mengering. Tapi di mata mereka itu menambah kesan gagah.


Hah dasar betina hehe... bukan takut tapi cenderung lebih memilih suka dan kagum sama bad boy.


"Hahaha saudara Chen, aku sangat menikmati caramu di arena tadi." Lin Yungtao yang datang menyapa Ye Chen di asrama khusus calon murid.


"Aku terpaksa melakukannya. Pikir saja, arena tempatku harus menyisakan tiga orang sementara arena yang lain dua puluh orang."


"Tidak masalah dan itu sah-sah saja, tapi apa kau tau? karena ulahmu itu kau sekarang cukup populer di antara para peserta. Bahkan ada rumor yang mengatakan kau pasti dipilih menjadi salah satu murid tetua."


"Kau tau aku tidak butuh." sahut Ye Chen cepat.


"Tapi kau harus memilih, ingat ini akademi. Mustahil ada murid yang tidak memiliki seorang guru."


"Kau benar, tapi apa aku harus ikut latihan bersama yang lain? aku tak mau waktuku habis disini."


"Hmm... begini saja, bagaimana kalau kau ikut tetua Lan."


"Tetua Lan...?"


"Dia tetua yang menjadi panitia kemarin, yang kau sebut si tua itu hehe." kata Lin Yungtao, kemudian menjelaskan siapa tetua Lan.


Tetua Lan adalah salah satu tetua yang bertugas di dapur, mengatur makanan untuk semua orang di akademi. Semua sumber daya di akademi menjadi tanggung jawabnya.


"Bukankah sumber daya itu urusan divisi alkemis?" tanya Ye Chen yang sebelumnya sudah di beritahu divisi-divisi yang ada di akademi langit.


"Maksdunya, jika divisi alkemis ingin membutuhkan sumber daya maka Ia harus lebih dulu melapor kepada tetua Lan. Jadi semua tergantung padanya, sumber daya akan diberikan kalau sudah mendapatkan izin darinya."


Ye Chen mengangguk, "Saranmu sangat baik. Tapi apa yang akan dia ajarkan?"


"Tentu saja memasak, bukankah kau suka memasak?" balas Lin Yungtao. Ye Chen mengangguk setuju. Tidak buruk, pikirnya.


Seleksi berikutnya adalah penentuan bakat dari seorang calon murid. Setiap murid akan di seleksi berdasarkan elemen yang dominan yang dimilikinya. Memiliki lebih dari dua elemen artinya murid jenius, lebih dari satu elemen adalah murid berbakat dan jika hanya satu elemen saja berarti murid biasa.


Tes dilakukan dengan cara mengalirkan Qu kedalam sebuah bola kristal yang telah disiapkan. Kristal itu akan berubah menjadi biru jika disentuh oleh yang berelemen air, hijau jika berelemen kayu dan seterusnya.


Saat giliran Ye Chen, kristal itu berubah menjadi biru, elemen air. Elemen yang paling umum di antara para murid. Artinya Ye Chen hanya bakat biasa saja.