
Akademi kembali gempar dengan peristiwa ini, nama senior Chen kembali menjadi sosok yang paling dicari. Bukan saja oleh divisi hukum tapi juga oleh murid dalam yang semakin mendendam.
Karena merasa lebih senior dan lebih kuat, murid dalam memang kerap berbuat seenaknya terhadap murid luar dan hak ini memang biasa terjadi apalagi tak ada yang berani melawan atau mencoba protes. Awal murid dalam merasa harga diri mereka diinjak oleh murid luar bermula ketika Ye Chen yang membuat masalah di kelas formasi, kultivasi dan alkemis.
Melumpuhkan murid dalam di kelas kultivasi, membakar di kelas formasi dan meracuni murid dalam kelas alkemis benar-benar membuat mereka marah dan melakukan pembalasan pada kompetisi akademi.
Lalu sekarang murid luar yang kini disebut senior Chen menghajar habis beberapa orang sekaligus, dendam ini semakin bertumpuk. Sayangnya, tak ada yang tau kemana Ye Chen ini pergi. Benar-benar membuat darah mendidih.
...
Di pelataran murid dalam, terlihat Lin Yungtao yang sedang duduk santai. "Kakak Lin." Lin Yungtao menoleh dan melihat Puteri Jia yang sudah berdiri di dekatnya. "Oh adik Jia, ada apa, kenapa kau kemari?"
"Itu... aku hanya ingin bertanya saja, apa kau mendengar insiden di divisi informasi?"
"Tentu saja aku tau, dan semua itu dilakukan oleh orang yang bernama senior Chen. Kenapa, apa kau juga ingin membalas dendam?"
"Tidak, bukan begitu... hanya saja, apa kau tau kalau siapa senior Chen? maksudku... apa ada hubungannya dengan ka-kakak Chen...?" Puteri sedikit gugup.
"Kenapa tidak tanyakan langsung ke saudara Chen?"
"Itu... aku malu."
Lin Yungtao sebenarnya sudah tau semua itu dilakukan oleh Ye Chen, siapa lagi murid luar yang berani berbuat begitu di akademi selain dia? dulu pernah Ia bertanya langsung saat berkunjung ke kamarnya.
"Kalau begitu, ayo kuantar menemuinya," kata Lin Yungtao yang akhirnya harus masuk sendiri ke kamar Ye Chen karena puteri Jia lagi-lagi tidak mau masuk.
"Dia tidak ada, tapi aku tau dia kemana."
Di dapur akademi, Ye Chen seperti biasa, sibuk masak sampai seorang murid datang mengabarkan kedatangan Lin Yungtao dan puteri Jia.
"Senior, wanita ini sangat cantik dan anggun. Serasi sekali dengan senior." kata murid itu.
"Adik Yue?"
"Bukan senior, yang ini seperti lautan yang tenang dan damai hehe."
"Hais kau ini, apanya yang seperti laut," sahut Ye Chen. "Bawa ke ruang dalam, tunggu aku di sana." lanjut Ye Chen lagi dan melanjutkan kembali kegiatan memasaknya.
"Adik Jiaa... kau mencariku? aduh, aku kira siapa." sapa Ye Chen.
"Kakak Chen, ap-apa kabar...?" sahut puteri Jia, masih sedikit gugup.
"Baik, aku baik. Oh, kenapa belum dimakan... apa kau tidak lapar?" Hidangan yang Ye Chen masak tadi sudah dihidangkan oleh murid di dapur.
"Itu...
"Sudahlah, nanti saja," Ye Chen memotong ucapan puter Jia. "Kita makan dulu,
"Ehem... apa kau tidak liat disini ada orang lain selain adik Jiamu itu?" Lin Yungtao.
"Oh ada orang? aduh maaf, maaf... aku kura patok batas hehe." ucap Ye Chen tanpa dosa, sementara puteri Jia menahan tawanya dengan menutup mulut.
"Kau...
"Sudah, ayo makan dulu, aku jamin kau pasti suka." kata Ye Chen. "Adik Jia juga, makan yang banyak."
"Saudara Chen, masakanmu memang tidak pernah mengecewakan." Lin Yungtao tulus sementara puteri Jia yang baru kali ini memakan masakan Ye Chen hampir tidak percaya, Ini bukan makanan biasa, pikirnya ketika ada energi halus merambat pelan mengisi semua syaraf dan meridian dalam tubuhnya. "Seperti pil kultivasi yang dilarutkan dalam makanan." ucapnya dalam hati.
"Jadi untuk apa kalian mencariku?"
"Bukan aku, tapi Adik Jia." sahut Lin Yungtao.
"Bukan aku, tapi orang-orang lah yang memanggilku demikian."
"Jadi benar? kakak Chen... kau harus hati-hati." puteri Jia, Ia menatap Ye Chen dengan rasa khawatir.
Ye Chen tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, lagipula bukan aku yang memulai tapi mereka. Oh ya adik Jia, ini untukmu."
"Ini...?"
"Itu belati yang kau minta dulu, masih ingat kan waktu di dimensi dulu? tapi maaf baru bisa kuberikan sekarang."
Puteri Jia mengangguk, "Terima kasih kakak Chen." katanya dengan perasaan senang. "Waktu itu aku hanya iseng saja, tak kusangka kakak Chen benar-benar mendengarnya."
"Kalau tak mau buatku saja." Lin Yungtao.
"Senior Chen, ada yang mencarimu. Mereka sepuluh murid dalam." murid dapur datang melapor.
"Benarkah? wah kebetulan sekali kalau begitu. Adik Jia, boleh kupinjam sebentar?" Ye Chen mengulurkan tangannya, meminta belati.
"Saudara Chen, jangan menambah musuh lagi, kau bisa kena hukuman lebih berat nanti." kata Lin Yungtao mengingatkan Ye Chen.
"Aku tidak akan membunuh, tenang saja, lebih baik doakan supaya mereka menyerang ku," kata Ye Chen lalu berpaling ke puteri Jia. "Adik Jia, akan kutunjukkan satu teknik belati padamu, bukankah kau ingin berlatih teknik belati?"
"Iya kakak Chen." kata puteri Jia yang sudah tidak terlalu malu lagi.
"Kalau begitu ayo."
Di depan pintu masuk dapur, sepuluh orang murid dalam berdiri menunggu, salah satu dari mereka berkata angkuh ketika melihat Ye Chen datang. "Apakah kau yang dipanggil senior Chen?"
Ye Chen tersenyum, "Kalau memang iya kenapa?"
"Maka kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, sekarang ikut kami."
"Kalau aku tidak mau?" tanya Ye Chen yang memang mau mencari masalah.
Wakil murid dalam itu mengernyit, Anak ini harus diberi pelajaran, pikirnya. "Kami akan menyeretmu kalau begitu."
"Hahaha menyeretku? coba saja."
Mendengar ucapan Ye Chen, salah satu dari murid dalam tiba-tiba melesat maju, memukul Ye Chen dengan penuh amarah.
Tapp...
Ye Chen menangkan kepalan tangannya lalu balas memukul perutnya.
Bugg...
"Hais murid dalam. ck ck ck apanya yang murid dalam? mugkin maksudnya dalam tempat sampah."
"Kurang ajar!" kali ini dua orang maju sekaligus, menyerang Ye Chen yang masih berdiri di tempatnya, sambil memegang tangan murid pertama tadi.
Kyaaa...
Ye Chen melempar murid pertama tadi hingga menabrak dua murid yang bergerak.
"Murid dalam memang hebat, gerakannya sangat ringan hahaha...." Ye Chen terus memprovokasi, Ia ingin para murid dalam itu mencabut senjata. "Tangan kalian terlalu lembek."
Pancingan Ye Chen berhasil, beberapa murid dalam terlihat mencabut pedang. "Oh mau main pedang-pedangan? apa tidak takut terluka? ingat, kulit kalian itu terlalu lembut huahahaa."
Ye Chen tersenyum, perlahan Ia mengambil belati putih yang Ia simpan di balik bajunya. "Saudara Chen jangan memotong tangan kaki dan yang lain." melihat senyum Ye Chen, Lin Yungtao yang berdiri tak jauh dari sana mengirim pesan suara.