Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ruang Gelap


"Tuan Ye, apa anda yakin?" penatua Xiao dan yang lain sangat khawatir dengan rencana Ye Chen. Di luar sana puluhan ribu kultivator kuat, mungkin Ye Chen juga sangat kuat tapi mustahil mengalahkan mereka seorang diri.


"Tuan Ye, semua persiapan sudah siap." Baojing masuk dan melapor, Ia sudah menanam ribuan artefak sesuai rencana sebelumnya. "Baik, saatnya pergi. Ingat baik-baik, jangan pernah ada yang keluar." Kata Ye Chen sambil memperingatkan yang lain.


Ye Chen keluar melalui portal lain yang Ia buat, tidak sulit menentukan kemana Ia akan pergi karena ia mengenal setiap inci desa.


"Kenapa hanya saudara Baojing yang ikut keluar? apa kita tidak cukup kuat untuk membantu tuan Ye?" kata panglima Du seolah berbicara pada diri sendiri.


"Entahlah tapi memang saudara Baojing sangat kuat, apa anda tau sebelumnya di adalah tetua luar dari sekte terbesar di tempat asalku." kata penatua Xiao yang mendapat anggukan dari yang lain.


Sementara itu Ye Chen mulai melayang menggunakan pedang hitamnya. Sama seperti sebelumnya, Ia langsung melayang di atas pemukiman musuh. Tapi ada yang berbeda, yakni tehnik yang digunakannya lebih hebat setingkat. Kalau sebelumnya bola api kecil akan langsung turun dan menyerang apa saja yang ada di bawah, kali ini api kecil itu lebih terarah, langsung menembus bagian tubuh musuh.


Kali ini tak ada mendung seperti waktu menggunakan tapak semesta di wilayah Ye karena tidak Ye Chen tidak menggunakan energi dingin melainkan menggunakan energi panas agar kontrol Qi lebih mudah.


Cuaca dengan cepat berubah menjadi sangat panas, dan bertambah lagi ketika titik-titik api kecil mulai muncul di langit.


"Cepat! mana kelompok formasi, aktifkan perisanya sekarang." Teriak seorang pria berjubah hitam bertudung merah. Ia adalah pemimpin dari pasukan.


"Tuan Merah, persiapan selesai." lapor seorang penjaga yang mulai kepanasan.


"Aktifkan!!" teriak si tudung merah.


Wungg...


Aray pelindung tercipta, puluhan ribu orang orang langsung terlindung, bebas dari ancaman panas yang menyiksa.


Tudung merah tertawa keras, "Tunggu sampai dia kehabisan tenaga, tehnik itu butuh energi yang sangat besar." katanya sambil tersenyum.


Ye Chen hanya tersenyum melihat ini, "Tidak perlu susah-susah kalau begitu hehe." katanya lalu membuat segel tangan dan...


Blarr...


Blarr...


Ledakan keras terdengar susul-menyusul, artefak api yang Baojing tanam bereaksi dengan segel Ye Chen disusul dengan teriakan kesakitan yang terus bergema.


Tudung Merah panik. "Cepat! mana kelompok formasi, buka segelnya." Teriaknya mulai panik. Kalo segel dibuka, mungkin akan ada kesempatan untuk kabur, daripada seperti daging yang direbus dalam api, tak bisa kemana-mana.


"Maaf tuan penjaga pilar di luar telah tewas semua." kata kelompok formasi yang membuat tudung merah kehabisan kata-kata lalu jatuh terduduk "Tuan Sumo, maafkan aku." ucapnya sambil terus menatap Ye Chen dengan penuh kebencian.


Ye Chen saat ini telah turun, Ia berjalan pelan sambil menyeret pedangnya di tanah dan menimbulkan percikan api saat bersentuhan dengan batu dan kerikil tanah.


Tanpa kesulitan sedikit pun Ia masuk melewati segel pelindung, tapak Qi sudah Ia hilangkan, karena akan percuma juga karena musuh memiliki pelindung. Ye Chen terus melangkah masuk sampai ke tengah pasukan musuh. Dari sana, Ia mengangkat tangannya, kembali memunculkan api kecil yang melesat langsung menembus tubuh musuhnya sampai tewas.


Ye Chen kembali memastikan semuanya tewas, setelah selesai mendeteksi, Ia memanggil Baojing.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Baojing memapah Ye Chen yang jatuh tersungkur karena kehabisan energi dan karena pengorbanan sebentar lagi akan aktif, kalau tidak ada masalah, maka sebentar lagi Ia akan tertidur untuk memulai proses menjadi raja Iblis sejati.


"Jangan ada yang naik ke sini." ucap Ye Chen sebelum pingsan.


...


Di sebuah dimensi, tiga raja Iblis kembali bertemu. "Jadi tidak ada yang berhasil? he sudah kukatakan, kalian terlalu meremehkan anak itu."


"Kau benar Mema. Ah kurang ajar!" kata Youpi gusar.


"Apa rencanamu?" tanya Mema lagi.


"Akak kuhancurkan desa itu, dia pasti masih ada di sana." kata Youpi.


Mema menggeleng pelan. "Itulah kenapa aku mengatakan kau tidak berguna. Kalau bisa kesana, untuk kita masih di sini?" katanya dengan gusar.


"Andausaja si Yeming itu tidak mmeberikan kunci itu." kata Sumo.


"Tak usah berandai-andai, pikirkan saja bagaimana kita bisa merebut kunci itu di tangannya" bantah Youpi yang mulai sadar dan tidak terburu-buru.


"Begini saja, kita tunggu anak itu, cepat atau lambat dia pasti akan menemui kita." kata Mema lalu pergi.


"Cih seenaknya saja, memang dia pikir dia siapa? heh Youpi, bagaimanan menurutmu si Mema itu?"


"Mema? memang ada apa dengannya." balas Youpi seperti orang kebingungan.


"Bodoh! memang tidak salah, di antara kita semua kaulah yang paling bodoh." balas Sumo lagi dengan kesal. "Apa kau merasa Mema menyimpan sesuatu?" lanjut Sumo lagi.


"Tidak." jawab Youpi singkat.


"Hais kau ini, dengar, pertama dia tidak berusaha mencari jejak kunci portal, kedua dia juga tidak membawa orangnya menyerang anak itu dan ketiga, lihat cara bicaranya, seperti pemimpin saja."


Youpi diam, benar juga pikirnya. Lalu ia berkata kepada Sumo. "Sebenarnya aku pun sama, kadang melihat ada yang aneh tapi tidak mengatakannya karena merasa itu tidak benar."


"Sebaiknya kau berhati-hati, perhatikan dia baik-baik jangan sampai merugikan kita." kata Sumo lagi lalu pergi, dari sudut bibirnya terlihat senyuman, entah apa yang Ia pikirkan.


...


Di dalam ruang yang sangat gelap, Ye Chen terbangun. "Dimana ini? apa aku sudah mati?" katanya sambil mengerjapkan matanya, mencoba menembus gelap.


"Terlalu gelap, tanganku saja tidak terlihat." gumam Ye Chen sambil mengangkat sebelah tangannya.


Ye Chen lalu mencoba melangkah, setapak demi setapak tapi duduk kembali karena Ia juga tak tau arah mana yang akan ia ambil.


"Ini sebenarnya tempat apa!?" Ye Chen mulai frustasi, berbicara sendiri dan berteriak-teriak seperti orang tidak waras. Bukan itu saja, bahkan Ia mulai memaki, memukul, menendang sampai tenaganya habis dan terkulai pingsan.


Tak ada pil pemulih ataupun pil lainnnya dan entah sudah berapa lama Ia berada di ruangan itu, sambil terus melakukan hal yang sama. Sampai suatu saat dimana ia tak bisa bersuara lagi, saat dadanya mulai terasa sesak karena amarah dan dendam yang Ia sendiri tidak dari mana datangnya.


Ye Chen secara tak sengaja menyentuh cincin dimensinya, memang di sana tidak ada cincin tapi rasanya Ia ingat sesuatu. Ye Chen memejamkan matanya, samar-samar mulai terlihat orang-orang yang Ia kenal.


"Tuan, bertahanlah...." Baojing yang menjaga tubuh fisik Ye Chen berulang kali mengatakan hal yang sama, sudah sehari berlalu sejak Ye Chen tidak sadar dan belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman.