Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kota Kenanga


Tanpa menunggu lama, Ye Chen melesat keluar aula di ikuti yang lain.


Di luar, di langit desa Bunga, tampak siluman Angsa Pelangi terbang perlahan mengelilingi desa. Di atas punggungnya, Song Fei duduk dengan tenang.


Melihat Ye Chen, siluman Angsa Pelangi menukik turun dan berdiri disampingnya.


"Tuan muda...." sapa Song Fei sembari melompat turun dari punggung siluman Angsa Pelangi.


"Bagaimana lukamu, apa sudah tidak apa-apa?"


"Aman tuan...." jawab Song Fei tersenyum kecil.


"Cantik...." batin Ye Chen tertegun sebentar dan menghampiri siluman Angsa Pelangi.


"Kau sudah sembuh, bulumu sangat halus." puji Ye Chen sambil mengelus lembut siluman Angsa Pelangi yang langsung berteriak-teriak senang seolah mengerti perkataan Ye Chen.


"Bolehkah aku naik?


Siluman Angsa Pelangi menunduk sedikit membiarkan ye Chen naik, dan melesat cepat.


"Haha.. ayoo lebih cepat lagi!" teriak Ye Chen.


"Uwaaah hebaat kau sangat cepat."


Ye Chen berteriak-teriak seperti anak kecil. Kalau sudah begini, hilang sudah wibawanya.


...


"Nona Song, siluman Angsa Pelangi kuberikan padamu. Pergilah ke benua Timur, ke kekaisaran Ye. Temui panglima muda Du, katakan aku yang menyuruhnya datang," kata Ye Chen lalu melanjutkan lagi bahwa panglima Du akan memberitahumu arah ke desa Ye.


Song Fei tampak enggan berpisah tapi Ye Chen berpikiran lain, tidak boleh terlalu lama dekat dengannya, takutnya hal yang tidak di inginkan terjadi.


Pesona Song Fei kadang sulit Ia tolak.


Ye Chen memberikan sisa kantung penyimpanannya, berikut tehnik formasi pembuat kantung penyimpanan.


Untuk biaya perjalanan, Ye Chen hanya mengambil seratus keping emas sedangkan sisanya Ia berikan semua.


"Nona Song tinggallah di sini terlebih dahulu, tingkat kultivasimu sangat rendah untuk perjalanan jauh." lanjut Ye Chen sembari memberikan pil kultivasi.


"Kapan tuan muda kembali?"


Ye Chen hanya tersenyum dan berkata, "sampaikan salamku pada kakek Song. Secepatnya aku pasti kembali."


...


"Tuan muda, bukankah anda masih bisa menggunakan Rajawali untuk terbang bersama Saudara Song Fei. Kenapa anda lebih memilih membiarkannya pergi sendiri?" Chu Xiong bertanya heran, bahkan Rajawali jauh lebih cepat dan kuat jika dibandingkan dengan Angsa Pelangi.


"Nona Song."


Chu Xiong kaget mendengar keterangan singkat Ye Chen. "Jadi maksud anda, Song Fei adalah seorang wanita? bukan pria?"


Ye Chen mengangguk. "Aku juga baru tau, dan alasan tidak pergi bersamanya? kurasa kau paham maksudku."


Chu Xiong mengangguk mengerti, mungkin sesuatu terjadi di antara mereka pikirnya. Melakukan perjalanan bersama seorang wanita tidaklah terlalu merepotkan apalagi ada dirinya dan tuan muda.


Sepeninggal Ye Chen dan Chu Xiong, Song Fei termenung seorang diri di pinggir kolam taman.


"Mungkinkah tuan muda membenciku, atau tidak suka padaku?" batin Song Fei. Matanya menatap Angsa Pelangi yang bermain di atas kolam.


Song Fei yang masih dalam penyamarannya sebagai seorang pria mendesah pelan, membuang jauh-jauh pikirannya tentang Ye Chen.


Menyimpan baik-baik kantung penyimpanan yang berisi surat untuk panglima Du dan kakek Song.


Ia mulai fokus berkultivasi menggunakan sumber daya yang Ye Chen tinggalkan.


...


Ye Chen dan Chu Xiong memasuki sebuah kota kecil, dari sini masih membutuhkan satu minggu perjalanan menuju kota besar.


"Tuan muda setelah kota ini kita akan memasuki kota Kenanga, setelah di sana kita bisa menyewa angkutan udara untuk pergi ke tujuan selanjutnya."


Beristirahat sebentar, Ye Chen dan Chu Xiong melanjutkan perjalanan kembali. Memasuki hari kelima mereka akhirnya tiba di gerbang kota Kenanga. Salah satu besar terluar di benua Barat.


"Sepuluh keping emas untuk dua orang dan tunggangan." ucap penjaga gerbang kota Kenanga mengadang Ye Chen.


Ye Chen mengacuhkan penjaga dan bertanya pada Chu Xiong, "Apa memang harga masuknya semahal ini?"


Meskipun para penjaga ini masih berada di tingkat Perak tapi tetap saja Chu Xiong tidak berani gegabah, Ia hanya berbisik. "Paling mahal hanya satu keping emas dan sepuluh perak untuk hewan tunggangan."


"Mau memerasku, jangan harap." gumam Ye Chen lalu menghampiri penjaga, memegang pundak penjaga dan meremasnya menggunakan tehnik cakar Naga.


Kraakk...


Suara tulang retak terdengar.


"Berani kau melawan penjaga! apa ka... arghh!"


Belum selesai ucapan penjaga, hawa yang sangat dingin tiba-tiba saja memasuki tulangnya yang retak.


Tidak kuat menahan lagi, penjaga ini melambaikan tangannya menyuruh Ye Chen masuk.


"Terima kasih," ucap Ye Chen tersenyum kecil. "Ayo masuk, kita cari makan dulu."


Chu Xiong tersenyum kecut, Ia tau penguasa kota ini tidak akan tinggal diam. Pemimpin kota saja kultivasinya di tingkat Langit awal, belum lagi pelindung kota yang kabarnya ada di tingkat Langit tinggi.


"Tuan muda, anda terlalu berani." Tentu saja kata ini hanya Chu Xiong ucapkan dalam hati. Entah apa yang terjadi nanti pikirnya.


"Jangan takut, siapa suruh mereka memerasku. Aku juga tidak keberatan memisahkan kepalanya hehe...." Ye Chen berjalan santai sambil menuntun kudanya, seolah tidak terjadi apa-apa.


Ye Chen sangat senang begitu sampai di depan rumah makan. "Apa betul ini restoran terbaik di sini?"


"Jangan kuatir, aku menjamin tuan muda pasti puas dengan hidangan di sini," ucap Chu Xiong lalu mengambil siluman Kuda tunggangan mereka ke bagian belakang rumah makan.


Begitu masuk ke dalam lagi, Chu Xiong kaget dan mempercepat langkahnya. "Hais tuan muda ini, ditinggal sebentar sudah membuat masalah lagi."


"Eh Chu Xiong, coba liat pelayan ini, apa salah kalau aku memesan banyak hidangan?" tanya Ye Chen tanpa menoleh, tangannya mencekik leher pelayan.


"Tuan muda... tolong lepaskan pelayan itu, duduklah dulu biar aku yang memesankan hidangannya." kata Chu Xiong.


Chu Xiong mengikuti pelayan yang berjalan di depan dengan muka pucat, sesekali terlihat pelayan ini menggigil. Dalam hati tentu Ia sangat menyesal meragukan permintaan Ye Chen saat memesan hidangan tadi.


"Tuan muda, sebaiknya kita mengganti pakaian yang pantas, lihatlah baju tuan muda penuh debu begini." Chu Xiong menyadari kesalahpahaman ini, pasti pelayan tadi mengganggap Ye Chen tidak bisa membayar hidangan yang Ia pesan.


"Kalau sudah biasa menindas, apapun alasannya, pasti akan Ia lakukan lagi jika ada kesempatan. kata Ye Chen yang mau tidak mau disetujui Chu Xiong.


Mereka lalu naik ke lantai dua restoran yang juga menyewakan tempat untuk bermalam.


Di tempat lain, komandan keamanan kota menerima laporan dari kepala penjaga gerbang kota. "Komandan, anak buahku hanya bertanya tujuan mereka ke kota ini tapi mereka malah menyerang dan melukainya." Lapor kepala penjaga yang menyembunyikan kejadian sebenarnya.


"Benarkah...?"


"Tentu saja, mereka bahkan membuat onar lagi di rumah makan. Seorang pelayan terluka."


"Bawa aku ke sana!" Tidak main-main, kali ini kepala keamanan kota membawa sepuluh pengawal untuk menangkap Ye Chen.


Entah apa yang terjadi jika mereka bertemu Ye Chen nanti.