
Hampir satu bulan penuh Ye Chen mengobati kaisar, mulai dari merendamnya di bak air yang penuh tanaman herbal sampai membuatkannya pil pemulih untuk luka bagian dalam.
Kondisi kaisar saat ini sudah mulai membaik, Ia sudah mulai bisa berbicara sedikit.
Bintik-bintik merah di tubuhnya juga sudah hilang. Ye Chen yang memang tidak memperbolehkan siapapun untuk melihat kaisar benar-benar mencurahkan semua pengetahuannya. Hanya Lu Ping dan panglima Cia saja yang sesekali datang berkunjung, itupun hanya melihat kaisar dari balik tirai saja.
Ye Chen sendiri saat ini tinggal di gedung dekat istana kaisar, agar lebih mudah mengontrol keadaan kaisar dan dua hari yang lalu Ye Chen untuk pertama kali mengijinkan kaisar dikunjungi.
Suatu hari saat Ye Chen kedatangan pengunjung lain, mereka adalah Ma Dong dan Gu Xia.
"Senior, haha lama tak bertemu. Tidak pernah kuduga kau bisa menyembuhkan kaisar." sapa Ma Dong.
Ye Chen tidak menggubris Ma Dong Ia malah bertanya pada Gu Xia. "Bagaimana keadaan ayahmu? apa sudah sembuh dari lukanya?"
"Belum kak Chen," jawab Gu Xia. "itu salah satu alasanku datang ke sini, ayah mengundangmu ke paviliun kalau kau ada waktu."
"Lalu alasan lain? apa kau rindu padaku hehe...."
Gu Xia tersipu malu karena pertanyaan ini dan Ye Chen yang tidak mau ada salah paham lagi cepat-cepat memberikan satu botol pil kepada Gu Xia. "berikan ini pada ayahmu, kuharap ini bisa membantu menyembuhkannya dan yang lain."
"Terima kasih."
"Bagus yah, kalian mengacuhkanku? apa kau kira aku ini patung?" gerutu Ma Dong.
"Kak Chen, aku datang."
"Saudara Chen, lama tak bertemu."
Lu Jiao, Lu Jia Li dan Cia Sun juga datang menyapa. "Hampir sebulan tidak bertemu, apa kau baik-baik saja kak Chen?" kata Lu Jia Li.
"Tentu saja aku baik. Oh ya saudara Cia, apa sudah kau temukan benda itu?"
"Tentu saja, apa kau mau melihatnya?"
Cia Sun mengeluarkan Lima pedang berwarna putih terang dari cincinnya, "Coba lihat, apa ini cocok?"
Ye Chen mengambil dan memeriksa pedang, "tiga ini cocok tapi yang dua ini masih kurang tebal dan lebar."
"Benarkah?" Cia Sun lalu membandingkan dua pedang dengan yang lain dan membenarkannya. "Tunggu dua hari lagi kalau begitu."
"Sebenarnya ini ada apa? kenapa kalian menyembunyikannya pada kami." Lu Jiao tampak tidak begitu senang dengan pembicaraan Ci Sun dan Ye Chen.
"Tunggulah nanti," kata Ye Chen. "Kau sendiri akan tau sendiri. Sekarang ayo kita keluar, sudah cukup lama aku tidak pernah makan ayam hutan bakar."
"Tuan Chen, anda diminta segera ke istana, kaisar tiba-tiba saja pingsan."
"Tunggu sebentar, adik Xia, kau kembalilah dulu, berikan pil itu pada ayahmu. Untuk selanjutnya dia pasti sudah tau."
"Cia Sun, urusan benda itu lebih cepat lebih baik."
"Adik Jia Li, ini pil Bumi untukmu. aku rasa sudah saatnya kau ke tahap menengah."
"Adik Jiao, Ini gulungan tehnik Pedang Bidadari, aku menggubahnya sedikit, kurasa kau bisa menguasainya dalam tiga hari."
"Ma Dong, hehe... bisa tolong carikan ayam hutan muda? kurasa di hutan sebelah barat masih banyak."
"Sial kenapa hanya aku yang tugasnya tidak penting dan aneh," gerutu Ma Dong. "Yang lain berlatih, berkultivasi, masa aku cari ayam?"
"Kan kau memang paling hebat berburu." sahut Gu Xia.
"Hah apanya yang hebat? cuma ayam hutan saja."
"Sudahlah, nanti aku bantu. Tunggu aku di luar tembok." kata Cia Sun.
Merekapun berpencar menjalankan tugas masing-masing.
"Ye Chen, cepat sini." Lu Ping yang sangat kuatir dengan keadaan kaisar memanggil dengan tidak sabar.
"Tenanglah kakek Lu, kaisar tidak apa-apa itu reaksi tubuhnya dengan pil yang aku berikan. sebentar lagi juga bangun."
Benar saja belum lama setelah Ye Chen berkata demikian, kaisar terbangun dari pingsannya.
"Anak Chen apa itu kau?" tanyanya.
"Jangan banyak bergerak berbicara dulu, anda harus menunggu sampai rasa sesak di dada anda hilang." ucap Ye Chen lalu pamit mengundurkan diri.
Di luar ruangan, panglima Cia yang menunggu Ye Chen keluar segera menghampiri Ye Chen, "Saudara Chen, kira-kira berapa lama sampai kaisar sembuh, atau paling tidak bisa keluar dari kamarnya?"
"Belum, memang ada apa?"
"Seperti yang aku bilang, dalam dua hari ini kalau keadaan kaisar membaik kita bisa melakukan pengobatan terkahir tapi aku butuh ketua Gu untuk menemaniku."
Ye Chen berpikir sejenak, "Um... panglima, apa ada tanda-tanda gerakan yang anda ceritakan sebelumnya?"
"Jangan di sini, sebaiknya kita ke kediaman saudara Lu Ping." ajak panglima Cia.
Setibanya di kediaman Lu ping.
"Itulah sebabnya aku bertanya kapan kaisar bisa tampil di muka umum."
Kaisar terlalu lama berada di tempat tidur, akibatnya adalah roda pemerintahan berjalan lambat.
Tidak adanya orang yang bisa mengambil keputusan membuat semua pihak mementingkan kepentingannya sendiri.
Hal inilah mendorong ketidakpuasan salah satu pihak yang akhirnya timbullah perpecahan.
"Semoga saja rencanaku berjalan mulus, sehingga kaisar bisa sehat kembali." kata Ye Chen lalu pamit dengan alasan ingin menemui ketua Gu saja.
"Panglima Cia dan kakek Lu sepertinya merahasiakan sesuatu." gumam Ye Chen. "Tak apalah lagipula bukan urusanku.
Di paviliun Teratai.
"Ketua Gu, kita bertemu lagi." sapa Ye Chen.
Ketua Gu Liang yang merasa tidak enak sejak pertemuan terakhir mereka berusaha melupakan kejadian itu dengan menyambut ramah kedatangan Ye Chen.
"Silahkan saudara Chen, silahkan masuk kita bicara di ruanganku saja."
"Jadi begitu ketua Gu." kata Ye Chen menyampaikan maksud kedatangannya.
"Baik aku mengerti."
Ye Chen tidak berlama-lama di paviliun Teratai, Ia langsung pamit begitu mendengar ketua Gu bersedia membantunya.
Ketua Gu Liang mengantar Ye Chen sampai ke depan gedung dan berterima kasih karena berkat pil yang Ye Chen berikan, Ia dan anggotanya telah sembuh.
Seminggu kemudian Ye Chen dan ketua Gu Liang bersama-sama mengobati kaisar.
"Ketua Gu, cukup tekan dan tahan tiga titik di bawah perut, tengah perut dan atas perut. sesuai apa-apa dariku."
Ye Chen lalu menempelkan telapak tangannya di dada kaisar.
"Qihai...."
"Zhongwan...."
Ketua Gu dengan cekatan menekan titik yang Ye Chen katakan.
Sementara Ye Chen memberikan sebuah pil pada kaisar tepat setelah titik Zhongwan ditekan. Ia lalu membalik tubuh kaisar dan menempelkan telapak tangannya di titik weishu sambil meminta ketua Gu menekan titik terakhir di atas perut.
Hueekk...
Kaisar memuntahkan segumpal darah hitam pekat. "Kita istrahat dulu." kata Ye Chen duduk lemas di lantai, keringat membasahi semua bajunya.
"Feng-men...."
"Fei-Shu...."
Pengobatan tahap keduapun dilanjutkan, ketua Gu yang seorang alkemis tentu tidak asing dengan titik di belakang kepala yang Ye Chen katakan.
Ye Chen mendorong telapak tangannya yang berada di dada kaisar ke atas. Lalu menempelkan telapak tangannya yang lain di titik meridian di bawah pusar.
"Semuanya tahan nafas!" teriak Ye Chen bersamaan dengan uap hitam yang keluar dari mulut dan hidung kaisar.
"Jiao'er, putriku...!"
"Eh, ada apa...?" Ye Chen bertanya dengan suara lemah.
"Entahlah sepertinya Ia tidak menghirup sedikit racun dari uap itu." Ratu berkata sedih sambil memangku Lu Jiao.
"Hais merepotkan saja." ucap Ye Chen dalam hati, tentu saja Ia tak mungkin mengucapkan ini.