Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Penatua Xiao Mendatangi Desa Ye


Sungguh di luar perkiraan semua orang, bahkan pengrajin Mingdi yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh Ye Chen saja tidak tau detail yang akan terjadi.


...


Penatua Xiao mulai berjalan, menyusuri tempat dimana Ia jatuh, sampai kemudian tibalah Ia di sebuah pemukiman. Suasananya tidak terlalu ramai, mungkin karena letaknya yang cukup terpencil.


Dari keterangan penduduk di sana, daerah itu bernama desa Bunga. Berada di sisi terluar dari benua Barat. Ia berasumsi bahwa sekarang Ia berada di alam rendah, karena merasa energi Qi yang biasa kultivator butuhkan lebih sedikit dari yang ada di alam tempatnya berasal.


Baru berjalan tidak terlalu jauh meninggalkan desa Bunga, penatua Xiao dikejutkan dengan suara teriakan kesakitan dan tak lama kemudian berhenti. "Apa yang terjadi?" ucapnya lalu berbalik arah dan berlari kembali ke desa Bunga.


"Ini tidak mungkin, baru saja mereka... ah kejam sekali." kata penatua Xiao tak percaya, di depannya, puluhan tubuh bergelimpangan bersimbah darah, tewas. "Ini pasti perbuatan manusia." gumamnya sambil terus memeriksa, mungkin masih ada yang bisa Ia selamatkan. Sayangnya tak ada yang selamat.


Akhirnya penatua Xiao menyerah, Ia membuat sebuah lubang besar dan mengubur mereka semua, tak tega jika ada binatang buas yang mengganggu mereka.


Penatua Xiao melanjutkan perjalanan, suatu hari sampailah Ia di ibukota benua barat di kekaisaran tapi yang ditemuinya sama seperti di desa Bunga, semua hancur dan tak sedikit yang tewas terbunuh.


"Tuan, tuan mau kemana?" tanya seorang yang berada dalam rombongan yang hendak meninggalkan ibukota.


Bukannya menjawab, penatua Xiao malah bertanya balik, "Apa yang terjadi di sini dan kemana kalian akan pergi?"


Orang itu menjawab bahwa beberapa hari yang lalu, muncul manusia berjubah hitam, jumlah sangat banyak dan kuat, bahkan kekaisaran juga tak sanggup mengalahkannya dan akhirnya hancur. "Tempat ini sudah tidak aman, ditambah lagi penjahat-penjahat yang memanfaatkan situasi yang sedang kacau."


Ia terdiam sebentar lalu melanjutkan lalu mengatakan akan pergi ke benua Utara karena di sana tidak ada kemelut seperti di daerah lain.


"Wilayah lain?" tanya penatua Xiao.


"Tampaknya anda belum lama turun gunung," kata orang itu yang cukup heran penatua Xiao tidak tau semua berita. "Bahkan dua kekaisaran di wilayah timur juga hancur. Orang-orang berjubah itu seperti mesin penghancur, tak ada tempat yang selamat setelah mereka melewatinya."


"Kenapa hanya wilayah Utara yang aman?" apa anda tau sebabnya?"


Orang itu kembali mendesah, "Aku juga tidak tau, tapi memang begitulah kenyataannya. Oh ya ada lagi, ada satu daerah yang menurut kabar juga aman, letaknya di benua tengah. Sayangnya mereka menutup dan tidak menerima siapapun masuk."


"Desa Ye...." gumam penatua Xiao, "Apakah..., maaf seberapa jauh desa Ye dari sini?" Penatua Xiao menjadi semakin penasaran mendengar nama desa Ye, Ia berasumsi mungkin ada hubungannya dengan Ye Chen, seperti wilayah Ye.


"Jalan terdekat adalah dari ibukota kekaisaran, dari sana langsung ke wilayah timur lalu benua tengah."


"Baik, terima kasih. Aku doakan semoga anda selamat dalam perjalanan." kata penatua Xiao tulus. Ia melanjutkan perjalanan kembali menuju bagian timur dari pusat kota.


"Benar-benar hancur, orang berjubah itu bahkan mengacau sampai ke sini." batin penatua Xiao sambil melihat pemandangan dari atas udara. Ia duduk di atas pedang terbang.


Tentu saja Ia bisa menggunakan pedang terbang sendiri, Ia berasal dari alam yang lebih tinggi ditambah Ia juga seorang tingkat Suci tahap menengah yang belum lama ini naik ke tahap tinggi.


Desa Ye.


Ketua Song ditemani Qin Gang dan yang lain tampak sedang berdiskusi di aula utama. Di sana hadir juga panglima muda Du yang berhasil lolos ketika orang berjubah hitam menyerang kekaisaran.


"Aku penasaran, kenapa hanya benua utara saja yang aman. Apakah mereka dalang dibalik ini semua?" kata ketua Song.


"Aku rasa tidak, meskipun yang pertama pulih dari perang besar tapi tidak mungkin mereka memiliki petarung tingkat Suci dalam jumlah banyak." kata panglima Du.


Seperti diketahui, petarung tingkat Suci yang dimiliki kelompok berjubah hitam sangat banyak, itulah sebabnya setiap wilayah yang mereka serang semuanya hancur tanpa perlawanan yang berarti.


Kekuatannya sangat jauh jika dibandingkan dengan kekuatan di semua benua, satu berbanding sepuluh.


"Tunggu, apa kalian merasakannya?" ketua Song tiba-tiba berhenti dan memandang yang lain.


"Sepertinya ada yang bertempur di luar, mungkin orang-orang itu mulai menyerang lagi. Ayo, kita keluar, ingat, jangan mendekat." kata ketua Song lalu keluar diikuti yang lain.


Sementara di luar terjadi pertempuran hebat, lubang-lubang besar bekas hantaman pukulan banyak terlihat. Terlihat seorang pria dikeroyok beberapa orang.


Pria yang tak lain adalah penatua Xiao ini berjuang mati-matian dari gempuran musuhnya, untung saja yang mengeroyoknya tidak berada di tingkatan yang sama. Hanya lima orang saja tingkat Suci tahap awal dan lima lagi tingkat Langit tahap puncak. Meski begitu, tidak gampang untuknya untuk segera merobohkan lawannya, ditambah lagi Ia baru saja melakukan perjalanan jauh.


"Kalian tak akan bisa lari dari sini." ucap penatua Xiao geram, Ia baru berhasil merobohkan satu tingkat Suci, lima tingkat Langit lainnya sudah Ia bereskan dari awal. "Sial, kalau saja mereka tak menyerang dan bertahan bersama, mungkin aku bisa merobohkan satu lagi." batin penatua Xiao, Ia sudah berusaha menargetkan salah satu dari lawannya, mengejarnya, tapi kawannya segera melindunginya.


"Kalau saja aku bisa mempelajari tehnik tuan Ye sampai tuntas, mungkin aku bisa menyelesaikan ini." batinnya lagi, Ia ingat dulu pernah ikut belajar Tehnik Tapak Jiwa bersama yang lain, tapi karena Ia bukan lagi bagian wilayah Ye, maka Ia tak bisa menamatkannya.


Lagipula penatua Xiao ini adalah seorang alkemis, dengan kata lain, Ia lebih memperdalam ilmu alkimia bukan tehnik sebagai kultivator.


"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Yun yang baru saja datang.


"Oh nona Xiao, lihat di sana," yang menjawab adalah Cia Sun. "Orang ini sangat hebat, mampu menandingi lima tingkat Suci."


Degg...


Entah kenapa Xiao Yun berdebar ketika melihat penatua Xiao, seperti melihat orang yang sudah lama Ia kenal dan baru bertemu kembali.


"Siapa orang tua itu?" ucapnya dalam hati, lalu tanpa pikir panjang, Ia mengeluarkan busurnya dan membidik lawan penatua Xiao.


Sleeb...


Dua anak panah Qi melesat cepat di tengah pertarungan, langsung mengarah tepat di dada dua orang lawan penatua Xiao.