Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Mengikuti Kelas Akademi


Ye Chen memberikan satu pil kepada Giro dan yang lainnya Ia gunakan untuknya sendiri. Pil yang dibuat dari inti raja Iblis hanya ada dua dan Ye Chen tidak berani memberinya kepada yang lain, takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


Krrrt... Braakk...


Kediaman yang baru jadi itu tak sanggup menahan dua kekuatan besar yang baru saja terlahir, yang satu adalah Giro yang menerobos sampai ke tingkat Dewa tahap awal dan yang lainnya adalah Ye Chen yang kekuatannya meningkat pesat.


"Giro, kau harusnya bisa mengontrol kekuatanmu saat menerobos."


"Bukan aku, tapi tuan yang tidak bisa mengontrolnya." sahut Giro yang tak mau disalahkan sendiri.


"Ah lama-lama kau jadi sering membantahku, lebih bagus dulu saat masih berupa potongan jiwa." gerutu Ye Chen.


"Hehe," Giro hanya terkekeh kecil melihat Ye Chen. "Oh ya tuan, pembangunan ini sepenuhnya ditanggung kepala Ruo, katanya ini semua adalah hadiah dari aliansi dagangnya."


"Kalau begitu, sini kembalikan uangku. eh, eh kenapa kau mengambilnya lagi?" kata Ye Chen saat melihat Giro membagi harta di cincin penyimpanan.


"Anda lupa? bangunan itu rubuh karena tuan dan kita perlu membeli perlengkapan lain dan satu lagi, aku juga butuh untuk biaya sendiri."


"Tapi aku ini mau kembali ke akademi." bantah Ye Chen.


"Justru itu tuan, di sana kan makanan, tempat tinggal, semua gratis. Kalau kurang, ya tinggal ambil misi saja kan beres."


"Kau... hais sudahlah, lebih baik aku pergi saja." Ye Chen ini bukan sedang main-main, tapi Ia serius kesal karena tidak dikasih uang lebih. "Apanya yang dibagi dua, ini bahkan tidak ada seperempatnya." keluh Ye Chen setelah menghitungnya.


"Tuan, aku tadi memesan makanan campur-campur, anda bisa membawanya." kata Giro lagi. Mendengar ini, Ye Chen yang tadinya murung berubah menjadi bersemangat kembali.


"Apa kau menemukannya?" Ye Chen saat ini sedang bersama tetua Lan, di dapur akademi.


Ye Chen memberikan batu hitam, sebelumnya memang tetua Lan berpesan untuk mencarinya. "Lalu apa kau menemukan yang lain? selain kawanan Iblis-iblis itu?"


"Tidak ada yang lain, aku hanya malas saja untuk cepat kembali. Aku juga mengumpulkan beberapa inti siluman, kulit dan dagingnya." Ye Chen tidak berbohong, selain kawanan Iblis memang tidak ada lagi kecuali kawanan Iblis di lain dimensi.


"Ya sudah kalau begitu, ingat untuk tidak memberitahu siapa-siapa."


"Tetua, maaf tapi ini berat, aku susah payah mencarinya dan anda tidak memberi tahu apa-apa sudah begitu aku juga harus menjaga rahasia dan yang paling penting anda tidak memberi imbalan hehe."


"Kau memerasku?"


"Aku tidak bilang begitu." kilah Ye Chen.


"Katakan, apa yang kau inginkan." kata tetua Lan, Ia sudah siap, paling-paling Ye Chen menginginkan sumber daya atau pil kultivasi.


"Pertama aku ingin tau untuk apa batu hitam itu."


"Belum saatnya kau tau." sahut tetua Lan.


"Kedua ...


"Tidak ada yang kedua." potong tetua Lan cepat.


"Kau... hah cepat katakan."


"Hehe aku ingin akses ke perpustakaan akademi dan gudang sumber daya herbal."


"Apa kau sudah gila? kalau yang pertama tidak masalah tapi gudang herbal? untuk apa."


"Hanya melihat-lihat saja, atau biarkan aku yang mengurus gudang itu.


Karena tak ingin berlama-lama, akhirnya tetua Lan memberikan token khusus pengurus perpustakaan dan gudang herbal. Tak tanggung-tanggung , token itu adalah token miliknya sendiri, artinya Ye Chen adalah wakil tetua Lan. Ye Chen jadi bertanya-tanya sendiri, sebegitu pentingkah batu hitam itu?


Ye Chen banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan, dia penasaran dengan kata "pangeran" yang raja Iblis Sumo dan Baji sebutkan, dan yang paling penting lagi adalah memberi mereka (empat Iblis) kekuatan. Kalau benar adanya maka bisa dipastikan sosok ini jauh lebih kuat dari raja Iblis.


Inilah alasan sebenarnya Ye Chen meminta akses ke perpustakaan, untuk mencari informasi mengenai sosok ini dan akses ke gudang sumber daya untuk mencari bahan untuk membuat pil kultivasi.


Sayangnya Ye Chen tidak menemukan apa yang Ia cari, mungkin Informasinya terlalu berharga atau memang ditutupi. Pun begitu dengan gudang sumber daya, tak ada yang cocok untuk Ia gunakan.


Hari-hari berlalu seperti biasa di akademi, semua sibuk berlatih, entah itu formasi, alkemis atau yang lain. Ye Chen sendiri terpaksa harus ikut salah satu kelas. Sesuai aturan akademi, setiap murid wajib memilih salah satu kelas, dan Ye Chen memilih bidang Alkimia.


Tetua yang mengajar di kelas ini adalah seorang yang bergelar Alkemis Langit, tak ada yang lebih darinya di alam langit ini, paling tidak begitulah yang orang-orang katakan. Pria yang sudah berumur itu biasa dipanggil dengan nama tetua Sing.


"Hari ini, kita akan menghafalkan beberapa bahan untuk membuat pil," kata tetua Sing, Ia lalu membagikan sebuah buku berisi catatan berbagai macam sumber daya, terutama sumber daya herbal. "Kalian harus menghafalnya, kalau ada kesulitan, tanya pada senior kalian." lanjut tetua Sing, sambil menerangkan tentang isi kitab.


Tok tok...


"Maaf, aku baru mengambil kelas hari ini." Ye Chen masuk kelas.


"Terlambat, lebih baik tidak usah ikut. Keluar dan jangan datang lagu kalau masih terlambat." tetua Sing. "Baik." sahut Ye Chen lalu berbalik pergi begitu saja.


Awalnya tetua Sing berpikir Ye Chen akan meminta maaf dan menunggu di luar tapi Ia salah besar, Ye Chen sudah pergi. "Siapa anak itu? apakah ada yang mengenalnya?" tanyanya kepada murid yang lain.


"Kami juga baru melihatnya tetua."


"Mungkin murid luar tetua."


Sahut beberapa murid, "Ya sudah lanjutkan pelajaran kalian."


Sementara itu, Ye Chen yang ditolak di kelas Alkimia kembali mencoba di kelas Formasi, tapi hasilnya sama saja, Ia juga ditolak karena datang terlambat.


Saat Ia mencoba masuk ke kelas kultivasi, yakni kelas yang melatih teknik kepada murid-murid untuk menjadi kultivator yang kuat, kelas yang paling banyak diminati di akademi dan biasanya murid dari kelas lain akan mengambil kelas ini juga.


Kali ini tempatnya di ruang terbuka, di halaman belakang akademi.


Ye Chen melangkah lebar dan memberi salam. "Maaf aku baru bergabung hari ini, mohon bimbingan tetua dan saudara semua." ucapnya sopan.


"Oh murid baru yang datang terlambat," kata murid senior yang menjadi instruktur sementara. "Kebetulan kami sedang berlatih titik-titik lemah dari tubuh, kau bisa membantu kami."


Ye Chen melangkah dan berdiri di samping instruktur ini, Ia sama sekali tidak curiga dengannya. Ia baru mengerti setelah instruktur itu menerangkan titik-titik sambil menusuk tubuhnya. "Mau bermain? kebetulan sekali, aku sedang suntuk." ucap Ye Chen dalam hati.