
Hari ini, tepat tiga hari yang dijanjikan patriark Xiao. Ye Chen, Jiang Kun dan He Liang duduk bersama mendengarkan keterangan orang suruhan pusat kota.
"Ini aneh," ucap patriark Xiao. "Orang-orang itu berhenti meneror dan menculik penduduk desa. Apa kau tau dari mana orang-orang itu muncul?"
"Patriark, menurut kabar, awalnya mereka muncul dari desa Jiang lalu meluas ke daerah sekitarnya. Saat ini gelombang pengungsi pertama mungkin sudah tiba di perbatasan."
"Seberapa jauh jarak ke perbatasan?" Ye Chen bertanya.
"Sekitar lima hari perjalanan menggunakan hewan udara."
"Jiang Kun, bersiaplah kita berangkat sekarang." ajak Ye Chen. "Patriark terima kasih untuk semuanya. Kami berangkat sekarang."
"Tunggu sebentar. Aku ikut denganmu." ucap Patriark Xiao lalu memanggil penatua Xiao untuk menyiapkan kendaraan udara.
Untuk pertama kalinya, Ye Chen menaiki kendaraan udara. "Ternyata begini rasanya terbang di udara. Patriark, boleh aku liat cara menjalankan perahu besar ini?" pinta Ye Chen.
"Tentu saja," mereka lalu pergi ke bagian kemudi.
"Ini adalah kemudinya," kata patriark Xiao sambil menunjuk sebuah bola kristal besar berwarna biru terang. "Benda ini di kontrol dengan Qi, kalau mau terbang atau mendarat tarik saja, begitu juga like kita ingin berganti arah." patriark Xiao menjelaskan dengan detail cara kerja perahu terbang.
"Kecepatan kendaraan ini tergantung dari besarnya Qi yang tersimpan. Namun itu juga tergantung daru ukuran kristal penyimpan, semakin besar dan kuat maka akan semakin baik." lanjut patriark Xiao.
Ye Chen tampak antusias dengan hal yang baru baginya, "Bagaimana jika ada yang menyerang kita di atas sini? Bagaimana kalau tiba-tiba persediaan di dalam kristal habis? bagaimana kalau...."
Lama-lama patriark Xiao jadi pusing sendiri karena pertanyaan Ye Chen yang taking pernah habis. "Nanti saja, kalau kita kembali. Termasuk model-model yang tersedia kalau anda ingin membelinya."
Selama perjalanan Ye Chen terus memperhatikan kendaraan terbang berbentuk perahu ini. Kadang-kadang Ia bertanya kalau ada yang membuatnya penasaran seperti cara membelah angin atau meminta patriark Xiao memberikan gambaran model perahu terbang.
Tak terasa mereka telah sampai di perbatasan dimana pengungsi berhenti. Di sana ada juga perwakilan sekte-sekte di pusat kota.
"Bagaimana situasinya? dimana para pengungsi." tanya patriark Xiao begitu mendarat, tapi di sana hanya ada beberapa orang saja pengungsi yang tersisa.
"Patriark Xiao, salam."
"Patriark Xiao, selamat datang."
"Patriark...
Satu persatu perwakilan sekte menyapa dan menyambut kedatangan patriark Xiao.
Seorang pria tua mendekati patriark Xiao, dia adalah wakil tetua luar dari sekte Pedang Langit. "Patriark, mereka adalah pengungsi yang tersisa, menurut mereka, orang-orang berpakaian hitam menyergap mereka, beruntung masih ada yang selamat."
Patriark Xiao terdiam, mereka bahkan berani sampai ke dekat perbatasan pikirnya mulai risau. "Ada kabar terbaru dari orang-orang itu?" tanyanya.
Tetua luar mendesah pelan, "Sayang sekali, mereka tidak dapat dilacak, mereka seperti hilang begitu saja. Lihat, mereka adalah kultivator yang baru saja kembali dari selatan." ucapnya sambil menunjuk beberapa orang yang sedang duduk santai.
Patriark Xiao melihat ke sana tapi sedikit kaget karena Ye Chen sudah ada di sana. "Sejak kapan dia ke sana?" gumamnya dan mengurungkan niatnya menghampiri karena Ye Chen terlihat berjalan ke arahnya.
"Tuan Ye apa yang anda temukan?"
"Tunggu dulu!" wakil tetua luar yang merasa tidak di anggap berseru menghentikan Ye Chen yang melangkah pergi.
"Nanti saja." sahut Ye Chen tak acuh, Ia malas berurusan dengan orang dari sekte Pedang Langit. Ia dapat mengenalinya dari jubah yang Ia pakai, terlihat sama persis dengan dua orang yang sebelumnya berseteru dengannya.
Merasa tak di anggap, wakil tetua luar melompat menghadang Ye Chen. "Anak muda, mana sopan santunmu pada yang lebih tua." tegurnya.
"Guru dan murid sama saja, semua tak ada yang berguna."
"Apa kau bilang? berani kau mengataiku hah? apa kau tau siapa aku?"
"Sudahlah pak tua, aku tidak tau dan tidak mau tau siapa kau ini. Sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku karena aku tak ada waktu."
"Kau...."
"Tenang dulu," patriark Xiao yang melihat ini datang menengahi. Ia mengenalkan Ye Chen pada wakil tetua luar. "Ini wakil tetua luar dari sekte Pedang Langit." lanjutnya mengenalkan wakil tetua luar pada Ye Chen.
"Saudara wakil tetua luar, tuan Ye adalah tamuku saat ini. Tolong jaga sikap anda, jangan menambah masalah baru sementara masalah kita sekarang belum ada jalan keluar."
Wakil tetua luar menahan amarahnya, posisi patriark Xiao sejajar dengan patriark sekte Pedang Langit, tentu saja Ia akan mendengarnya. "Maafkan aku patriark, tapi curiga dengan orang ini, lihat saja jubahnya yang hitam, mengingatkanku pada orang-orang berpakaian hitam."
"Kenapa tidak kau tangkap saja orang yang memakai jubah hitam? aku lihat di pusat kota juga ada yang menjual dan memakainya" sahut Ye Chen.
Wajah wakil tetua luar memerah menahan marah, sebenarnya itu hanya alasan dia saja. Ketika melihat Ye Chen Ia ingat ciri-ciri yang disebutkan dua orang murid sekte yang terluka dan semua itu terlihat jelas pada Ye Chen.
Tapi Ia tak bisa berbuat apa-apa dengan adanya patriark Xiao di tempat ini.
Sementara itu Ye Chen sudah berada di dekat Jiang Kun yang duduk bersama seorang anak kecil berusia sepuluh tahun. "Tuan Ye, kenalkan, ini anakku Jiang Ji.
"Salam tuan." sapa Jiang Ji mengatupkan dua tinjunya dengan sopan.
Ye Chen mengusap kepala Jiang Ji, "Jadilah anak yang baik, ingat kau masih memiliki seorang ayah, belajar yang baik jangan buat ayahmu sedih."
"Baik tuan." ucap Jiang Ji dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Jiang Kun, apa tak mau menunggu yang lain? mungkin saja masih ada yang selamat."
Jiang Kun menggelang, "Rasanya tidak mungkin, Ji'er sudah menceritakan semuanya. Tak ada yang selamat lagi."
"Baiklah, kita kembali." Ye Chen, Jiang Kun, He Liang ditambah Jiang Ji berjalan bersama menaiki perahu terbang.
Tak lama kemudian patriark Xiao juga naik, tak ada yang bisa mereka lakukan lagi di sini.
Semua perwakilan sekte mengantar patriark Xiao dengan ramah, terlihat seperti menjilat dengan mata besar dan senyum lebar. Hanya wakil tetua luar yang menatap perahu terbang dengan tatapan penuh dendam. Baru kali ini ada yang berani mengacuhkannya.
"Tunggu saja," ucapnya sambil mengeluarkan aura membunuh tapi tak berani mengarahkan langsung ke perahu terbang.