
Di istana, kaisar dan panglima Cia beberapa panglima muda tampak sedang membicarakan kekacauan yang belakangan muncul. Terutama masalah desa Bunga yang kini tidak berpenghuni lagi.
"Panglima Cia," kata kaisar. "Bagaimana menurutmu tentang desa Bunga? apa sebaiknya kita kirim pasukan ke sana?"
"Rasanya tidak perlu, menurut kabar desa itu sekarang jadi desa mati. Kelompok pengacau itu sudah meninggalkan desa."
Kaisar lalu bertanya tentang Ye Chen yang berniat mengambil desa Bunga sebagai imbalan yang dijanjikan Kaisar. "Anda tau, tidak mungkin aku meluluskan permintaannya, mana mungkin aku memberikan wilayah yang rawan kepada orang yang menyembuhkanku."
"Menurutku tidak masalah, biarkan saja, lagipula tempat itu terlalu jauh kita tidak bisa mengontrolnya secara penuh. Masalah pengacau yang mungkin akan datang lagi, kita bisa mengirim pasukan untuk berjaga di sana."
Lama bertukar pendapat, akhirnya Kaisar mengijinkan desa Bunga diberikan kepada Ye Chen dan bukan lagi wilayah kekaisaran Lu.
Mungkin dengan dikeluarkan dari wilayah kekaisaran, desa Bunga tidak akan mengalami gangguan lagi.
Pertemuanpun selesai setelah mereka membahas hal lain, panglima Cia lalu bergegas ke kediaman Lu Ping untuk memberitahu Ye Chen mengenai desa Bunga.
"Nona Jia Li, apa kakekmu ada?" tanya panglima Cia yang datang berkunjung ke kediaman Lu Ping. "Tunggu sebentar." Lu Jia Li yang hendak pergi berpaling kembali, "Ada apa Paman?"
"Kultivasimu...?"
"Iya paman, ada apa dengan kultivasiku." tanya Lu Jia Li hera.
"Sejak kapan kau menerobos ke tingkat Bumi? bukan hanya itu, kau juga sampai ke tahap menengah." tanya panglima Cia heran, hanya dua bulan sejak turnamen Lu Jia Li yang waktu itu berada di tingkat Emas, sekarang sudah menerobos ke tingkat Bumi tengah.
Apa yang diperlihatkan Lu Jia Li memang sebuah keajaiban, bukan hanya membutuhkan sumberdaya yang tidak sedikit tapi keberuntungan dan bakat sangat menentukan.
"Aku tau kau ini jenius bersama teman-temanmu, tapi rasanya ini tidak mungkin kan?" lanjut panglima Cia.
"Paman, bukan hanya aku tapi kakak Cia Sun dan yang lain juga sudah naik ke tahap tinggi, hanya aku saja yang masih di tahap menengah.
Panglima Cia menggelengkan kepala takjub. "Sebenarnya latihan apa yang kau lakukan? maafkan pamanmu ini tapi sungguh aku sangat penasaran." panglima Cia bertanya meskipun merasa tidak enak, bertanya tentang metode latihan orang lain adalah hal yang tidak pantas.
Lu Ping datang memotong pertanyaan panglima Cia, "Itu semua berkat Ye Chen." katanya menjawab panglima Cia.
"Aku sendiri tidak tau metode yang mereka lakukan, itu benar-benar efektif."
"Paman Cia, kakek, aku pamit dulu kalau begitu."
"Bisa kau panggilkan Ye Chen kesini? katakan ada sesuatu yang penting yang akan kuberitahukan padanya." pinta panglima Cia pada Lu Jia Li yang mengangguk lalu pergi.
"Jadi anak-anak itu menolak masuk akademi?" tanya panglima Cia heran.
Lu Ping hanya mendesah pelan, "Aku tidak menyalahkan mereka, anda lihat sendiri perkembangan anak-anak itu."
Panglima Cia yang tetap tidak mengerti bertanya lagi, "Aku tau tapi kultivasi yang tinggi tidak akan mengubah apapun jika tidak disertai dengan tehnik beladiri tingkat tinggi, dan itu hanya akan mereka dapatkan di akademi.
Lu Ping kembali mendesah pelan, Ia sangat mengerti pikiran panglima Cia.
"Saudaraku, mungkin kau tidak percaya ini tapi aku benar-benar kewalahan menghadapi mereka. Kau ingat tehnik yang Ye Chen gunakan di turnamen lalu?" panglima Cia mengangguk. "Tehnik itu sekarang telah mereka kuasai, memang belum sempurna tapi sudah cukup baik."
Lu Ping menceritakan bagaimana saat pertama kali melihat Lu Jia Li dan yang lain, waktu itu Ia juga heran sekaligus bangga melihat kultivasi mereka.
Bukan itu saja, Lu ping berlatih tanding dengan menurunkan kultivasi ke tingkat sama dan cukup repot dan akhirnya hanya bisa seimbang.
Kalau bukan karena pengalaman bertarung, Lu Ping dipastikan akan kalah telak.
"Kakek Lu, panglima Cia." sapa Ye Chen mengangkat kedua tangannya di depan dada.
"Yang di tunggu akhirnya tiba hehe...." kata panglima Cia yang telah lupa tujuan awalnya berkunjung.
"Tidak ada spesial, aku hanya membantu sedikit saja. Itu semua berkat usaha dan kerja keras nona Jia Li dan yang lain saja selain bakat mereka yang luar biasa." jawab Ye Chen.
"Lalu bagaimana dengan tehnik bertarung mereka? aku dengar kau juga mengajari tehnikmu sendiri."
"Panglima Cia, kakek Lu, sebelumnya minta maaf karena dengan lancang aku memberikan sedikit petunjuk," ucap Ye Chen merendah. "Adik Jia Li dan yang lain sepertinya tertarik dengan tehnik yang aku miliki dan aku tidak menolak."
"Tapi bukankah itu tehnik andalanmu sendiri?"
Ye Chen tersenyum lalu berkata. "Cuma tehnik saja, aku tidak akan pernah menolak orang pantas untuk mempelajari tehnikku."
Benar-benar pria yang baik pikir panglima Cia dan Lu Ping, mana ada seorang kultivator dengan mudahnya mengajarkan tehniknya sendiri kepada orang lain.
Apalagi tehnik Ye Chen ini bukan tehnik kelas rendah.
"Kalau panglima dan kakek Lu tertarik, aku bisa memberikannya.
Buatku tidak masalah samasekali."
"Ah tidak perlu, jangan sampai merepotkanmu," Meskipun tertarik juga tapi lagi-lagi ini tidak pantas, rasanya sangat aneh. "Terima kasih sudah membantu anak-anak itu." lanjut panglima Cia diikuti Lu Ping.
Tentu saja Ye Chen mengerti, tidak ada seorang kultivator yang tidak ingin mempelajari sebuah tehnik yang baru. Masalahnya adalah, merekalah yang seharusnya memberikan bukan menerima dari Ye Chen.
"Bagaimana kalau kita latihan sebentar?" ajak Ye Chen. "Aku hari ini belum sempat berlatih."
Kakek Lu mengiyakan dan mengajak mereka ke halaman belakang rumah tempat bisanya Ia berlatih.
"Panglima, aku duluan," kata Lu Ping. "Ye Chen bersiaplah."
"Baik kakek Lu, aku tidak akan sungkan." sahut Ye Chen, lalu mengeluarkan pedang hitamnya. Ia tidak mau main-main, karena takut disangka meremehkan lawannya.
"Langkah Angin Kedua."
"Tehnik Tarian Pedang."
Ye Chen bergerak cepat bersama sembilan klon pedangnya, menyerang Lu Ping dari segala arah sambil memperhatikan gerakan jurusnya.
Puas menyerang, Ye Chen merubah gerakannya menjadi bertahan.
"Kakek Lu, apa anda hanya ingin bertahan saja?" kata Ye Chen memancing Lu Ping. "Hanya ini sajakah tehnik menyerang pelindung kota?" ucap Ye Chen lagi karena Lu Ping menggunakan tehnik yang sama yang dipelajari Lu Jia Li.
Lu Ping mendengus, "Jaga bicaramu anak muda."
"Tehnik Pedang Matahari...."
Lu Ping mengganti tehniknya dengan tehnik andalannya sendiri.
Awalnya Ye Chen memang terdesak, terutama jika Lu Ping menyelipkan gerakan pedang yang menghentak yang mengeluarkan aura panas. Tapi setelah Ye Chen memahami inti gerakan jurusnya, Ia bisa menghindar dengan mudah.
Sesekali Ye Chen menyerang bagian lemah dari posisi serangan Lu Ping sehingga Ia tidak bisa lagi menghentak pedangnya.
Jika dilihat sekilas, pertarungan ini memang menegangkan tapi berbeda dengan Lu Ping yang mengalaminya langsung, Ia seperti merasa melawan gurunya sendiri.
"Apa ini? kenapa aku tidak bisa menemukan ruang kosong untuk menyerang, mustahil anak ini menguasai tehnikku," Pikir Lu Ping sampai Ia menyadari sesuatu. "Sial kenapa aku tak menyadarinya dari tadi? hais rupanya begitu, oh... eh, benar harusnya ke kiri." Lu Ping terus bergumam sepanjang pertarungannya.
"Kakek Lu aku akan menyerang lagi, berhati-hatilah." seru Ye Chen yang kembali mengandalkan tehnik tarian pedangnya, bedanya kali ini Ia bermain lambat.