Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Membebaskan Panglima Muda


Bukan panglima muda, bukan komandan yang telah gugur dan bukan juga Paman yang dijadikan sorakan gembira dari para prajurit yang berhasil menumpas habis tapi Ye Chen.


Meskipun hanya sebagian kecil yang melihat Ye Chen bertempur dan hanya sedikit juga yang telah Ia tolong tapi karena cerita yang dibesar-besarkan dan berbeda dari mulut ke mulut membuat sepak terjang Ye Chen menjadi kebanggaan dan otomatis menjadi pahlawan bagi pasukan Peri saat itu.


Ye Chen sendiri tidak ambil pusing dan langsung pergi, kembali ke pondok di tengah hutan. Yang repot adalah Paman yang sibuk menjawab pertanyaan para komandan dan prajurit. Sementara itu panglima muda itu masih belum sadar, tendangan Ye Chen yang disertai energi jiwa itu membuat jiwanya shok berat dan belum sadar sampai pasukan kembali ke istana.


"Paman, aku dengar keponakanmu berjasa besar dalam pertempuran. Katakan, dimana dia sekarang?" Paman bingung juga dengan pertanyaan dari kaisar, awalnya Ia mengira Ye Chen akan cukup membantu dan mengajaknya ikut serta tapi sekarang malah dijadikan pahlawan.


Terpaksa Paman berbohong dan mengatakan Ye Chen telah pulang. "Dia hanya datang menjengukku saja." kilah Paman.


"Kenapa selama ini kau tidak pernah mengatakan mempunyai keponakan? dari yang aku tau, tidak pernah ada keluargamu yang datang dan bukankah semua keluargamu tinggal di kota?" Kaisar tidak salah dengan ucapannya, memang Paman tinggal di kota dan semua juga tau kalau keluarga Paman tidak ada yang tinggal jauh.


"Gawaat... kenapa bisa jadi panjang begini urusannya." gerutu Paman dalam hati. "Oh i-tu, ya itu... aku belum lama ini mengangkat seorang anak menjadi keponakan. orang tuanya telah lama pergi, aku kasihan dan merawatnya."


Terpaksa Paman berbohong, tidak mungkin Ia mengatakan siapa Ye Chen sebenarnya.


"Pantas saja kalau begitu, jangan lupa ajak dia menemuiku jika Ia kembali. Aku harus memberinya hadiah." kata kaisar. Lalu kaisar bertanya keadaan panglima muda.


Alkemis yang bertugas merawat dan menjaga panglima muda hanya menggeleng dan meminta maaf karena belum bisa memastikan kondisinya.


"Paman, ada apa? sepertinya Paman tampak susah."


"Pertama, identitasmu yang membuatku susah dan yang kedua kondisi panglima muda yang belum siuman sampai sekarang."


"Masalah identitas bisa kumengerti, maaf sudah merepotkan Paman," kata Ye Chen tulus. "Tapi masalah panglima muda itu, kenapa Paman susah? biarkan saja, toh di sana ada ahlinya."


"Tuan Chen, yang lain mungkin bisa tidak menyadarinya tapi aku tidak. Aku melihat dengan sangat jelas anda menendangnya, bukan melemparnya."


"Hais ini salahku, pertama memberi tanda alam ini padamu, kedua membawamu ke medan pertempuran."


Paman bukan kecewa, Ia menyalahkan dirinya sendiri dan Ye Chen. Bagaimana seandainya pihak istana tau kalau Ye Chen lah yang membuat panglima muda sampai pingsan.


Ye Chen terdiam sebentar lalu berkata, "Aku bisa mengobati panglima muda, yeah meskipun aku tidak ikhlas tapi demi Paman aku akan melakukannya, dengan satu syarat, esoknya Paman harus mengantarku ke suku Ibu."


"Benarkah? kalau begitu bagus. Anda tau, tadi kaisar mencarimu, anda akan diberikan hadiah." Paman berkata dengan antusias, sangat senang mendengar Ye Chen mau mengobati panglima muda.


"Lupakan saja Paman, aku tidak mengharapkan apa-apa di sini. Tunggu dulu, bagaimana dengan syaratku, apa Paman bersedia?"


"Itu masalah gampang. Tuan Chen aku sarankan anda menolak semua hadiah yang kaisar berikan. Tunggu sampai Ia menanyakan hadiah apa yang anda inginkan."


"Eh, kenapa begitu?"


"Sudah, ikuti saja saranku. Nah setelah kaisar menanyakan anda ingin hadiah apa, katakan saja anda ingin wilayah tempat kita bertempur itu."


Ye Chen masih membantah, meskipun Ia memang ingin kembali ke wilayah itu tapi Ia tidak tertarik menjadikannya sebuah wilayah sendiri. Tapi Paman terus memaksanya dan akhirnya Ye Chen pun menyetujuinya.


Keesokan harinya, Paman membawa Ye Chen ke istana dan melaporkan bahwa Ye Chen ingin mencoba mengobati panglima muda. Kaisar yang sudah percaya pada Ye Chen tidak bertanya apa-apa lagi, Ia langsung setuju.


Ye Chen duduk di kursi dekat pembaringan, diam sejenak, mencoba masuk kedalam ruang jiwa panglima muda. Yang sebenarnya terjadi adalah Ye Chen memenjarakan jiwa panglima muda di dalam penjara kegelapan, Ia hanya dipenjara saja tidak ada penyiksaan seperti tahanan lain, hanya saja karena tempatnya gelap, dingin dan lembab itu maka panglima muda sering terlihat ketakutan.


"Si-siapa...?" panglima muda mencoba meraba-raba dalam gelap.


"Ini aku." sahut Ye Chen pelan dan datar.


"Tu-tuan Chen... Oh syukurlah, anda datang. Cepat, cepat bawa aku keluar dari tempat terkutuk ini."


"Tempat terkutuk katamu? hehehe mungkin kau benar, biar aku beritahu, ini adalah penjara kegelapan yang buat khusus untukmu."


"Kurang ajar! Jadi kau dalang semua? awas saja akan ku...


Bugh...


Ye Chen memukul perut panglima muda dengan keras, membuatnya tak bisa melanjutkan ucapannya. "Beraninya kau...


Aaah...


"Tidak, tidaaak... tuan Chen, maaf... maafkan aku." dengan nafas tersengal dan suara yang penuh ketakutan, panglima muda memohon ampun dan meminta maaf.


Mulanya Ye Chen memukul panglima muda, lalu membakarnya dan menyiksanya dengan cambuk besi. Kalau Ia tidak ingat, puteri Jia dan janjinya kepada Paman untuk membebaskan panglima muda, mungkin ia akan membakarnya hidup-hidup.


Diluar sana, semua mata yang menyaksikan pengobatan ini menjadi ngeri sekaligus kasihan. Panglima muda muntah darah dan beberapa bagian kulitnya melepuh terbakar belum lagi terlihat darah merembes dari balik pakaiannya.


"Tuan Chen, cepatlah... panglima muda bisa tewas." Paman yang tidak mengerti apa yang terjadi berbisik kepada Ye Chen.


"Tenanglah Paman, aku sudah berjanji dan aku pasti menepati janjiku." bisik Ye Chen di kepala Paman.


"Hais orang tua ini, selalu saja mengganggu." tanpa sadar Ye Chen mengumpat, namun karena Ia lupa memutus hubungan dengan Paman makan otomatis Paman mendengar perkataannya.


"Tuan Chen... jangan bilang anda yang sedang menyiksa panglima muda." Sebagai jago tua yang sudah berpengalaman, tentu saja Ia bisa sedikit menebak apa yang terjadi. Ia dan tetua alkemis, juga para jago tua memang sudah tau sakit panglima muda karena jiwanya terganggu tapi setelah mencoba masuk ke ruang jiwanya, mereka tidak menemukan apa-apa di sana, hanya kabut hitam yang tak sanggup mereka hilangkan.


"Paman...? eh, anda masih di sana? aduh." Ye Chen yang menyadari kesalahannya jadi serba salah.


"Hm sudah kuduga, lihat saja, aku tak akan mengantarmu ke sekte Ibumu dan akan kupastikan puteri Jia mengetahui ini."


"Eh, kenapa dengan adik Jia?"


"Tidak ap-apa, aku hanya akan mengambil gelang di tanganmu ini dan mengatakan padanya bahwa kau membuangnya karena jelek."


"Paman..."


"Kalau begitu cepatlah, panglima muda bisa mati."


"Iyaa...." sahut Ye Chen dengan kesal lalu memutuskan hubungannya dengan Paman.