Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Raja Iblis


Sehari lamanya Ye Chen berpikir, merenung dan berdiam seorang diri.


Ye Chen mendesah pelan lalu bangkit berdiri, tatapan matanya berubah, "Bukan saatnya merenungi nasib, masih banyak yang harus dilakukan di masa depan." katanya dengan suara tegas.


"Baojing, aku akan berkultivasi, setelah itu kita cari guru Baji. Masih banyak yang ingin aku ketahui."


"Baik tuan." jawab Baojing yang memang selalu berada di sisi Ye Chen, tak pernah meninggalkannya.


...


"Tuan, selamat, anda berhasil menerobos tahap tinggi."


"Terima kasih," sahut Ye Chen yang masih merasa kurang puas, seharusnya Ia bisa sampai ke tahap puncak, sedikit lagi. "Aku akan mencoba menggunakannya." lanjut Ye Chen dan mengambil cincin penyimpanan yang ayahnya tinggalkan.


Setelah mengamatinya sebentar, Ye Chen mulai konsentrasi menggunakan kesadaran jiwanya untuk melihat isi cincin. Sayangnya itu tidak berhasil, berapa kalipun dicoba, hasilnya tetap sama, tak bisa menembusnya.


"Sepertinya ada yang salah." gumam Ye Chen lalu memanggil Baojing. "Apa kau tau sesuatu?"


Baojing meraih cincin dan mengamatinya, "Menurut guru Baji, ini seharusnya sebuah kunci, tapi kenapa tuan tidak bisa menembusnya?" batinnya, lalu bertanya apakah tidak ada segel formasi di sana yang dijawab Ye Chen dengan menggelengkan kepalanya.


"Tunggu, tadi kau bilang sebuah kunci?"


"Benar tuan, bukankah sudah keberitahukan sebelumnya?" jawab Baojing, cukup heran melihat reaksi Ye Chen.


"Ah benar juga, kenapa aku sampai begitu bodoh. Coba sini, kemarikan cincin itu." Ye Chen mendapat pikiran lain. Bersama Baojing, Ia pergi menuju lubang hitam yang kembali muncul.


Baru saja mendekat, cincin di tangan Ye Chen bergetar lembut. Ye Chen membuka tangannya dan membiarkan cincin di telapak tangan.


Wuss...


Cincin melesat pelan menuju lubang hitam. Di awali dengan percikan kecil dengan suara seperti sengatan listrik, lubang hitam perlahan berubah menjadi lubang yang terang dan tak lama kemudian menjadi semakin terang sampai menyilaukan mata lalu kembali redup.


"Tuan...."


"Aku salah, aku pikir selama ini cincin itu adalah sebuah cincin penyimpanan, ternyata itu adalah sebah kunci, seperti katamu." Ye Chen tersenyum, akhirnya Ia tau kegunaan cincinnya.


"Ayo, kita masuk."


"Tapi tuan, bagaimana kalau portal itu belum stabil? Baojing ragu, lubang hitam di depannya kini berubah menjadi sebuah portal dimensi. Meski ini bukan pertama kalinya Ia melihat sebuah portal tapi tetap saja portal di depannya ini tadinya adalah sebuah lubang hitam yang bisa mengantarnya kemana saja kalau tidak tersesat selamanya.


"Kita tidak akan tau sebelum mencobanya, bukankah katamu ini adalah penghubung ke alam Iblis? apa kau meragukan ucapan gurumu sendiri?"


"Bukan begitu tuan, meskipun guru Baji berkata demikian tapi anda tau sendiri, aku juga belum pernah ke sana."


"Sudahlah, kita lihat saja setelah sampai di sana. Semoga apa yang guru Baji katakan benar." ucap Ye Chen dan tanpa ragu memasuki portal bersama Baojing. Tidak lupa Ia mengingatkan Baojing untuk memasang perisai tubuh guna menghindari hal buruk yang mungkin terjadi.


Ini pertama kalinya Ye Chen memasuki sebuah portal dimensi dalam keadaan sadar, jauh di depannya terlihat sebuah lubang kecil sementara di kiri kanannya bertaburan cahaya-cahaya yang redup.


"Tidak buruk." ucap Ye Chen ketika keluar, di depannya berdiri, hamparan tanah gersang menghadang. Sejauh mata memandang hanya ini saja yang terlihat, udara di sini sangat tipis.


"Tuan, tempat ini sangat tidak stabil. hati-hati." kata Baojing memperingatkan Ye Chen. Bukan tanpa sebab, seringkali di bawah tanah terdengar suara seperti orang mendengkur, belum lagi awan hitam dengan petir-petir kecil yang kadang terlihat di kejauhan.


"Bagaimana dengan portalnya tuan?" Baojing kembali mengingatkan Ye Chen. Portal itu jalan mereka masuk dan juga jalan keluar. Mereka akan terperangkap di sana kalau sampai portal itu hilang atau rusak.


"Benar juga," seru Ye Chen hampir melupakan hal yang penting. "Kalau begitu, disegel saja." lanjutnya tapi hal yang mengejutkannya terjadi tepat ketika Ia berdiri di depan portal. Kunci portal yang berbentuk cincin itu tiba-tiba saja melayang ke tangannya. Ye Chen menangkapnya, "Ini baru barang bagus hehe." ucapnya sambil tersenyum.


Setelah itu di atas langit terlihat sebuah perahu terbang hitam melayang di ketinggian.


...


Jauh di alam lain, sebuah dimensi bergetar lalu hancur. Dari dalam muncul seorang pria tua berpakaian serba hitam. Auranya sangat kuat sampai semua makhluk hidup dalam radius satu kilometer menjauh.


"Akhirnya kau muncul juga, sudah lama sekali. Hahaha kali ini akan kupastikan mendapatkannya."


Pria ini lalu melesat pergi membawa seringai yang lebar.


Hal yang sama terjadi di dua tempat berbeda. kembali dua pria tua muncul, membawa aura yang tak kalah kuat dari pria pertama. lalu melesat pergi.


Di alam atas.


"Saudara Jun, aku mendapat sinyal dari raja Gunma. Apa kau menerimanya juga?"


"Aku langsung kesini begitu mendapat sinyal. Apakah terjadi sesuatu? atau mungkin yang ditunggu telah tiba?"


Mereka adalah patriark Xiao, pemimpin sekte Pil Dewa dan patriark Jun, pemimpin sekte Pedang Langit. Mereka berdiri di depan dimensi yang telah mereka hancurkan sebelumnya.


"Entahlah, kita tunggu saja. Tapi apa kau yakin raja Gunma bisa keluar dari sana?"


"Ini salahmu, kau menghancurkan gerbangnya."


"Bukan aku saja yang melakukannya."


Mereka saling berbantah. Beberapa hari yang lalu, mereka berdua menghancurkan gerbang dimensi karena marah melihat dimensi itu tersegel dari dalam.


Patriark Jun menghela nafas, "Sudahlah, aku rasa raja Gunma bisa keluar. Jangan katakan yang aneh-aneh begitu bertemu dengannya."


"Tentu saja, aku tak akan sebodoh itu." sahut patriark Xiao.


"Kalian berdua, cari dan dapatkan anak itu, rebut batu hitam berbentuk cincin yang ada padanya."


Patriark Xiao dan patriark Jun saling memandang mendengar suara ini, suara yang mereka kenal, suara yang membuat mereka menggigil karena ketakutan dan dengan patuh, mereka berdua berlutut. "Kami mematuhi perintah raja." ucap mereka serempak.


Suara ini datang dari dalam dimensi, suara yang di kirim langsung ke dalam pikiran mereka berdua. Dapat dibayangkan kekuatan sebesar apa yang dimiliki si pengirim suara, bahkan suaranya saja dapat menembus celah dimensi.


"Pergilah dan bawa cincin itu ke sini." perintahnya lagi.


Setelah menghormat sekali lagi, patriark Jun dan patriark Xiao bergegas pergi. Meski tak tau dimana harus mencari, namun mereka tetap pergi.


Di sisi lain, orang-orang berjubah hitam juga mulai bergerak. Bukan di tempat yang sama tapi di tempat lain, tempat yang dikenal dengan nama alam rendah.


Kemelut sekali lagi akan berulang.