Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kerja Kerja Kerja


"Bagaimana dengan orang-orang ini?" yang Baojing tampak bingung maksud Ye Chen menahan orang-orang ini.


"Oh, bunuh kepalanya." ucap Ye Chen santai, "perintahkan yang lain membersihkan perahu kita."


Baojing menarik kepala rampok dan memenggal kepalanya dan menyuruh yang lain sesuai perintah Ye Chen.


Kelompok rampok ini berjumlah sepuluh termasuk ketua mereka yang sudah tewas, Ye Chen kemudian memanggil wakil ketua ke depan sementara yang lain naik ke perahu untuk bersih-bersih.


"Katakan! ada berapa kelompok lagi yang mengincarku."


"Ampun tuan, hamba tidak tau." jawab wakil ketua ini ketakutan, tapi Ye Chen tau itu hanya sikap pura-pura saja. Mereka bahkan akan membunuh sesama jika ada kesempatan.


Crass...


Crass...


Dua kali pedang hitam bergerak, tubuh wakil ketua terbagi tiga, "Panggil yang lain."


Baojing memanggil rampok yang lain dan Ye Chen kembali menanyakan hal yang sama, kali ini orang yang dipanggil cukup tau diri. Ia mengatakan semuanya termasuk tempat mereka semua berkumpul.


"Baojing, ayo pergi, dan kau kembali bekerja."


"Tuan, bagaimana kalau mereka kabur? semua yang kita beli masih juga di atas."


"Kabur? hehe mereka tak akan berani." ucap Ye Chen dengan senyumnya. Ini membuat Baojing bertanya-tanya apalagi yang tuannya akan lakukan. Dia bahkan lebih mengerikan dari sang iblis kalau tersenyum begitu pikir Baojing.


"Eh, kau tak percaya? pergi lihat dan sekalian carikan tongkat yang kuat."


Benar saja apa yang Ye Chen katakan, para perampok yang melihat melihatnya pergi tertawa senang. Dasar bodoh maki mereka dalam hati.


Satu persatu perampok ini melompat turun dari perahu sambil membawa barang jarahan. Nahas bagi mereka yang melompat lebih dulu, begitu menginjak tanah, mereka langsung terbakar. Tak ada yang tersisa selain bau gosong menyengat dan cincin penyimpanan.


Kejadian ini membuat yang lain mengurungkan niatnya, mereka mengembalikan harta jarahan dan kembali bekerja dengan wajah pasrah. Siapapun juga tak akan mau mati terbakar. Tadinya mereka mencoba sisi lain tapi sama saja, mati terbakar.


Baojing melihat semua ini dengan mulut terbuka, dia merinding, bagaimana kalau Ia yang turun dan terbakar? "Semoga saja aku tak salah menjadikan pangeran sebagai tuanku." doanya dalam hati.


"Tuan, ini tongkatnya." Baojing mengejar Ye Chen yang masih berjalan tenang.


Ye Chen menimang tongkat kayu di tangannya, "Cukup lumayan, oh ya berapa sisa perampok yang tinggal?"


"Jadi tuan sudah tau dan merencanakan semuanya?" batin Baojing, entah ini termasuk jenius atau memang sadis. "Hanya dua tuan."


"Ya sudah, justru itu kita harus mencari tambahan tenaga. Pengrajin tua itu sangat malas, perahunya terlalu kotor."


Tak lama kemudian tibalah mereka di depan sebuah rumah makan, tempat ini adalah sarang perampok. Ye Chen masuk dan menandai orang-orang yang mengincarnya.


Cukup gampang, lihat saja reaksi mereka ketika melihat Ye Chen. Bagi yang pernah melihatnya tentu akan biasa-biasa saja tapi tidak bagi yang pernah menginginkan hartanya.


Ye Chen menunjuk satu-satu orang yang menjadi targetnya, tapi karena cukup banyak ditambah lagi ada perampok lain yang mempunyai niat jahat di matanya, akhirnya Ia menyerah dan berkata, "Yang tidak berkepentingan silahkan keluar."


"Sudah, bunuh saja yang tidak mau menyerah." Ye Chen pusing sendiri, bahkan tak ada yang bergerak dari tempatnya. Semua memandang rendah ke arahnya.


Ucapan Ye Chen adalah perintah, Baojing sama sekali tak ragu ketika bergerak. Banjir darah dan teriakan terus terdengar dari rumah makan, mereka ini bukanlah tandingan seorang tingkat Suci tahap tinggi. Bahkan jika ada yang berhasil kabur, Ye Chen akan mengejarnya dengan tongkat kayu.


Selesai sudah perlawanan kumpulan perampok, meskipun banyak yang mati tapi yang masih hidup dan kuat juga banyak. Mereka lalu digiring ke perahu terbang untuk bekerja bersih-bersih. Ada juga yang ditugaskan memilah sumber daya yang mereka beli.


Perkelahian dan pembunuhan di kota Shinyang bukanlah hal baru. Setiap hari pasti ada saja kejahatan yang terjadi, orang-orang di sana sudah terbiasa dan tidak kaget lagi tapi berita hancurnya rumah makan dan banyak pembunuhan bukanlah berita biasa. Segera saja hal ini menarik perhatian beberapa ketua gerombolan, sekte patriark Hauw, seperti biasa tidak akan pernah ikut campur.


Sepuluh ketua gerombolan berkumpul, ingin memastikan siapa yang membuat kekacauan dan kalau mungkin menyingkirkan dalangnya. Sebagai orang lama, tentu saja mereka tidak akan mau memberi tempat bagi orang baru.


Setelah mengikuti jejak Ye Chen dan Baojing, merekapun akhirnya tiba di perahu terbang.


"Tuan, mungkin mereka kepala-kepala rampok yang tidak terima kita mengacau."


"Bagus, ini yang aku tunggu, tongkat pemberianmu tidak akan sia-sia kalau begitu. Kau istirahatlah, biar aku yamg memukul orang-orang tidak jelas ini. Awasi saja para pekerja itu, bunuh kalau tidak mau di atur."


"Siap tuan." jawab Baojing sambil menatap tuannya dari belakang. "Apanya yang sia-sia, di rumah makan saja tua sudah memukuli perampok dengan brutal." gumamnya.


Dan Ye Chen tak menunggu para ketua gerombolan itu yang datang mendekat, Ia menghadang mereka dengan tongkatnya, memukuli mereka satu persatu. Tak ada yang lolos, semua tewas dengan tubuh remuk.


"Ketua memang beda, Baojing lihat cincin ini, isinya banyak sekali." ucap Ye Chen sambil melempar cincin sitaannya agar di pilah oleh pekerja. "Oh ya panggil sepuluh pekerja kesini, ada pekerjaan baru untuk mereka.


Sepuluh pekerja menghadap, mereka diberi satu cincin dari setiap kepala perampok. "Pergi ke toko mereka dan kuras habis semua isinya."


Tentu saja tak ada yang menolak, mereka semua melihat bagaimana Ye Chen membunuh dengan sadis, sejak di rumah makan. "Nah ambil ini, pukul saja kalau ada yang menolak." Ye Chen melempar asal tongkat di tangannya, tongkat kayu yang berlumur darah dan serpihan tulang yang menempel.


Ye Chen tersenyum puas, "Aku harus mencari sebuah tongkat, sensasinya sangat berbeda jika dipakai bertarung, bagaimana menurutmu?"


Baojing yang ditanya hanya bisa mendukung, "Tentu saja tuan."


Hari berikutnya, pekerjaan bersih-bersih telah selesai. Sumber daya jarahan yang menggunung telah tersusun rapih. Saatnya berangkat.


"Semuanya, terima kasih atas bantuannya. Anggap ini sebagai imbalan kalian."


Dibantu oleh Baojing, semua pekerja yang jumlahnya sekitar lima puluh berbaris rapih menunggu imbalan karena telah bekerja. Ye Chen membagikan pil kultivasi sesuai tingkat kultivasi mereka. Dengan ini, akan lahir banyak kultivator tingkat Suci di kota Shinyang.


Kerja keras mereka terbayar berkali-kali lipat, tak ada yang tidak tersenyum meskipun sebelumnya berkerja dalam tekanan.


Bekerja membersihkan sebuah perahu yang besar bukanlah pekerjaan yang biasa mereka lakukan. Menyapu, mengepel dan menggosok seluruh bagian perahu sangat melelahkan, belum lagi harus mengangkut air dari tempat yang cukup jauh.


Jangan pikirkan mereka adalah seorang kultivator yang bisa menggunakan Qi di atas perahu, entah kenapa Qi mereka terkunci dan hanya bisa bekerja seperti orang biasa.