
Semalam penuh Ye Chen berdiri memandang langit yang penuh bertabur bintang, angin yang berhembus dingin karena letaknya wilayah itu dekat dengan utara seolah ikut merasakan kesedihannya. Sesekali terdengar lolongan Serigala di kejauhan, ikut menambah suasana malam yang terasa sepi.
"Paman... apa yang terjadi?
Lin Yungtao dan para prajurit datang mendekati Paman, tak ada yang tidak merasa Iba, mereka semua ikut terbawa suasana, perasaan rindu akan rumah tiba-tiba terselip dalam lubuk hati mereka dan tanpa sadar mata mereka berkaca-kaca bahkan ada yang sampai meneteskan air mata.
"Tuan Chen sejak lahir tidak pernah mengenal orang tuanya dan tempat ini adalah tempat Ibunya dulu pernah tinggal. " hanya itu yang Paman katakan.
"Tuan Chen...."
gumam mereka satu persatu, sangat pelan. Sementara ye Chen masih tetap berdiri seperti siluet di bawah rembulan malam. Jubahnya hitamnya berkibar lembut tertiup angin dan rambutnya yang panjang tergerai sesekali menari di punggungnya.
Hari berganti, cahaya mentari mengganti yang hangat datang mengganti malam yang kelabu. Ye Chen mendesah perlahan dan mengusap matanya lalu kembali turun dari tempatnya.
Tak mau mengganggu atau menambah suasana jadi canggung, para prajurit itu bergegas pergi namun Ye Chen uang melihat mereka menahannya. "Tunggu sebentar, kalian mau kemana?"
"Oh itu... ka-kami ingin mencari sesuatu." jawab salah satu prajurit dengan canggung.
"Kau ini, katakan saja."
"Katakan apa, kau sendiri memangnya mau kemana?"
"Eh, aku? aku... aku ikut saja."
"Hah, sama saja."
Prajurit yang memang tak tau mau kemana itu saling berbantahan, "Bukannya kalian hendak mencari hewan buruan untuk tuan Chen?" kata Paman mencoba mengalihkan.
"Oh iya benar, nah tuan Chen kami pergi dulu."
"Hahaha tidak usah, biar aku saja. kalian buatlah set perlengkapan memasak." kata Ye Chen sambil tertawa melihat mereka. "Maaf kalau tadi malam membuat kalian tidak bisa beristirahat." lanjutnya lagi dengan tulus. Ia tau semua ada di sana tanpa terkecuali.
"Ah tidak tuan, kami tidur nyenyak tadi malam."
"Tidur? hah jadi siapa yang sesenggukan itu?"
"Sesenggukan? daripada kau, sibuk mengusap mata sambil berjongkok."
"Hahaha sudah, sudah. aku lapar cepatlah buat api."
"Siap tuan hehe."
Suara Ye Chen tertawa menular ke setiap orang, seketika suasana canggung berubah menjadi gelak tawa dan senda gurau.
Tak lama kemudian, aroma masakan daging yang dicampur herbal sumber daya memenuhi udara di bukit itu. Ye Chen memang sengaja memilih sebuah bukit yang paling tinggi untuk tinggal sementara.
Ye Chen tidak tanggung-tanggung kali ini, Ia sengaja memasak daging kirin berikut intinya yang telah Ia ekstrak, Ia juga mencampur beberapa inti dari siluman surgawi dan mencampurnya dengan sumber daya tingkat tinggi, salah satunya adalah Apel ungu yang langka dan setetes air kehidupan.
Semua orang seakan dimanja dengan Energi yang tidak pernah habis, ada yang mencoba duduk dan diam-diam mengolahnya agar bisa menerobos ada yang membiarkannya saja, menumpuknya terlebih dahulu.
"Tunggu sebentar, rasanya kurang pas kalau tidak ada arak." kata Ye Chen lalu mengeluarkan satu guci besar arak istimewa. Suasana semakin meriah.
"Ayo kita bersulang." ajak Ye Chen.
"Untuk Ibu tercinta." salah satu prajurit tiba-tiba saja berteriak, dan saat itu juga suasana berubah menjadi hening kembali.
Ye Chen tersenyum, Ia juga mengangkat gelasnya. "Untuk Ibu dan orang-orang yang kita sayangi. Bersulang!"
"Biarkan mereka berkonsentrasi." kata Ye Chen dan mengajak Paman dan Lin Yungtao menjauh dari sana.
"Senior, apa ini tidak masalah?" tanya Lin Yungtao. Ini kejadian langka dan tak pernah ada dalam sejarah ada orang yang dengan sukarela menghamburkan sumber daya secara gratis.
"Tidak masalah, tenang saja. Aku tak pernah sayang dengan sumber daya, bagiku sumber daya itu gampang dicari, yang, susah itu adalah kepercayaan dari teman. sahut Ye Chen sambil menepuk pundak Lin Yungtao.
"Tuan Chen...."
Hanya gumaman itu yang keluar dari mulutnya, Ia merasa malu karena pernah merencanakan sesuatu yang jahat kepada Ye Chen. Sedangkan Ye Chen membalasnya dengan kebaikan yang sangat besar. Penjara itu sangat pantas untuknya, Ia tak akan menyesalinya.
"Tuan Chen, apa rencana anda selanjutnya?" tanya Paman.
"Sebenarnya aku ingin sedikit merubah tempat ini, sebelum pergi. Bukankah Paman pernah mengatakan kalau tempat ini pernah menjadi tempat tumbuhnya sumber saya terbaik?"
"Memang betul, tapi itu dulu sebelum kawanan siluman sialan itu datang. Lihat saja, tempat sekarang sangat tandus, pasti mereka menjarah habis tempat ini."
"Tidak masalah, semua sudah berlalu. Mungkin aku bisa mencari sisa akar yang bisa ditanam nanti." balas Ye Chen. Ini sudah Ia pikirkan matang-matang sejak tau cerita itu.
Dengan begitu, Ia akan bisa merasakan hal yang sama seperti yang Ibunya rasakan dulu. Selain itu, bisa menjadi sumber pendapatan wilayah itu nanti.
"Oh ya Paman, apa Paman tau nama Ibu?"
"Kalau tidak salah, namanya Nannan atau Nanyun atau Nan... ah sayang sekali aku sudah lupa."
"Tidak apa Paman, baiklah selanjutnya wilayah ini akan kunamai menjadi wilayah Nannan. Selanjutnya tinggal memetakannya saja dan membuat bangunan yang diperlukan." kata Ye Chen, Ia sangat antusias merubah kembali tempat itu.
"Wilayah Nannan, kota Nannan, tidak buruk." sahut Paman. "aku penasaran, daging apa yang tuan masak tadi? rasanya seperti Kirin yang aku makan di pondok dulu."
"Hehe itu memang Kirin Paman."
"Bukankah kau bilang...."
"Aku tidak bohong, aku bilang Kirin itu sudah pindah ke alam lain, apa Paman lupa?" jawab Ye Chen santai.
"Dasar anak nakal."
Gelombang aura yang kuat dari arah para prajurit menghentikan obrolan mereka.
"Mereka memang berbakat." kata Ye Chen.
"Ini gila." Lin Yungtao malah berkata aneh, mengungkapkan kejadian yang tak pernah Ia lihat sebelumnya.
"Seratus tingkat Surgawi awal." Paman menggeleng tak percaya. Istana bisa gempar kalau berita sampai tersebar luas, batinnya.
Satu persatu prajurit itu berbaris, dengan serempak dan penuh sukacita mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Bukan aku, tapi kalianlah yang sudah bekerja keras." Ye Chen merendah.
"Kami semua bersumpah setia terhadap tuan Chen."
"Eh? jangan begitu... ayo, ayo bangun. Paman, panglima muda bantu aku suruh mereka bangun. Aku tak mau nanti dikira memberontak." kata Ye Chen sambil menoleh ke samping. "Apa... ka-kalian juga? hais kenapa jadi begini."
"Kami, Bangsa Peri tidak akan pernah menarik kembali kata-kata yang sudah kami keluarkan, mohon Terima hormat kami." Paman berkata dengan sungguh-sungguh lalu diikuti juga oleh panglima muda dan yang lain.
"Aduh... Baiklah, baiklah... nah sekarang kalian semua berdirilah."