
Chu Xiong melirik Ye Chen, sementara Ye Chen hanya tersenyum biasa lalu berkata, "Apa yang membawa anda berdua duduk di sini?"
Brakk...
Meja digebrak dengan keras. "Hehe kami mencium aroma arak, jadi kami akan meminumnya juga." kata salah satu dari dua orang itu, dia berwajah brewok.
Ye Chen tertawa, "Hahaha arak, Hei patriark Chu, dia mau arak."
"Pa... patriark?" gumam seorang temannya setelah mendengar bagaimana Ye Chen memanggil Chu Xiong. Ia melirik Ye Chen dan Chu Xiong bergantian, firasatnya mengatakan jangan berurusan dengan orang-orang ini.
Dengan tergesa-gesa Ia berdiri dan berusaha menarik temannya untuk pergi. "eh, kalian tidak jadi minum arak?" tanya Ye Chen.
"Ti... tidak tuan, maaf mengganggu, kami pergi dulu."
"Boleh saja, tapi tinggalkan sebelah tangan kalian." kata Ye Chen lagi dan tanpa peringatan, Ia langsung saja menebas lengan dua orang itu dan menendangnya menjauh.
Seisi rumah makan terdiam, tidak biasanya ada keributan yang sampai membuat lengan orang lain hilang begitu saja.
"Bukankah itu patriark dari sekte Chu?"
"Aku dengar, sekte itu berselisih dengan sekte Yin."
"Lihat orang di sampingnya, itu adalah pria yang sama yang sering bersama patriark."
"Berani sekali ia membuat masalah baru dengan sekte Yin."
Rumah makan sedikit bising karena hampir semua yang ada di sana membicarakan tentang Ye Chen dan patriark Chu. Terlebih lagi, dua orang yang kini kehilangan lengannya adalah orang dari sekte Yin. Sekte yang kuat dan paling berkuasa di benua utara.
"Huss jaga bicaramu kalau kau tidak ingin dalam masalah." Seorang pengunjung lain menegur orang di dekatnya.
Ye Chen tak menggubris ucapan orang-orang itu, Ia malah memanggil pelayan untuk membayar. "Hilang nafsu makanku." kata Ye Chen ketika sudah keluar.
Bersama Chu Xiong, Ia kembali ke sekte Chu.
Sesampainya di sekte Chu, bukan sambutan yang mereka Terima tapi undangan menghadiri rapat dadakan untuk membahas masalah penting. Menurut keterangan penjaga, ada urusan dari sekte Yin yang datang meminta pertanggung jawaban sekte Chu karena Ye Chen adalah tamu sekte.
"Patriark, silahkan." sapa tetua Ma.
Chu Xiong mengangguk lalu duduk di kursi di sebelah kursi patriark, ini membuat semua yang hadir tidak mengerti. Apalagi setelah Chu Xiong meminta Ye Chen duduk di kursi patriark.
Ye Chen tidak menolak, bukan ingin merasa bangga tapi Ia harus menunjukkan wibawa agar tetua-tetua sekte tidak memandangnya rendah. Hanya ketua Ma yang mengangguk dan tersenyum, Ia bisa menduga kenapa Chu Xiong sangat menghormati Ye Chen.
"Patriark, bagaimana anda bisa?" tanya seorang tetua lain yang melihat Ye Chen duduk di sana.
Chu Xiong mengangkat tangannya, "Dengarkan semua, tuan Ye adalah junjungan dan tuanku." Chu Xiong menceritakan sedikit kisahnya, agar semua paham dan sabar.
Akhirnya semua mengerti dan tidak menyalahkan Chu Xiong, masalahnya sekarang adalah urusan dengan sekte Yin, ini bukanlah hal yang sepele. "Bukan tuan Ye yang memulai, melainkan wakil sekte Yin sendiri. Kurasa tetua Ma bisa menjelaskan." kata Chu Xiong lagi dan diperkuat dengan cerita tetua Ma.
Mendengar pertanyaan ini, semua orang terdiam, meskipun sebagian besar masih menaruh dendam tapi itu sudah lama berlalu dan lagi saat itu siapa saja dapat terbunuh maupun terbunuh di tengah pertikaian.
Ye Chen memegang bahu Chu Xiong, "Sudahlah, biar aku yang menyelesaikan ini." kata Ye Chen. "Para tetua tidak perlu khawatir, aku sendiri yang akan berkunjung ke sekte Yin, tapi tidak sekarang, ini masih belum waktunya." lanjut Ye Chen lagi.
Desas desus perseteruan sekte Yin dan sekte Chu makin tersebar luas, entah siapa yang memulai, yang jelas suasana sudah tidak aman lagi karena banyak yang mengambil kesempatan di tengah situasi ini.
Sekte Yin bukannya tidak mau membereskan masalah ini, tapi karena merasa sekte mereka lebih besar maka mereka enggan untuk membuka jalan pertemuan dengan sekte Chu, kecuali sekte Chu sendiri yang memulai.
Hampir seminggu lamanya Ye Chen berada di kota Shiyu, selama ini pula Ia terus mencari jejak raja Iblis lain tapi tidak menemukan apa-apa. Suatu hari Chu Xiong datang menemui Ye Chen, "Tuan, apa ada perkembangan baru?" tanyanya, Ia telah mendengar cerita dari Ye Chen tentang apa yang terjadi di benua timur dan barat dan juga tentang alam langit semu.
"Sepertinya mereka memang tidak pernah ada di sini," kata Ye Chen. "Hanya tinggal sekte Yin saja yang belum aku selidiki, kurasa sekarang saatnya aku berkunjung." lanjutnya.
"Kapan kita akan ke sana?"
"Bukan kita, tapi aku sendiri yang akan ke sana. Jangan libatkan sektemu." sahut Ye Chen, Ia tak mau menyeret murid-murid sekte Chu dalam masalah, cukuplah apa yang terjadi di waktu yang lalu. Jangan ada korban yang tidak perlu lagi.
"Tapi tuan...."
"Tidak ada tapi, besok aku akan pergi. Oh ya ini gulungan tehnik es, pelajari baik-baik dan ajarkan kepada murid-murid di sini." sebuah gulungan Ye Chen letakkan di atas meja.
"Mm tuan....." Chu Xiong tampak ragu saat ingin bertanya.
'Katakan."
"Kultivasi anda sekarang...."
'Jangan pikirkan itu, tapi kalau kau mau tau, anggap saja aku bisa meratakan sektemu dengan satu pukulan saja." jawab Ye Chen tetap tenang.
Chu Xiong melongo, "Meratakan sekte Chu dengan satu pukulan? benar-benar hebat." gumamnya. "Tentu saja hebat." sahut Ye Chen yang mendengarnya. "Kau juga harus tambah kuat, siapa tau nanti aku membutuhkan bantuanmu."
"Tentu saja tuan, aku pasti berlatih lagi." kata Chu Xiong.
Keesokan harinya Ye Chen berangkat menuju sekte Yin. Ia tidak memilih waktu untuk mengawasi sekte Yin, tidak peduli akan ketahuan atau tidak. Ia melayang tinggi di atas sekte Yin dan mengedarkan kesadaran jiwanya ke seluruh wilayah sekte.
"Mereka memang kuat." batin Ye Chen ketika merasakan ada lima tingkat Suci di dalam sekte. Sayangnya, tak ada jejak aura Iblis di sana. "Tunggu dulu, apa itu?"
Dalam pandangan Ye Chen, Ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah ruangan yang di penuhi energi dingin yang sangat kuat, anehnya, energi itu selalu bergerak. Saat mencoba mendeteksinya lagi, jiwanya bergetar. "Aku harus turun." batinnya lagi.
"Berhenti, siapa di sana!" teriak seorang penjaga dengan heran ketika melihat Ye Chen berjalan di dalam gerbang. Mustahil Ye Chen bisa melewatinya tanpa Ia ketahui.
Ye Chen tidak menggubris nya, Ia melangkah mendekat ke sebuah ruangan di tengah sekte. Di dalam ruangan inilah tersimpan aura yang tampak akrab dengannya.
"Oh jadi begini sikap seorang tamu jika datang berkunjung?" belum selesai ucapan ini, dua orang tiba-tiba saja muncul menghadang Ye Chen.