Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Haruskah Ia tinggal Di Kamarku?


"Tidak jangan, mohon ampunan tuan."


Ye Chen tidak menggubris ucapan pria di depannya, Ia tetap berniat membelahnya, seperti niat pria itu kepadanya.


Jleebb..


Ye Chen menusuk lengan pria di depannya. "Katakan! siapa yang menyuruhmu!"


"Tidak tuan jangan... orang ini sangat kuat."


Blaarr...


Belum sempat bertanya lagi, Ye Chen melihat kembang api meledak di atas kepalanya.


"Sial aku lengah." gerutu Ye Chen yang menyadari salah satu musuhnya melepas tanda, meminta bantuan.


Ye Chen melesat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, dengan cepat Ia membunuh dua musuh yang tersisa.


Wuss...


Merasa tak ada waktu lagi, Ye Chen memasang aray ilusi yang menutup tempat itu.


Bukan takut, Ia hanya tak mau menambah masalah lagi. Ye Chen juga menyesal tidak sempat mengorek keterangan dari orang yang menyerangnya.


Tidak menunggu lama dua bayangan datang mendekat, dua orang tingkat Langit tinggi.


"Apa kau yakin ini tempatnya?"


Yang di tanya malah diam sambil mengamati jalan sepi di depannya.


"Kemana mereka pergi? aku sangat yakin, tanda itu dari sini."


"Tidak ada apa-apa di sini, kita berpencar, cari di sekitar sini. Kalau sudah begini, aku tidak peduli anak itu harus mati."


"Bukankah itu pelindung paviliun Teratai? rupanya dia dibalik semua ini, mungkinkah ketua Gu Liang menyuruhnya membunuhku?"


Berbagai muncul di benak Ye Chen, bukankah dia yang tidak mau kerja sama itu berlanjut? pikir Ye Chen.


Setelah merasa aman, Ye Chen melepas aray ilusi yang Ia pasang dan kembali ke penginapan. Membersihkan diri dan pergi.


Ye Chen berpikir harus segera meninggalkan penginapan dan kembali ke kota. Ia harus menyelidiki kenapa paviliun Teratai menginginkan nyawanya.


Di gedung paviliun Teratai, ketua Gu Liang menerima laporan dari pelindung paviliun. Ia terlihat gusar.


"Kau ceroboh, bagaimana kalau anak itu berhasil lolos dan mengetahui rencana kita?"


"Maaf ketua, aku juga tidak menyangka dia bukan tandingan empat bersaudara itu."


"Apa orang tua itu masih keras kepala?" ketua Gu Liang bertanya pada pelindung paviliun. "siksa lagi dia, kalau masih tidak mau juga."


"Baik ketua."


...


Ye Chen yang berada si sebuah penginapan lain termenung seorang diri, Ia memikirkan bagaimana caranya masuk ke dalam paviliun.


Pikirannya sederhana saja, seseorang menginginkan nyawanya, tentu saja Ia tak bisa tinggal diam saja. Lebih baik membunuh daripada terbunuh.


Selama dua hari ini Ye Chen menyelidiki paviliun Teratai tapi tidak ada yang aneh, aktifitas di luar gedung paviliun sama seperti hari-hari sebelumnya.


"Saudara Chen, anda di sini?" sebuah suara mengagetkan Ye Chen yang duduk di rumah makan penginapan.


Bingung karena tidak tau siapa yang menyapanya, Ye Chen mengabaikan orang yang memanggilnya.


"Saudara Chen, tunggu sebentar... aku Ma Dong, salah satu peserta turnamen dari kota Kenanga."


Ye Chen hanya mengangguk, dia sudah bukan peserta lagi jadi menurutnya untuk apa lagi mengenal para peserta ini pikirnya tapi Ma Dong yang tidak tau malah mengenalkannya pada peserta yang lain.


Tidak berapa lama muncullah para peserta lain, Ma Dong melambai memanggil mereka datang bergabung.


"Nah saudara Chen, mari kuperkenalkan dengan yang lain." ajak Ma Dong. Ye Chen mau tidak mau ikut berkenalan.


Tadinya mereka bertujuh tapi karena yang dua orang terluka oleh Ye Chen maka peserta dari kota Kenanga hanya mereka berlima saja.


"Nah yang itu, gadis cantik berpakaian biru itu adalah nona Lu Jia Li, kau pasti sudah tau. Gadis yang di sampingnya itu adalah nona Gu Xia, putri ketua Gu Liang pemilik paviliun Teratai."


Ye Chen tidak menaruh perhatian pada yang lain, Ia terpaku menatap Gu Xia. Tanpa sadar Ia bergumam mengatakan cantik.


Memang putri Gu Liang ini sangat cantik, kulitnya putih mulus dibalut pakaian berwarna kuning. Sungguh sebuah keindahan yang nyata.


"Tapi nona Lu Jia juga tak kalah cantik." Ma Dong seolah masuk ke dalam hayalan Ye Chen. "Iya betul, nona Lu Jia juga sangat cantik." gumam Ye Chen tanpa sadar.


"Ehemm...."


Suara deheman mengagetkan Ye Chen dan Ma Dong. Tampa gugup ketika melihat orang yang mereka bicarakan berdiri di depan mereka.


"Eh iya, bagaimana... oh kalian sudah di sini."


"Apanya yang sudah di sini? bukankan kau yang memanggil kita bergabung di sini?"


Ye Chen hanya menunduk malu, memang tidak pantas membicarakan orang lain terlebih lagi orangnya berdiri tepat di depan mereka.


Dengan sedikit gugup Ye Chen memperkenalkan diri. "Ye Chen, namaku Ye Chen. Kalian bebas memanggilku apa saja."


Suasana kembali cair ketika hidangan yang mereka pesan datang, Ye Chen yang memang sudah menyantap hidangannya tidak ikut makan lagi.


Para peserta turnamen dibagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat kultivasi. Kelompok pertama adalah peserta yang berada di tingkat Bumi dan kelompok kedua adalah peserta yang berada di tingkat Emas.


Ye Chen dan Ma Dong masuk ke kelompok kedua sedangkan Lu Jia Li dan dua orang lagi masuk ke kelompok pertama.


Gu Xia, masuk dalam kelompok kedua. Gu Xia ini bukan dari kota Kenanga melainkan dari ibukota kekaisaran.


"Nona Gu," Ye Chen membuka pembicaraan. "Aku sudah bertemu dengan ayah anda, ketua Gu Liang dan maaf aku tidak bisa mewakili paviliun Teratai lagi." Ye Chen berpikir, Gu Xia dan yang lain harus tau masalah ini.


Gu Xia bukan kaget, bukan karena Ye Chen tidak menjadi wakil paviliun tapi karena bertemu dengan ayahnya.


"Kapan anda bertemu ayahku? sudah satu bulan ini, sejak kembali dari akademi, ayahku bahkan tidak mau bertemu denganku."


Di kekaisaran ini terdapat sebuah akademi, khusus mendidik generasi muda menjadi kultivator. Berbagai disiplin ilmu di ajarkan di sini, mulai dari tata negara, formasi, alkemis. Tapi yang paling banyak peminatnya adalah kultivator.


Semua murid akademi harus menjadi kultivator terlebih dahulu baru kemudian dibebaskan untuk memilih disiplin ilmu sesuai minatnya.


"Baru sekitar empat hari yang lalu aku bertemu dengannya." kata Ye Chen.


"Tidak mungkin," bantah Gu Xia. Setiap hari aku datang ke paviliun ingin bertemu ayahku tapi beliau tidak pernah keluar."


Ye Chen berpikir keras, pasti sesuatu telah terjadi. Kalau dipikir lagi, apa untungnya paviliun Teratai membunuhku. Tidak menjadi wakil paviliun bukanlah hal yang besar sampai menganggapku berbahaya.


"Atau jangan-jangan ayahmu menyiapkan kejutan untukmu?" Lu Jia yang dari tadi hanya diam mengeluarkan pendapatnya yang terkesan asal.


"Aku mengenal ayahku, tidak mungkin ada kejutan. Lagi pula memang ada apa sampai Ia mau memberi kejutan segala."


"Begini saja, bantu aku masuk paviliun. Aku akan menyelidikinya." kata Ye Chen. "Apa kau bisa nona Gu?"


"Bisa saja, tapi...." Gu Xi tampak ragu.


"Tapi apa adik Gu? apakah kau tidak mau mengetahui keadaan ayahmu?" tanya Ma Dong yang memang usianya lebih tua, dan sudah mengenal Gu Xia lebih lama.


"Bukan begitu, tapi saudara Chen akan tinggal dimana? tidak mungkin kan Ia tinggal di ruangan untuk tamu, nanti bisa ketahuan kalau ada orang lain di paviliun."


"Apa harus tinggal di kamarku?" Gu Xia bergumam pelan dengan muka memerah. Sementara yang lain akhirnya mengerti kesusahan Gu Xia.