
Tehnik Tapak Jiwa, tehnik ini sesuai namanya adalah tehnik yang menggunakan kekuatan jiwa yang diselimuti Qi.
Karena kekuatan jiwa Ma Dong masih belum memenuhi syarat untuk bisa digunakan, maka Ye Chen merubahnya dengan menggunakan Qi yang diselimuti kekuatan jiwa.
Ye Chen lalu mengajarkan setiap detail dari tehnik ini, "perhatikan baik-baik, ingat pusatkan Qi di seluruh telapak tangan, kalau sudah, cobalah salurkan kekuatan jiwamu di tengah telapakmu."
Teori memang gampang tapi prakteknya sangatlah sulit, berulang kali Ma Dong harus pingsan karena terlalu banyak menggunakan kekuatan jiwa.
Pernah sekali waktu kedua tangan Ma Dong melepuh dan jari-jarinya retak karena tidak kuat menahan tekanan yang muncul akibat penggabungan Qi dan kekuatan jiwa.
Dua hari berlalu, sebelah tangan Ma Dong sudah sembuh sementara tangan yang satu lagi masih di balut.
Hari ini adalah seleksi kedua turnamen, Semua perserta sudah berbaris berkumpul.
Panitian turnamen lalu mengarahkan peserta untuk mengambil nomor urut, di mulai dari tingkat Emas lalu tingkat Bumi.
Di tingkat Emas, Lu Jia mendapat giliran pertama. Sementara di tingkat Bumi, Ye Chen mendapat giliran terakhir setelah Ma Dong.
"Huff... Syukurlah, giliranku masih jauh." ucap Ma Dong, kalau saja Ia mendapat giliran pertama atau kedua, Ia sudah dipastikan gagal. Tidak mungkin Ia akan bertahan dengan sebelah tangan yang di balut.
"Peserta Lu Jia Li, harap bersiap." suara panitia turnamen memecah keheningan arena.
"Semangaaat...! teriak Ma Dong menyemangati Lu Jia tapi Lu Jia malah melihat ke arah Ye Chen.
Ma Dong yang melihat ini juga menoleh ke arah Ye Chen, lalu menyikutnya "Senior ucapkan sesuatu."
Ye Chen bukan tidak tau tapi tadi Ia teralihkan oleh aura membunuh yang menekannya.
"Nona Lu semangat."
Lu Jia Li tersenyum manis mendapat dukungan Ye Chen, para penontonpun spontan berteriak mendukungnya dengan kata-kata seperti memuja kecantikannya.
Hanya dua pasang mata yang tampak tidak begitu senang.
"Nah begitu, itu baru senior haha...."
"Cih kau ini." sahut Ye Chen lalu kembali memperhatikan panggung utama tempat orang-orang penting dan berpengaruh duduk. Ye Chen merasa aura membunuh yang ditujukan padanya tadi berasal dari sana.
Kembali ke arena turnamen, sudah berdiri Lu Jia Li yang memegang pedangnya, lawannya adalah seorang panglima muda.
Panitia turnamen memasang perisai yang menutup arena pertarungan.
"Nona, bersiaplah." kata panglima muda. Lu Jia mengangguk tanda Ia sudah siap.
Panglima muda ini menyerang Lu Jia dengan sangat cepat, tak memberi kesempatan Lu Jia untuk membalas.
Trank...
Trank...
Suara pedang beradu terdengar keras.
"Nona Jiaa... ayo kalahkan dia."
"Nonaa jangan mau kalah."
Sorakan-sorakan penonton mulai terdengar memberi dukungan. Semua penonton cemas melihat Lu Jia hanya bermain mundur dan bertahan.
"Sial gerakannya sangat cepat," gerutu Lu Jia dalam hati. "sama sekali tidak ada celah, kalau begini aku bisa kalah."
Lu Jia kembali memblok pedang yang menyerang pinggangnya dan mencoba membalas dengan menendang lengan panglima muda yang memegang pedang.
"Awass! hais anak itu sungguh ceroboh." Lu Ping berteriak dari panggung utama.
Panglima muda yang melihat Lu Jia menendang lengannya tersenyum, Ia mengangkat tangannya dan berputar sementara tangan yang lain memukul kaki Lu Jia.
Plakk...
Tapak panglima muda mengenai kaki Lu Jia dan membuatnya meringis kesakitan.
Tidak ada yang kejam, semua sudah sesuai aturan. Kalau tidak kuat melewati ujian ini maka jangan harap bisa berbuat banyak di benua utara nanti.
"Anak itu terlalu memaksakan diri." Kembali Lu Ping bergumam ketika melihat Lu Jia mulai menyerang menggunakan tehnik yang Ia latih.
Tapi Ia kaget melihat gerakan Lu Jia yang bisa memberikan tekanan pada lawannya.
"Eh bisa seperti itu ternyata, gerakan itu... angkat kaki kiri, bukan... ...." Lu Ping sendiri bingung, gerakan-gerakan Lu Jia sekilas mirip dengan apa yang Ia berikan tapi sangat berbeda dan terlihat sangat cocok dengan kondisi Lu Jia saat ini.
Di arena pertarungan, Lu Jia yang sudah putus asa mendengar suara di kepalanya. "Tenanglah, kau tidak akan bisa menang jika putus asa begitu." Lu Jia sempat mencari-cari di antara penonton berharap bisa mengetahui orang yang menyemangatinya.
"Fokus ke lawanmu!" Lu Jia kaget mendengar Ia dibentak, "Lompat ke kiri, gunakan pedangmu untuk menopang kaki kanan yang terluka."
"Apa kau mengerti?" Lu Jia mengangguk sambil tersenyum dan mulai menyerang sesuai instruksi yang Ia dengar.
Semua penonton mulai bersorak mendukung Lu Jia, tapi tidak panitia turnamen dan penonton di panggung utama. Mereka merasa ada yang salah, tidak mungkin panglima muda bisa terdesak. Pasti ada yang menuntun Lu Jia dan ini tidak dibenarkan dalam sebuah kompetisi.
Tapi karena tidak menemukan siapa yang membantu Lu Jia, mereka hanya bisa diam sambil menikmati pertarungan yang masih berlangsung.
Panglima muda yang berada di tingkat Bumi tahap menengah ini mulai terdesak, darah mulai terlihat dari luka sayatan pedang Lu Jia.
Lu Jia sendiri sudah tampak sangat lelah, bermain bertempur dalam tempo tinggi sangat menguras tenaganya, belum luka di kakinya yang kadang membuat gerakannya kaku.
Sadar akan keadaan Lu Jia yang mulai lelah, panglima muda melompat kebelakang dan mulai mengeluarkan tehnik andalannya. Pedangnya Ia lemparkan dengan sangat cepat mengincar dada Lu Jia lalu Ia sendiri melesat cepat memberi serangan susulan.
Aura tekanan tingkat Bumi tengah mulai menekan Lu Jia hingga pertahannya goyah.
"Gawat...!"
"Panglima, hentikan!" teriak panitia turnamen hampir berbarengan dengan para tetua.
"Lu Jia! perisai," suara bentakan keras di kepalanya menyadarkan Lu Jia. "Tarik nafas panjang, keluarkan semua Qi alirkan hanya ke kedua telapak tanganmu dan hantamkan ke depan." Lu Jia mengikuti semua instruksi di kepalanya.
Hyaaa....
Lu Jia berteriak keras sambil mendorong kedua tangannya tapi itu tidak cukup kuat, pedang panglima muda memang bisa Ia tahan tapi tidak dengan pukulannya.
"Tahan sebentar, ... sekarang! gerakkan kedua tanganmu ke kanan, ikuti aliran tekanan lawanmu."
Blaarr...
Aaahh...
Ledakan keras terdengar di susul teriakan kesakitan Lu Jia, untung saja Ia masih sempat mendengar suara yang menyuruh nya berguling ke kiri pada saat paling kritis.
Semua orang terdiam, Lu Jia selamat dari maut. Sementara panglima muda yang melihat serangannya gagal kembali menyerang Lu Jia yang tergeletak tak berdaya.
Fluktuasi energi berputar di sekeliling panglima muda, menandakan Ia telah mengeluarkan seluruh energinya sampai ke tahap puncak.
Dengan mulut tersenyum sinis Ia kembali menyerang Lu Jia.
"Mati kau...!"
Tidak ada yang sempat bereaksi ketika serangan mematikan ini menghantam Lu Jia, bukan tidak berdaya tapi memang tidak ada yang akan mengira panglima muda akan berbuat sampai sejauh itu.
"Lu Jiaa... cucukuu!!"
Teriakan keras terdengar dari Lu Ping dari panggung utama.
Ia melesat cepat ke arena yang masih tersegel dan mencoba menghancurkannya, tapi terlambat.
Blamm...
Ledakan keras kembali terdengar di tempat Lu Jia, menghancurkan sebagian arena yang tertutup debu yang mengepul tinggi.
Semua diam, tak ada yang menyangka hal ini terjadi.
Para peserta yang lain bahkan memejamkan mata, tidak sanggup melihat Lu Jia lagi.
Gu Xia, Lu Jiao dan Ma Dong bahkan meneteskan meneteskan air mata, mereka semua mengenang Lu Jia sebagai teman yang baik.