Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Membakar Tetua Ong


Ye Chen tidak menggubris ucapan tetua ini, bukan takut hanya saja tidak mau membuat masalah baru.


"Tuan Han, kedatanganku ini selain membalas kunjungan anda, aku juga ingin mendiskusikan sesuatu."


"Katakan, apa yang anda ingin diskusikan." ucap Han Le yang tampak tertarik dengan ucapan Ye Chen.


Tapi lain lagi dengan tetua yang menyindir tadi, Ia masih saja merasa tidak puas dan kali ini rasa tidak puasnya Ia tunjukkan dengan berkata Ye Chen hanyalah anak kecil yang kebetulan menguasai sedikit keahlian alkemis, kemudian menjadi pemimpin rumah lelang.


"Tetua Ong," kata Han Le. "Ada apa denganmu? tuan Ye adalah tamu kita, kaupun tau hal itu. Jangan ...


Ye mengangkat tangannya, memotong ucapan Han Le. "Oh jadi namamu tetua Ong, katakan apa maumu, aku sudah cukup sabar dari tadi."


"Hahaha benarkah? kau pasti tau, ayo akan kutunjukkan tehnik akademi kekaisaran yang sebenarnya."


"tuan Han, bolehkah aku membunuhnya?" Ye Chen menoleh dengan senyum khasnya.


Terkejut sesaat karena yang aneh dari senyum Ye Chen, Han Le kemudian berkata jangan dimasukkan ke dalam hati. "Dan kau tetua Ong, ingat batasmu." kata Han Le sekaligus memperingatkan tetua Ong. Kalau boleh jujur, Ia sebenarnya ingin melihat juga sampai dimana kekuatan Ye Chen.


Han Le lalu berjalan ke arena, lalu mengaktifkan aray pelindung arena.


Tanpa basa basi Ye Chen mengambil pedang hitamnya, merentangkan tangan kanan di depan dada. Pun begitu dengan tetua Ong, Ia juga telah memegang pedang yang perlahan berubah menjadi merah.


Tetua Ong bukanlah orang yang gampang tersulut amarah atau suka memandang rendah orang lain. Sikapnya ini tak lain hanya ingin menunjukkan kekuatan akademi kekaisaran di depan semua orang.


Itulah mengapa Ia sangat tidak senang ketika Ye Chen mengalahkan murid-murid akademi yang tingkat kultivasinya di bawah Ye Chen.


Sama seperti tetua Ong, Han Le awalnya kurang senang karena Ye Chen seperti mempermainkan lawannya tapi akhirnya Ia sadar ketika melihat gerakan-gerakan murid-murid itu menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Inilah yang tidak di sadari oleh tetua Ong.


Berneda dengan Ye Chen, Ia tidak peduli apa pikiran Han Le dan tetua Ong, Ia hanya ingin menghajar tetua Ong yang terlalu berisik.


"Kau terlalu membanggakan dirimu sendiri." ucap Ye Chen sambil melepas energinya sampai di tahap menengah, sama seperti tetua Ong.


Tetua Ong yang tidak menyangka hal ini mulai berhati-hati. Ia langsung memasang perisai tubuh.


Syuuut...


Ye Chen melepaskan tebasan, Qi pedang yang besar meluncur cepat.


Blaarr...


Ledakan besar terdengar ketika Qi pedang menghantam perisai tubuh tetua Ong yang belum sempat mengeluarkan tehniknya.


"Langkah Angin Kedua." gumam Ye Chen.


Ye Chen langsung menggunakan pedang hitam menyerang seluruh bagian tubuh tetua Ong yang masih saja terus bertahan dengan perisai tubuhnya.


Traak... traak...


Suara benturan perisai tubuh dan pedang terdengar sangat jelas. "Sial, dia sangat cepat." batin tetua Ong yang terus fokus menjaga perisainya.


Ye Chen melompat ke belakang, mengambil jarak dua langkah.


Gerakan yang tetua Ong pikir karena Ye Chen lelah ini tiba-tiba membuatnya terbelalak, "Gawat...!" serunya sambil melompat menjauh. hanya sayang, Ia terlambat menyadarinya.


"Tehnik Tapak Jiwa...."


Blaarrr...


Ledakan keras terdengar, tubuh tetua Ong terhempas keras menghantam tanah, debu mengepul tinggi mengaburkan pandangan di dalam aray.


Han Le serta tetua dan para murid yang menyaksikan pertarungan ini tak dapat percaya tetua Ong tak bisa berkutik.


Di arena pertarungan, tetua Ong bangkit berdiri. Tak ada lagi senyum merendahkan di wajahnya.


"Tubuh api...." gumam tetua Ong.


"Tetua Ong! Jangan berlebihan." Sekali lagi Han Le berteriak dengan khawatir diikuti oleh yang lain.


Ye Chen yang melihat ini hanya tersenyum, "Oh rupanya kau sudah mulai serius yah."


"Jangan sombong, tersenyumlah sepuas hatimu sampai aku membakarmu." ancam tetua Ong.


Senyum Ye Chen berubah menjadi seringai tipis, alasan Ia tidak melukai tetua Ong karena sejak awal Ia tidak pernah mengancamnya. Namun sekarang lain lagi, Ia akan dibakar.


"Akan kutunjukkan padamu, bagaimana panasnya api itu." gumam Ye Chen dengan suara dingin, seolah berasal dari tempat yang sangat dalam yang disertai aura dingin mencekam.


"Gawat...!" seru Han Le, Ia langsung melesat cepat ke arena, berusaha menghentikan pertarungan.


Sayangnya Ia terlambat, tetua Ong telah melancarkan serangan pertamanya disusul serangan kedua dan ketiga.


Serangan pertama tetua Ong adalah kabut asap yang panas lalu disusul bola-bola api kecil, ikut mengepung Ye Chen.


Serangan terakhirnya adalah dua Qi api berbentuk pedang. Ketiga serangan ini membuat udara di dalam aray jadi sangat panas, terlihat merah membara dari luar.


Bagi Ye Chen sendiri, ini masih lebih lemah dibanding api Phoenix dan Naga airnya. Menggunakan Qi Naga es, Ye Chen menahan semua serangan tetua Ong. Membuat api di dalam aray padam dan membentuk kepulan asap tebal.


Aaahh...


Suara teriakan tetua Ong terdengar keras, pedang Ye Chen menancap dalam di pahanya.


Dan sekali lagi teriakan itu terdengar di selingi suara tulang yang patah.


"Tuan Ye, anda...." ucap Han Le tidak percaya Ye Chen mematahkan kaki tetua Ong setelah menusuknya tidak berdaya.


Ye Chen menggeleng sambil menunjuk ke atas, otomatis Han Le juga melihat ke atas dan air mukanya segera berubah.


Betapa tidak, sebuah bola api besar dan padat, berputar dengan cepat. Menghantam tubuh tetua Ong yang sudah tak berdaya.


Han Le yang sudah berada di samping tetua Ong segera membuat segel pelindung, hanya sayang lagi-lagi Ye Chen yang sudah tau maksud pimpinan akademi kekaisaran ini juga membuat tehnik yang sama persis dengan yang tetua Ong keluarkan. Tehnik kabut api.


Blaaarrr....


"Tuan Ye, anda terlalu kejam, bukankah tetua Ong sudah tak berdaya?" ucap Han Le sedikit tenang, bahkan diapun tidak luput dari serangan kabut api ini.


"Han Le, kau terlalu naif," ucap Ye Chen, tak mau bersopan-sopan lagi. "Kau dengar sendiri tadi, dia berniat membakarku. Kalau aku tidak kuat, pasti aku sudah jadi daging panggang dan kau hanya akan menonton di pinggir."


Han Le tak bisa berkata apa-apa lagi, ucapan Ye Chen benar. mungkin saja sekarang Ye Chen sudah jadi abu tanpa dapat Ia cegah.


Tetua Ong juga masih bernafas walaupun sangat lemah. "Aku memberimu muka, kalau tidak jangan harap masih bisa bertemu tetuamu itu."


Diam, tak ada yang berani mengeluarkan suara. Tetua yang mereka hormati dikalahkan dengan telak oleh seorang pemuda yang bahkan usianya belum dua puluh tahun.


Hanya satu orang yang memandang dengan senyum, dia adalah Han Meilan.


Tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan kekaguman terhadap Ye Chen.


**


Selamat Hari Raya Idul Fitri


Minal 'Aidzin wal Fa idzin