Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Berdebat


Bukan main marahnya tetua Kun melihat muridnya tumbang begitu saja, dia tidak habis pikir bagaimana Ye Chen menyerangnya. Bahkan itu terjadi tepat di depan matanya.


Pun begitu dengan murid dalam lainnya, mereka sama terkejutnya tapi mengesampingkan semua keterkejutan mereka, empat orang tersisa segera merangsek dengan kekuatan penuh, tanpa peduli akibatnya.


Hanya ketua Bong yang geleng-geleng kepala, menyesali tetua Kun yang tak mau menghabisi persoalan.


Sembilan murid tersisa mulai mengepung Ye Chen, namun semua seperti tidak ada artinya. Satu maju, satu tumbang. dua maju, dua tumbang. Ye Chen bahkan tidak repot-repot menggunakan segala macam teknik , hanya dengan lambaian tangan atau kontak fisik sudah cukup membuat kesembilan murid dalam itu tumbang.


"Ketua Bong, ayo kita pergi. Ayahnya anak-anak nakal itu kelihatan gusar, aku takut dia nanti marah-marah hehe."


"Baiklah, kurasa kau benar juga. Nah tetua Kun, kami pergi dulu."


Ucap ketua Bong, alasan lebih tepat dia ingin pergi karena tak ingin tetua Kun menjadi lebih malu kalau dikalahkan Ye Chen. Reputasi sangat penting, sungguh sebuah langkah mundur jika tetua Kun sampai dihajar murid terluar di depan semua orang.


"Tunggu!" seru tetua Kun. Namun, Ketua Bong mendahuluinya, Ia berkat, "Tetua Kun, jangan banyak omong kosong lagi, murid bimbingan mu sudah kalah, atau kamu mau menindas murid terluar?"


"Haha ketua Bong, aku tak akan mengotorkan tanganku dengan melukainya. Tapi tak mungkin kan kalau aku tidak memberi sedikit hadiah untuknya?"


Tetua Kun yang tidak mau menerima kekalahan telak murid bimbingannya mengatakan maksudnya, dia juga sebenarnya merasa terlalu tinggi untuk berbuat sesuatu kepada Ye Chen tapi jika hanya memberi sedikit pelajaran, Ia juga tidak keberatan. Lagipula tidak ada seorang tetua yang tidak akan membalas perlakuan seseorang terhadap muridnya.


Sedangkan Ye Chen yang baru saja memahami banyak teknik baru selama di perpustakaan sangat bersemangat, dia ingin mencoba salah saru teknik itu.


Tadinya dia akan mencobanya pada murid dalam itu tapi mereka terlalu lemah, khawatir nanti akan terluka sangat parah.


Ye Chen lalu berkata kepada ketua Bong, "Apakah tidak masalah kalau orang tua terluka?"


"Eh? senior Ye, aduh... ah baiklah, aku juga mulai kesal degannya tapi ingat jangan sampai terluka parah."


"Tenang saja, palingan hanya terbakar sedikit hehe."


"Teknik Debu Api."


Ye Chen menggumamkan teknik yang baru saja dipahaminya di dalam perpustakaan lantai tiga saat menapaki gerakan tinju yang dilakukan oleh tetua Kun.


Teknik ini bukan teknik jarak jauh, melainkan teknik jarak dekat.


Ketika diaktifkan, ada semacam debu yang mengelilingi target dan debu-debu ini akan meledak lalu membakar target, api yang tercipta ini tidak akan padam kecuali debu-debu itu habis.


Hebatnya lagi, debu ini bukan hanya akan menargetkan satu orang saja tapi semua area yang tertutup oleh debu. Semakin kuat tekniknya, maka semakin luas dan tajam api yang tercipta.


Ada tiga tingkatan tahap pada teknik ini, tahap pertama, debu yang muncul sangat kasar sehingga api yang dihasilkan tidak terlalu besar.


Tahap kedua, debu api sudah halus dan sangat panas dan saat terbakar, api yang dihasilkan bisa menembus pori-pori kulit sehingga menghasilkan daya rusak yang hebat sedangkan tahap ketiga debu api jauh lebih halus lagi sehingga bisa masuk langsung masuk ke dalam pori-pori kulit dan terbakar dari di sana.


"Teknik itu? dari mana senior Ye ini mempelajari nya?" Ketua Bong terkejut ketika melihat teknik itu.


Teknik yang sangat tinggi dari sekte Api Abadi, selama ini belum ada yang bisa menguasai nya sampai ke tahap ketiga.


"Benar-benar teknik yang mengagumkan." Ketua Bong berkata dengan suara pelan, Ia hanya melirik sekilas ke arah tetua Kun yang sibuk meresapi pil pemulih.


Teknik Debu Api, meski ada tetua sekte yang menguasai nya tapi tidak banyak, yang diketahui pernah menggunakan teknik ini selain pemimpin sekte adalah wakil pemimpin sekte, yakni tetua Su.


"Senior Ye, bukankah anda tadi bilang hanya memberi sedikit pelajaran? kenapa jadi begini? hais biar begitu, tetua Kun juga adalah seorang tetua sekte."


"Hehe maaf, maaf... aku tak mengira tetua Kun ternyata sangat lemah. Padahal aku baru mau mecoba tahap selanjutnya menggunakan teknik yang lain.


Tetua Kun tidak mungkin sampai menderita luka begitu kalau tidak meremehkan kekuatan Ye Chen, seandainya saja dia lebih hati-hati dan tidak melangkah dendam tergesa-gesa, Ye Chen mungkin butuh beberapa saat setelah berhasil mengaktifkan Teknik Debu Api.


Namun, semua sudah terlambat, kalau pun tetua Kun ingin mencoba lagi, itu hanya akan membuatnya terluka lebih parah. Alasan lain dia bisa pulih dengan cepat adalah karena Teknik Debu Api baru pertama kali Ye Chen gunakan, itu pun tidak dalam kondisi aslinya. Tapi yang kedua pasti tidak akan meleset lagi.


"Kita pergi sekarang." ujar Ye Chen. Ia berbalik dan pergi dari sana, diikuti ketua Bong yang masih tidak percaya Ye Chen berhasil menguasai teknik langka dari sekte Api Abadi.


Wilayah sekte terluar.


Ketua Bong yang penasaran dengan teknik Debu Api yang Ye Chen bertanya dengan penuh minat.


"Senior Ye, teknik tadi... "


"Oh itu, baiklah aku tak akan menyembunyikan nya darimu. Teknik itu aku dapatkan dari lantai tiga perpustakaan."


Ye Chen juga tak mau dibilang mengambil teknik orang lain, "Kalau mau, aku bisa memberikannya padamu." sambungnya lagi.


Diam..


Ketua Bong terpana, ini adalah teknik sekte, sebuah teknik yang langka yang tersegel di lantai tiga. Artinya teknik ini tidak bisa sembarangan dipelajari karena bisa sangat membahayakan jika tidak mendapat bimbingan langsung.


Dan Ye Chen menawarkan padanya? ketua Bong tak percaya dan sekaligus merasakan hasrat yang menggebu.


Kalau saja Ye Chen tidak menunjukkan nya saat melawan tetua Kun, ketua Bong pasti tidak akan percaya dan pasti akan menertawakan ucapan Ye Chen. Ketua Bong memastikan sekali lagi sebelum berterima kasih karena Ye Chen ingin memberikan pelajaran.


"Tapi apa tidak masalah? jujur saja aku merasa tidak enak, hanya karena penasaran dan tak sengaja aku bisa masuk ke lantai tiga."


"Senior Ye, tidak masalah. Baiklah aku akan bercerita sedikit ... "


Lantai tiga memang tersegel, apa yang ada di dalam adalah teknik langka dari sekte, tidak sembarang orang boleh masuk dan mempelajari teknik yang ada di sana. Rata-rata teknik yang ada si sana baru boleh dipelajari jika sudah mencapai ranah Dewa Raja, kalau tidak jangan harap bisa menguasainya tanpa terluka.