Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
keberhasilan Yue


Status dan keberadaan Leluhur Phoenix jauh lebih tinggi daripada Phoenix Agung, lagipula Menara Api hanyalah tempat tinggal niatnya saja. Bahkan jika itu benar-benar Phoenix Agung, dia harus tunduk di bawah kaki leluhur Phoenix.


Waktu berlalu, api merah yang mengikis Yue perlahan redup lalu menghilang.


Kemudian, Ye Chen menetralkan nya dengan menyuntikkan inti kehidupan leluhur Phoenix ke dalam jiwa Yue. Untuk membantunya menekan api Phoenix Agung.


Tidak butuh waktu lama sampai keadaan Yue bisa stabil. Dua hari kemudian, Yue benar-benar telah keluar dari keadaan kritis nya dan sehari kemudian, niat api Phoenix telah sepenuhnya meresap ke dalam lautan jiwanya.


"Kakak Chen, ini... terima kasih."


Tatapan matanya melembut, beberapa perubahan intens dapat terlihat jelas pada diri Yue. Rambutnya perlahan berubah warna menjadi merah cerah, jika dilihat lagi dengan seksama, akan terlihat ada aura api pada rambut merah yang melambai lembut itu.


Kulitnya yang putih tampak lebih hidup, matanya bersinar terang tanpa keraguan dan bagian yang menonjol dari tubuhnya tampak lebih menarik.


Secara garis besar, dapat terlihat kalau Yue saat ini berubah menjadi wanita yang sangat cantik, berani dan lebih menantang, terutama bibir merah cerinya yang begitu menggoda.


"Selamat telah mendapat niat api Phoenix. Adik Yue, kamu perlu mengkonsolidasikan kekuatan barumu."


Ye Chen hanya bisa menghela nafasnya ketika berbicara, keindahan yang tepat di depan matanya ini membuat jantungnya ingin melompat.


"Euhm, kakak Chen jangan pergi."


Bahkan suaranya bisa membuat pria salah paham, Ye Chen sampai tak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam ketika Yue tanpa sungkan sedikit pun perlahan duduk di depannya dan larut dalam keheningan, mencoba memahami kekuatan niat api Phoenix.


"Adik Jia...."


Malam purnama yang lembut dan mentari yang hangat. Ye Chen sampai larut dalam kedua situasi ini, bukan lagi tentang tubuh fisik dan keanggunan keduanya tapi eksistensi alam yang melambangkan keduanya.


Wuss~~


Gelombang hangat yang menenangkan terpancar kuat dari tubuh Ye Chen. Pengertian dalam jiwanya semakin larut, masih terbayang suasana di saat dia sering mandi cahaya mentari dan sinar rembulan.


"Ini niat alam." gumam Ye Chen, heran sekaligus bahagia. Dengan memahami niat alam, dia akan mudah mengembangkan potensi dari setiap hukum yang Ia kuasai dan juga teknik jiwa yang baru saja Ia dapatkan.


"Kakak Chen, aku sudah selesai."


Ye Chen yang tengah tenggelam dalam pemahaman barunya menghentikan kegiatan nya, dia melihat Yue yang duduk di depannya.


"Ambil ini." ucapnya, memberikan sepotong baju dan celana. Yue tidak mengatakan apa-apa, Ye Chen juga langsung membalikkan badan setelah memberi pakaian.


Hasil yang lebih baik yang diperoleh Yue membuat semua orang penuh dengan sukacita kecuali satu orang, dia adalah Baiyun.


Di bawah kegelapan, dia memandang semua orang dengan tatapan pahit terutama kepada Ye Chen, karena dialah sehingga rencanannya tidak berhasil padahal tinggal selangkah lagi.


"Tunggu saja, aku akan membalas semua ini." ucapnya lalu meninggalkan area Menara Api. dengan wajah dingin.


"Giro, ikuti orang itu. Kalau dia curiga, bunuh saja."