Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Senior Chen


Setidaknya di kelas Formasi ini Ye Chen mendapatkan sedikit hiburan dibanding kelas lain dan tentunya karena di sana ada Miran juga yang menjadi temannya berlatih, ya meskipun Miran lah yang lebih banyak berlatih dibanding Ye Chen.


"Kakak Chen, senior memanggilmu, katanya ada pelatihan khusus untukmu yang baru masuk kelas ini." kata Miran pada suatu pagi.


"Baiklah," Sahut Ye Chen. Ia juga penasaran latihan apa yang akan senior berikan. "Eh, kau juga ikut adik Miran?" Ye Chen yang kini mengubah panggilannya bertanya heran, bukankah hanya aku yang dipanggil? pikirnya.


"Tentu saja aku ikut."


Di dalam ruang yang tidak begitu besar, senior dan murid-murid kelas Formasi sudah menunggu. Ye Chen lagi-lagi disuruh untuk berdiri di depan kelas, di samping senior.


"Kalian semua perhatikan baik-baik, hari ini kita akan belajar memasukkan hukum elemen ke dalam kubus formasi." kata senior, Ia menjelaskan bahwa latihan berikutnya adalah menangkap hewan di hutan, bukan lagi benda bergerak seperti yang sudah-sudah.


"Lalu untuk apa kita belajar hukum elemen?" tanya seorang murid.


"Bodoh! tentu saja untuk melumpuhkan hewan yang tertangkap. Sudah perhatikan baik-baik. dan kau, berlari lah." katanya kepada Ye Chen, namun Ye Chen hanya berjalan saja. Ia tau apa yang diinginkan senior ini.


"Terserah kau saja." kata senior yang melihat Ye Chen hanya berjalan pelan.


Wuss...


Kubus Formasi mengurung Ye Chen. "Perhatikan baik-baik." kata senior lagi, Ia lalu membuat beberapa segel lalu mengarahkan telapak tangannya pada dinding kubus. Rune kecil melingkari kubus formasi, seperti rantai yang mengikatnya.


Udara di dalam kubus formasi yang transparan itu perlahan berubah menjadi panas, tapi tidak cukup panas untuk berubah menjadi api seperti yang senior katakan.


"Hahaha kalian lihat? nah itulah bentuk hukum yang bisa dimasukkan dalam sebuah formasi." kata senior bangga. Sangat jelas terlihat bahwa Ia tidak sedang memberikan petunjuk tapi ingin mengerjai Ye Chen saja.


"Senior, hentikan! dia bisa terbakar."


"Benar senior!"


Beberapa murid mulai merasa kasihan. Tampak jelas Ye Chen mulai berkeringat karena panas dan jika diperhatikan lagi, ada bekas seperti terbakar pada pakaiannya.


"Semua orang ini sama saja," ucap Ye Chen dalam hati, Ia mengingat senior di kelas kultivasi. "Sebaiknya kubunuh atau kubakar saja ya orang ini." lanjut Ye lagi.


Brukk...


Ye Chen roboh dan pingsan.


"Kakak Chen, sadarlah." Miran menepuk-nepuk wajah Ye Chen berusaha menyadarkannya.


"Senior ini memang keterlaluan." kata murid yang lain.


"Uwaah panaas." Ye Chen yang pura-pura pingsan tersadar dan langsung diberi air oleh salah satu murid yang mengerubungnya.


"Terima kasih, aku sudah tidak apa-apa," kata Ye Chen. Ia lalu berdiri dan berkata kepada senior. "Senior, pelajaran anda sungguh hebat. aku kagum padamu. Bolehkah aku mencobanya?" pintanya.


"Hahaha tentu saja, nah kalian semua lihat kan? aku ini sangat hebat, buktinya dia tidak apa-apa bahkan sudah bisa memahaminya dengan baik." kata senior itu dengan bangga. Ia lalu menunjuk salah satu murid untuk menjadikannya percobaan Ye Chen.


"Senior, tidak ada dari kami yang akan kuat. Kalau senior yang hebat ini pasti kuat." Ye Chen.


"Benar sekali, aku pasti tidak kuat."


"Ya, sebaiknya senior yang melakukannya."


Akhirnya senior setuju, harga dirinya terlalu tinggi untuk menolak di depan murid-murid itu. Ye Chen tersenyum, "Teman-teman, silahkan maju kesini, lihat dari dekat ajaran senior kita yang hebat."


"Kakak Chen, kau yakin? senior takkan melepasmu lain kali, sudahlah, berhentilah main-main." kata Miran yang tau betul sifat senior itu, ucapan Miran ini didukung yang lain, mereka tak mau salah satu dari mereka menjadi korban lagi.


Wusss...


"Senior, bagaimana tadi... apakah betul begini? atau begini?" Ye Chen mencoba mempraktikkan segera dengan mengikuti apa yang senior itu lakukan tadi.


Anak ini, aku tak tau kalau ternyata Ia cukup hebat, pikir senior. "Bagus, ya, begitu." katanya yang masih belum sadar. "Aaah sudah, sudah cukup... berhenti."


Wuss...


Bukan hanya udara yang panas saja, tapi ada titik api yang mulai terlihat di dalam kubus formasi yang mengurung senior. "Aaaa panaas... berhenti atau...


"Hehe kini kau tau rasanya dibakar, enak bukan?" kata Ye Chen yang tidak peduli senior berkata apa. "Teman-teman ayo kita pergi."


"Tapi bagaimana dengan senior? dia bisa mati." ucap salah satu murid.


"Kalau begitu, kau bantu sana. Tadi dia tidak memberitahu cara menghentikannya jadi ya aku juga tidak tau."


"Ya aku juga tidak tau."


"Aku juga."


"Nah kalau begitu tinggalkan saja, kalau nasibnya bagus, pasti ada yang datang, kalau tidak ya sudah hehe." kata Ye Chen seenaknya saja sambil melangkah pergi.


"Tunggu dulu, aku lihat caramu tidak seperti biasanya. A-anu itu... bisakah kau mengajarkannya kepada kami semua?" pinta salah satu murid mewakili semuanya.


"Tidak masalah, asal kalian mau saja."


"Senior, terima hormat kami." kata para murid serempak, membuat tanda penghormatan dengan tangan mengepal di depan dada.


Orang yang belajar formasi tentu saja tau mana tingkatan formasi yang lebih tinggi dan ini terlihat saat Ye Chen menggunakannya tadi mereka pun dapat membedakannya dengan baik. Tapi bukan hanya itu saja yang membuat mereka mengangkat Ye Chen senior mereka, melainkan karena kagum dengan tindakan Ye Chen yang tanpa ragu, tidak ada ketakutan di matanya.


Sementara itu titik-titik api sudah mulai banyak bermunculan di dalam kubus formasi, senior yang terkurung di dalamnya dengan susah payah berusaha bertahan, berbagai upaya Ia lakukan namun semua sia-sia, Ia hanya bisa bertahan agar tidak tewas saja ketika lidah api mulai membakar pakaiannya.


"Wa-wakil tetua... syukurlah anda datang, ce-cepat... to-long aku." senior sudah sangat payah, sebagai tubuhnya sudah tampak sudah melepuh, pakaiannya sudah terbakar sebagian. Nasib baik wakil tetua kelas formasi datang memantau latihan, kalau tidak, dia pasti akan tewas terbakar.


Akademi gempar lagi, kali ini senior dari kelas formasi yang terluka parah. Sebelumnya dua orang senior dari kelas kultivasi yang juga terluka parah.


Namun lagi-lagi berita itu menguap saja, hanya nama senior Chen yang terngiang di pikiran semua orang.


Ye Chen sendiri sejak kejadian itu tidak pernah datang lagi ke kelas formasi, Ia sibuk sendiri di dapur akademi. Apalagi kalau tidak mencoba resep-resep baru menggunakan sumber daya herbal dari gudang sumber daya akademi dicampur herbal miliknya sendiri.


"Saudara Chen, tetua Lan memanggilmu." kata seorang petugas dapur. Ye Chen hanya mengangguk, menyelesaikan masakannya dan pergi setelah mencoba beberapa suap.


"Aku pergi dulu." ucapnya.


"Kawan-kawan, saudara Chen sudah selesai." baru saja kata-kata ini terucap, dari setiap sudut dapur melesat beberapa orang yang langsung mendekati petugas tadi


"Ingat, satu suap untuk satu orang." petugas itu mengingatkan kawan-kawannya."


Setelah itu tampak dua orang melesat dengan cepat, "Sudah habis?" kata mereka dengan nada kecewa.


"Haha siapa suruh datang terlambat?"


Sejak Ye Chen masuk ke dapur dan sering memasak di sana, Ia seolah menjadi pahlawan bagi petugas di dapur yang merupakan murid-murid akademi juga. Bagaimana tidak, setiap masakan yang dibuatnya sangat baik dan penuh dengan vitalitas.


Mereka akan setia menunggu Ye Chen selesai memasak dan berharap bisa mencobanya.


Tidak perlu pil kultivasi, bawakan saja senior Chen sumber daya herbal dan kau akan menerobos. Itulah ungkapan para murid yang bertugas di dapur yang tentu saja merahasiakannya pada murid lain.