Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Di Kamar Gu Xia


Ye Chen yang tidur pulas terkejut bangun ketika merasa sebuah tangan memeluk lengannya. lengannya menyentuh benda lunak yang beberapa kali Ye Chen rasakan.


Mulanya Ye Chen merasa nyaman, sambil senyum-senyum sendiri tapi itu tidak lama begitu Ia sadar tangan siapa yang memeluk lengannya.


"Nona Gu Xia...?" gumam Ye Chen. "Sejak kapan dia ada di sini? dan ini...."


Dengan sangat jelas, Ye Chen melihat Gu Xia tidur di depannya hanya memakai baju tidur tipis.


Lekukan Indah tubuh Gu Xia ditambah parasnya yang memang cantik berhasil membuat kerongkongannya kering.


Ye Chen serba salah, ingin menarik tangannya tapi takut tiba-tiba Gu Xia terbangun dan salah paham tapi kalau Ia terbangun dan melihat keadaan ini, pasti lebih salah paham lagi.


Kyaaa...


Apa yang Ye Chen kuatirkan terjadi, Gu Xia !terbangun dari tidurnya.


Mulanya Gu Xia mencium sesuatu yang lain di kamarnya, sebagai seorang kultivator, tentu saja Gu Xia sangat peka meskipun sedang tertidur. Tapi entah kenapa malam ini Ia seolah tidak merasakan apa-apa, mungkin sudah takdirnya begini.


Gu Xia membuka mata, wajah Ye Chen yang memang tampan tepat di depannya sendiri sampai hembusan nafas Ye Chen seperti membelai wajah Gu Xia saking dekatnya.


Sempat terlena sebentar dan mengagumi Ye Chen, Gu Xia akhirnya sadar akan keadaanya dan berteriak sampai Ye Chen terbangun atau pura-pura bangun.


"Nona Gu... ...."


Ye Chen tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menyebut nama Gu Xia.


Kyaaa...


"Pergii... keluar kau dari sini, dasar mesuum...."


Belum sempat Ye Chen turun, dari luar terdengar suara pintu di gedor keras.


Dukk... dukk...


"Nona... Nona... apa anda baik-baik saja?" teriak suara dari luar memanggil-manggil.


Ye Chen bergerak cepat, tapi bukan turun dari pembaringan melainkan memeluk erat Gu Xia dan menutup mulutnya.


"Nona Gu, maaf... harus begini." kata Ye Chen dengan nafas memburu di telinga Gu Xia sementara Gu Xia sendiri tidak tau harus berkata apa. Tak pernah ada seorangpun pria yang pernah memegang tangannya tapi kali ini Ia bahkan dipeluk erat sampai Ia bisa merasakan degup jantung pria yang memeluknya.


Hmpp...


Karena mulutnya dibekap dan dipeluk erat, Gu Xia sampai susah bernafas. Sayangnya Ye Chen yang mengetahui ini bukannya melonggarkan dekapannya malah berbalik dan menindih Gu Xia. "Nona Gu katakan sesuatu, jangan sampai orang di luar masuk dan melihatku." bisik Ye Chen di telinga Gu Xia.


Gu Xia tidak tau lagi harus berkata apa, posisi seperti ini benar-benar jauh dari bayangannya. Sebagai seorang gadis, perasaan itu pasti muncul tapi Ia sendiri bingung.


"Aku tidak apa-apa, pergilah!" teriak Gu Xia yang akhirnya memaksakan diri bersuara.


Suara di luar sudah tidak terdengar lagi, tapi Ye Chen masih di atas tubuh Gu Xia.


"Bisakah kau turun sekarang?" pinta Gu Xia dengan nafas yang mulai tidak beraturan.


"Oh maaf... maaf," ucap Ye Chen menggeser tubuhnya kesamping yang membuat Gu Xia memejamkan matanya.


Sambil terlentang Ye Chen berkata, "Nona, kau pasti terkejut dengan apa yang aku temukan."


Ini karena Ye Chen tiba-tiba saja sadar apa yang Ia lakukan tadi dan saat ini masih berbaring di tempat tidur.


Entah sudah berapa kali Ye Chen mengucapkan kata Maaf. Bahkan saat Gu Xia sudah mengganti pakaiannya dan duduk di meja dalam kamar , Ye Chen masih saja meminta maaf, suasana benar-benar canggung.


"Nona Gu sekali lagi maaf, sebaiknya dengarkan ceritaku agar anda mengerti." Gu Xia yang masih belum sanggup melupakan yang terjadi mengangguk kecil dengan kepala tertunduk.


Ye Chen menghela nafas, mulai menceritakan pengalamannya dimulai dari kota Kenanga ketika bertemu Gi Yongzeng dan berharap Ia menjadi wakil paviliun Teratai kota Kenanga sampai kemudian bertemu dengan ketua Gu Liang, ayah Gu Xia.


"Nah itulah yang terjadi, kuharap kau bisa mengerti. Yang lain mungkin bisa aku hadapi dengan mudah tapi tidak dengan dua orang tingkat Langit itu." Ye Chen mengakhiri ceritanya.


Gu Xia mulai melunak, dengan nafas terisak karena memikirkan ayahanya Ia berkata "Kenapa kau tidak menolong ayahku? bukankah saat itu kau bisa saja membawanya pergi?"


"Nona Gu, mungkin jika hanya ayahmu saja tidak masalah tapi bagaimana dengan yang lain?" kata Ye Chen. "Sebaiknya kita memikirkan semuanya dengan matang jangan terburu-buru."


"Lalu bagaimana, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Sebaiknya kau keluar dulu, bawakan aku makanan. Aku lapar, tidak mungkin aku keluar dari sini sekarang."


"Kau ini, makan saja yang kau pikir." gerutu Gu Xia tapi tetap saja Ia keluar mengambil makanan untuk Ye Chen.


Di ruangan ketua Gu Liang, pelindung paviliun yang berhianat berbicara dengan seseorang yang tak lain adalah orang yang menyamar sebagai Gu Liang.


"Ketua, nona Gu sedang ada di kamarnya. Kenapa tidak kita sekap saja sekalian, mungkin si tua Gu itu akan bersedia bekerja sama jika melihat putrinya kita tahan."


"Apa kau sudah gila? anak itu adalah murid akademi kekaisaran dan juga perserta turnamen, katakan padaku apa yang akan terjadi jika semua orang tau dia menghilang?"


Pelindung menjawab asal "Pasti akan ada pihak yang akan mencarinya."


"Nah itu tau, lalu mereka akan mencari kesini dan cepat atau lambat kita pasti akan dicurigai, terutama kau. Jadi bersabarlah, tunggu turnamen di buka nanti."


Kembali ke Ye Chen yang menunggu Gu Xia membawakan makanan untuknya.


Ye Chen terlihat mempertimbangkan beberapa strategi untuk membebaskan Gu Liang, "Yang paling bagus adalah memakai teleportasi, tapi kemana? ke kamar ini tidak mungkin, harus jauh di luar gedung paviliun, tapi kemana? aahh... menyebalkan."


"Saudara Chen ada apa?" Gu Xia yang masuk membawa makanan bertanya melihat Ye Chen seperti sedang banyak pikiran.


Ye Chen yang melihat Gu Xia menggeleng pelan, "Aku memikirkan cara membebaskan ayahmu dan yang lain tapi rasanya mustahil, aku belum tau seberapa banyak anggota komplotan yang menahan mereka."


"Bagaimana kalau kita meminta bantuan istana? aku yakin pihak istana pasti mau membantu."


"Dan bagaimana kalau ternyata di istana ada anggota mereka?" bantah Ye Chen yang membuat Gu Xia mau tidak mau terdiam dan berpikir cara yang lain.


"Tak usah di pikirkan, lebih baik makan dulu terus tidur. Eh apa kau mau tidur juga nona Gu? ups, maaf... buru-buru Ye Chen menutup mulutnya.


"Tidak masalah, aku mengerti," ucap Gu Xia tersipu malu. "Saudara Chen, bisakah aku meminta sesuatu padamu?"


"Katakan, kalau aku bisa pasti aku lakukan." jawab Ye Chen mantap.


"Umm, itu...." Gu Xia kembali gugup, masih terbayang Ia yang hanya memakai baju tidur tipis dalam pelukan Ye Chen. "Saudara Chen aku memintamu tidak menceritakan kejadian tadi pada siapapun, apa kau sanggup?" pinta Gu Xia menahan jengah.


"Oh itu, tentu saja." Ucap Ye Chen "Meskipun kau tidak memintanya, aku pasti akan melakukannya." sambung Ye Chen meyakinkan Gu Xia.


"Terima kasih."