
Pria berjubah hitam tidak langsung mengelak meski melihat anak panah mengarah padanya, terlalu lemah pikirnya. Ia hanya menoleh dan dengan sombongnya memasang dadanya sendiri.
Tapi perbuatannya ini dibayar mahal. Penatua Xiao yang melihat lawannya kehilangan konsentrasi tersenyum lebar, kesempatan ini tak mungkin disiakan olehnya.
"Tehnik Tapak Jiwa." gumam penatua Xiao.
Bress...
Meski hanya belajar sebentar dan hanya menguasai sedikit dari tehnik ini, tapi energi yang dihasilkan oleh seorang tingkat Suci tinggi tetaplah sangat mengerikan. Dua orang lawan terkena dengan telak dan langsung roboh berkalang tanah. "Dua lagi." gumamnya lalu melirik ke arah Xiao Yun berdiri sambil mengangguk, penatua Xiao sendiri tidak tau siapa yang melepas amak panah.
"Nona Xiao, kau membantunya? apa kau mengenal orang itu?" tanya ketua Song.
"Entahlah, aku bergerak menuruti kata hatiku saja." Memang betul ucapan Xiao Yun, dia hanya ingin membantu saja tapi jujur Ia memang tidak suka kepada orang berjubah. Siapa pun juga tidak akan menaruh simpati pada pembuat onar.
"Sudahlah, apa kalian lihat tehnik itu, bukankah itu Tehnik Tapak Jiwa milik tuan Ye?" sambung ketua Song.
"Anda benar, tapi itu belum sempurna." sahut Qin Gang.
Apa yang Qin Gang katakan memang benar, jika seseorang telah menguasai tehnik ini, maka sebuah tapak Qi yang besar akan tercipta. Berbeda dengan penatua Xiao yang hanya mengeluarkan gelombang energi saja. "Tapi mungkin dia ada hubungannya dengan tuan Ye." lanjut Qin Gang.
"Kita tunggu saja, tapi ingat berhati-hatilah, jangan percaya siapa pun saat ini" kata ketua Song mengingatkan. Orang ini kuat, aku bahkan tak bisa mengukur kekuatannya pikirnya.
Sementara itu pertarungan Penatua Xiao terus berlanjut. Ia bergerak cepat mengejar dua lawannya yang tersisa, dan tak lama kemudian Ia berhasil merobohkan mereka.
"Terima kasih telah membantu." penatua Xiao berdiri di depan rombongan ketua Song, memperhatikan mereka satu persatu sampai pandangannya jatuh kepada Xiao Yun, Ia berhenti dan menatapnya dengan penuh selidik.
"Tuan...." sapa ketua Song.
"Oh maaf, maaf... sungguh tidak sopan. Orang-orang biasa memanggilku penatua Xiao, aku...
"Marga Xiao...." gumam Xiao Yun. mungkin ini alasan aku tertarik padanya pikirnya.
Meski hanya bergumam kecil tapi pendengaran penatua Xiao cukup tajam, Ia menoleh kembali ke arah Xiao Yun. "Nona, anda baik-baik saja?" tanyanya namun Xiao Yun tidak menjawabnya, Ia melihat ke arah ketua Song.
Ketua Song lalu berkata, "Tuan, anda tau situasi saat ini sangat kacau, kami tak bisa mempercayai siapa pun apalagi orang yang baru kami temui."
"Aku mengerti, dalam perjalanan ke sini aku juga menemukan banyak sekali wilayah yang hancur. Kalau boleh tau apa tempat ini bernama desa Ye?"
"Anda benar, lalu apa tujuan anda datang kemari?" setelah pertanyaan terakhir ini, ketua Song melirik ke sampingnya, mengisyaratkan agar jangan sampai yang lain melewati batas aray."
"Mungkin pertanyaan ini sedikit jauh tapi bisakah anda mengatakan asal nama desa ini?" penatua Xiao sangat berharap ketua Song dapat menceritakannya.
Ketua Song berpikir sejenak, lalu berkata. "Lalu untuk apa anda tau? maaf saja aku semakin curiga pada anda."
"Ketua Song, Bagaimana keputusan anda?" bisik panglima Du dari samping.
"Aku percaya padanya. Biarkan dia masuk."
"Ketua, anda yakin?" tanya Qin Gang.
"Aku bertanggung jawab penuh, tenang saja, tidak apa-apa."
"Baiklah." Qin Gang mengulurkan tangannya, memberikan sebuah kristal ungu pada penatua Xiao.
Tapi penatua Xiao menolaknya, "Tidak perlu, kurasa ini bisa dipakai." katanya, lalu Ia mengeluarkan kristal roh ungu yang lebih terang dan lebih kuat dari kristal ungu di tangan Qin Gang.
Belum hilang rasa kaget semua orang, penatua Xiao dengan santai mengulurkan kristal roh ungu sampai menyentuh aray dan seketika itu juga aray bergetar. Penatua Xiao berhasil masuk.
"Ini hebat, aku sekarang percaya kalau anda mengenal tuan Ye." ucap Qin Gang dengan penuh semangat. Ye Chen sudah lama pergi dan tak pernah ada kabarnya dan orang di depannya mengenal Ye Chen, pastilah Ia tau keadaan Ye Chen sekarang.
"Penatua, silahkan, silahkan...." ajak ketua Song dengan sangat ramah, tidak seperti tadi saat pertama berbicara dengannya. "Mari kukenalkan pada orang-orang di sini." lanjutnya, kemudian Ia mengenalkan diri masing-masing, sampai tiba giliran Xiao Yun.
"Xiao Yun...." penatua Xiao bergumam, Ia tak akan pernah melupakan nama ini. Nama yang selalu diingat dan dikenangnya. "Ap... apakah betul nama nona adalah Xiao... Yun...." lanjutnya, Ia berharap banyak kali ini.
"Tentu saja, apa anda tidak mendengarnya?"
"Maaf, bukan begitu maksudku, maukah kau mendengar sebuah cerita nona?" tanya penatua Xiao dengan penuh harap dan dijawab dengan anggukan oleh Xiao Yun.
"Dua puluh lima tahun lalu ada sepasang suami isteri yang hidup bahagia, kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran puteri kecil hasil buah cinta mereka, sampai suatu hari." penatua Xiao berhenti sebentar, memandang lurus ke depan dengan tatapan yang seolah menembus ruang dan waktu.
Gerombolan penjahat datang dan menghancurkan seluruh desa, keluarga kecil ini pun tak luput dari malapetaka ini. Ibu si kecil tewas terbunuh dan dengan penuh luka, ayahnya berhasil membawa puterinya pergi ke sebuah portal bersama seorang wanita dari keluarganya.
Ayah si gadis kecil tidak ikut, Ia masih ingin kembali untuk memeriksa isterinya, barangkali Ia masih bisa menyelamatkannya. Namun sayangnya semua terlambat dan begitu Ia kembali ke portal, puterinya sudah tidak ada di sana lagi, hilang bersama portal itu.
"Gadis kecil itu memiliki tanda lahir seperti sebuah bunga berwarna merah di pinggang kirinya." penatua Xiao mengakhiri ceritanya, dari wajahnya terpancar kesedihan dan kehilangan yang sangat mendalam disertai rasa bersalah yang begitu besar.
Semua yang mendengarnya juga tau siapa pasangan dalam cerita itu, hanya saja tidak ada yang tau siapa gadis kecil yang dimaksud. Jika gadis kecil itu masih hidup sampai sekarang, usianya mungkin sudah dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun, sebaya dengan Xiao Yun.
"Si... siapa nama anak gadis itu, apa ada benda atau tanda lain yang dibawanya?" tanya Xiao Yun terbata, Ia yakin orang di depannya ini adalah ayahnya yang selama ini dicarinya.
Tak ada yang mengetahui tanda lahirnya kecuali Ia dan wanita yang selama ini merawatnya. Katanya mulai berkaca-kaca.
"Gadis kecil itu bernama Xiao Yun dan memiliki sebuah kalung liontin berbentuk bulat."
"Aa... ayah." Suara Xiao Yun gemetar, Ia tak kuasa menahan rasa di dadanya. Ia berlutut dan akan jatuh jika tidak dipegang oleh panglima Du.