
"Jiang Kun, dimana keluargamu?"
"Mereka tinggal jauh dari sini, di sebuah sekte kecil." jawab Jiang Kun dan menceritakan keadaannya. Menurut ceritanya, Ia adalah petugas sekte yang bertugas mencari sumber daya. Sudah hampir satu tahun ini Ia tak pernah kembali.
"Tuan, apa ini?" Jiang Kun yang sedang bercerita dibuat kaget oleh Ye Chen yang melempar sebuah cincin penyimpanan.
"Itu semua harta yang ada di tambang."
"Maksud anda tuan?"
"Harusnya semua harta itu di bagi rata kepada semua pekerja tapi karena hanya kalian saja yang selamat, maka harta itu bagi saja dengan pak tua."
Jiang Kun seolah tidak percaya, Ye Chen juga baru kali ini dikenalnya ditambah jumlah kristal roh sangatlah banyak, jumlah ini bahkan bisa menghidupi sebuah sekte besar.
"Tuan...
"Namaku Ye Chen."
"Tuan Ye, apa anda yakin memberikan ini semua?"
"Jiang Kun, aku ini orang baik, tapi kalau tidak mau ya sudah, nanti berikan saja jatahmu pada pak tua itu, bagaimana?"
"Tidak, tidak maksudku bukan begitu. Aku mau." sahut Jiang Kun cepat.
"Ya sudah ayo kita ke sekte Teratai, kita temui pak tua He Liang." tak lama merekapun berangkat.
Di sekte Teratai, Ye Chen dan Jiang Kun diterima di aula sekte, di sana He Liang juga sudah hadir. "Tuan Ye, anda tidak main-main kan?" sama seperti Jiang Kun, He Liang juga tidak percaya Ye Chen akan memberikan kristal roh padanya. "Lalu anda sendiri bagaimana? atau kita bagi tiga saja."
"Tenang saja, aku sudah mengambil bagianku tapi sudah habis kupakai. Sudahlah ambil saja." Ye Chen.
"Baiklah, tapi tunggu akan kuberitahukan ini pada tetua dalam. Kalau ada yang tuan Ye inginkan, katakan saja, aku pasti akan berusaha." ucap He Liang lagi.
He Liang lalu memberi isyarat pada penjaga di luar untuk memanggil tetua dalam. Tetua yang mengurusi urusan-urusan dalam sekte.
"Benarkah?" Ye Chen meyakinkannya, Ia tau permintaannya ini akan sangat sulit. Mungkin akan terjadi hal yang sama saat di rumah makan.
"Tuan Ye, jangan ragu, katakan saja aku janji tidak akan mempersulit anda." yang berbicara ini adalah tetua dalam, Ia baru saja datang memperkenalkan diri dan ikut duduk di sana.
"Baiklah, aku butuh peta." Ye Chen berkata tenang dan tanpa ragu sama sekali.
Diam...
Tak ada yang membuka suara, bahkan Jiang Kun masih tidak percaya Ye Chen akan mengatakan ini setelah apa yang terjadi di rumah makan. Saat itu lawan Ye Chen hanyalah beberapa orang biasa saja sama sekali tidak bisa disamakan dengan sekte Teratai.
Tetua dalam menyesap teh nya, "Apa anda tau akibat dari permintaan anda ini?"
"Memang ada masalah? kalau anda tidak bisa membantu juga tidak apa, nah kalau begitu sebaiknya aku pamit sekarang." ucap Ye Chen yang sudah mulai tidak sabar.
"Tuan Ye, bukan begitu. Begini saja, aku akan melaporkan ini pada patriark, untuk sementara tinggallah di sini dulu." ucap tetua dalam, jujur saja harta yang Ye Chen berikan sangat banyak dan bisa menambal kebutuhan sekte. Tidak masalah jika menukarnya dengan sebuah peta.
Ye Chen bertanya pada Jiang Kun, kenapa susah sekali memenuhi permintaannya. "Tuan Ye memiliki sebuah peta bukan hanya akan jadi incaran tapi juga jumlah nya sangat sedikit, itu juga pasti tidak lengkap."
"Hah aturan di sini memang aneh. Sudahlah, kita pergi saja, aku juga bosan membahas peta."
"Biarkan saja, bukankah kau juga harus kembali ke sektemu?"
"Baiklah," akhirnya Jiang Kun setuju, harta bagian He Liang juga sudah di ambil. Jadi tidak ada urusan lagi. "Tuan Ye, kalau anda masih menginginkan sebuah peta, mungkin aku bisa membantu?"
"Kalau merepotkan lebih baik tidak usah."
"Sebetulnya tidak, kita hanya harus ke aula informasi di pusat kota, tapi mungkin harganya sangat mahal."
Setelah berpikir sejenak Ye Chen menyetujui usulan Jiang Kun, maka berangkatlah mereka ke pusat kota tempat yang Jiang Kun sebutkan. Tanpa menyadari masalah yang akan terjadi karena meninggalkan sekte Teratai begitu saja.
"He Liang, kau pergi cari mereka, ini penghinaan bagi sekte kita. Sekte kita bukanlah tempat yang bisa seenaknya didatangi dan ditinggalkan begitu saja.
Yang bicara ini adalah wakil patriark, sikapnya memang sangat tegas dan suka memandang rendah orang lain.
" Apa tidak sebaiknya kita menunggu patriark keluar dari latihannya?"
"He Liang! kau lupa atau pura-pura lupa atau kau memang bodoh, aku ini pemimpin sementara dan semua harus mengikuti kataku."
"Baik pimpinan." He Liang akhirnya mengalah. Ia juga sangat menyayangkan Ye Chen yang pergi tanpa pamit tapi juga tidak menyalahkannya. Tak mungkin menunggu patriark, entah kapan Ia akan menyelesaikan pelatihannya.
Saat ini Ye Chen dan Jiang Kun telah jauh pergi, mereka melakukan perjalanan cepat.
"Tuan Ye," kata Jiang Kun. "Ini kota Shinyang, dari sini masih ada satu kota lagi sebelum kita ke pusat kota."
"Apa ada yang menarik di kota ini?"
"Kota ini terkenal sebagai kota pasar gelap. Banyak barang ataupun sumber daya langka yang dijual di sini. Tapi harus hati-hati tuan, salah bicara saja nyawa taruhannya dan tak ada yang peduli."
Cukup menarik pikir Ye Chen. "Kita lihat apa yang bisa kita dapatkan di sini." ucapnya pelan.
"Dua orang, sepuluh kristal roh." ucap penjaga gerbang. Kota ini dikuasai oleh beberapa sekte yang membagi pengawasan gerbang setiap satu minggu satu kali untuk tiap sekte.
Sekte-sekte ini terlihat akur tapi kenyataannya tidak. Di antara mereka, sering sekali terjadi kesalahpahaman tapi tidak pernah berujung bentrok karena sudah dipastikan akan hancur. Yang kalah hancur, yang menang akan menjadi incaran sekte lain karena pasti sudah menurun kekuatannya karena perang.
"Kita makan dulu." kata Ye Chen lalu berkeliling mencari rumah makan yang di anggapnya menarik.
"Mari tuan, mari silahkan...." sambut pelayan ramah.
"Hidangkan semuanya, masing-masing satu porsi. Jangan banyak tanya dan cepatlah, aku lapar." ucap Ye Chen.
"Jiang Kun, kau pindahlah ke meja dekat jendela itu, kau lihat dua orang itu? awasi dia."
"Maksud anda dua pria yang membawa guci seperti arak itu?"
Ye Chen mengangguk, "Sejak kita masuk, hanya dia yang terus memperhatikan kita."
Jiang Kun lalu pindah seperti permintaan Ye Chen, dan benar saja, setelah agak lama mencuri dengar, dua orang ini rupanya perampok yang biasa menargetkan mangsanya pada pendatang baru di kota Shinyang.
"Tenang saja, bersikaplah biasa, anggap kita tidak saling mengenal." Ye Chen mengirim telepati pada Jiang Kun.
Ingin kulihat aku atau kalianlah nanti yang akan menjadi korban hehe pikir Ye Chen sambil tersenyum senang seperti anak kecil yang akan mendapat mainan baru.