Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Orang-orang Bertudung Kepala


Lu Jia Li berdiri mematung, Ia tidak menyangka Ye Chen pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan.


Perasaan yang sama juga di rasakan Ma Dong.


"Ini ada titipan dari Ye Chen. Jadilah kuat, hanya itu pesannya, jadi jangan bertanya-tanya lagi."


Ma Dong pergi begitu mendapat bagiannya, Ia berjanji dalam hati untuk menjadi kuat seperti pesan Ye Chen.


Sementara Lu Jia Li masih diam berdiri di tempatnya.


"Kakek, menurutmu siapa yang kakak Chen suka di antara kami bertiga?"


Pertanyaan ini tidak membuat kaget Lu Ping, pemuda seperti Ye Chen tentu banyak disukai oleh wanita pikirnya. "Kurasa tidak ada di antara kalian yang membuatnya tertarik."


"Bahkan dengan kakak Jiao? dia sangat cantik kakek, dan juga puteri kaisar." bantah Lu Jia Li, pemuda mana yang tidak dengan Lu Jiao, dia mempunyai semuanya.


Lu Ping menjitak pelan kepala cucunya. "Sudah sana, pergunakan baik-baik pil yang Ye Chen berikan padamu, jangan mau kalah dengan yang lain."


"Baik kakek." jawab Lu Jia Li berlalu pergi sambil mengusap-usap kepalanya yang kena jitak.


"Aku juga harus memanfaatkan kesempatan ini. Mungkin aku bisa mencapai tahap puncak dengan pil ini." batin Lu Ping senang.


...


Di atas udara, Ye Chen yang terbang tinggi mengamati keadaan desa Bunga dengan kesadaran spiritualnya.


Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di sini, semua penduduk desa telah pergi. Rumah-rumah hancur bahkan separuh bagian desa telah rata dengan tanah.


Tapp...


Ye Chen melompat turun dari punggung Rajawali. "Terbanglah, cari dan beritahukan padaku kalau ada sesuatu yang aneh." Seolah mengerti perkataan Ye Chen, Rajawali terbang membumbung tinggi sampai hilang dari pandangan.


Berjalan keliling desa, Ye Chen tidak menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Sampai Ia tiba di taman belakang desa yang dulu dipakai untuk karantina Angsa Pelangi yang sakit sekaligus tempatnya menyembuhkan Song Fei.


Ingatan tentang Song Fei ini seketika terlintas di benak Ye Chen saat Ia tiba di pinggiran kolam. "Semoga saja tidak terjadi sesuatu seperti yang aku kuatirkan." batinnya.


"Di sini lebih baik." gumam Ye Chen lalu duduk dan mengedarkan kesadaran spiritualnya lagi, memeriksa seluruh bagian desa, mencari jejak aura yang mungkin Song Fei tinggalkan.


Ye Chen mengernyit, Ia samar-samar bisa merasakan sedikit aura Song Fei dan Chu Xiong.


"Apa Chu Xiong kembali kesini? apa mereka bersama? atau ada yang lain...?" berbagai pertanyaan muncul di benak Ye Chen.


Tidak menemukan petunjuk lain, Ye Chen bangkit berdiri dan membuka gulungan peta yang diberikan Lu Zengguan.


Ia ingin menandai batas wilayah desa Bunga, memasang aray agar lebih mudah mendeteksi jika ada yang mencoba masuk atau ada tanda lain.


Ye Chen menandai daerahnya sampai ke telaga tempat Ia menemukan penawar racun untuk Angsa Pelangi dan Song Fei.


Tiga hari berlalu, Ye Chen masih belum menemukan petunjuk lain mengenai keberadaan Song Fei maupun Chu Xiong. Sepertinya aku terlalu kuatir, mereka pasti sudah pergi jauh dari sini pikir Ye Chen.


Tepat ketika Ye Chen hendak pergi, aray yang Ia pasang berdengung. Ada yang memasuki desa.


Dengan sigap Ye Chen menghilangkan aura keberadaannya dan mendekati posisi aray yang berdengung.


"Siapa mereka ini?" gumam Ye Chen yang melihat sekelompok orang berpakaian hitam dengan tudung kepala.


Orang-orang ini memasuki desa dan tak lama keluar lagi membawa sebuah peti yang lumayan besar.


Ye Chen menunggu sampai orang-orang ini pergi lalu menyelidiki tempat mereka keluar. Tempat yang Ia tau adalah rumah pemimpin desa sebelumnya.


Tidak ada apa-apa di sana selain bangunan yang separuhnya sudah hancur.


"Pasti ada sesuatu di sini." batin Ye Chen yang kembali memeriksa dengan lebih teliti lagi tapi tetap tidak menemukan apa-apa.


Suara Rajawali mengejutkan Ye Chen yang masih mencari, Ia berlari menuju sumber suara dan melihat seorang pemuda bertempur dengan sekelompok orang berjubah yang Ia lihat tadi.


"Saudara Cia...?" Ye Chen kaget ketika mengenali pemuda yang bertempur. "Saudara Chen, bantu aku."


"Tentu saja." Tanpa dimintapun Ye Chen pasti akan menolong temannya.


Pedang hitam menari dengan cepat, membantai orang-orang berjubah dan hanya menyisakan satu orang saja.


Lima orang tingkat Bumi tahap tinggi tewas, satu yang lain tak sadarkan diri.


"Nah katakan, apa yang sebenarnya terjadi." tanya Ye Chen pada Cia Sun.


"Kita cari tempat aman dulu." Cia Sun tidak menunggu jawaban Ye Chen, Ia melesat pergi ke gua tempat tinggalnya selama ini. Tidak jauh dari tempat Ia bertempur.


Ye Chen tidak cepat-cepat pergi, Ia memeriksa lima orang yang tewas tapi harus kecewa tapi tidak menemukan sesuatu yang berharga.


Rasa kecewanya seketika lenyap ketika membuka peti yang mereka bawa, kepingan emas dan perak hampir memenuhi peti.


"Nah harusnya penjahat itu seperti ini, harus mempunyai banyak harta hehe...."


Setelah ini barulah Ye Chen menyusul Cia Sun, tak lupa Ia memegang tangan salah satu kawanan pria bertudung dan menyeretnya begitu saja.


Brukk...


Ye Chen melempar pria ini ke dinding gua, "Saudara Chen, kenapa kau membawanya kemari?"


"Tentu saja mencari info, masa itu saja tidak tau? apa kepalamu banyak terkena pukulan mereka jadi tidak menduganya?"


Menyadari kesalahannya, Cia Sun melihat pria yang seluruh tubuhnya luka lecet berdarah karena diseret di sepanjang jalan.


"Jangan melihatku begitu, tidak mungkin kan aku menggendongnya," ucap Ye Chen ketika Cia Sun melihatnya lagi. "Nah katakan bagaimana sampai kau bisa bertempur dengan mereka."


"Sebelumnya, ini ada titipan dari ayah," Cia Sun mengangsurkan sebuah kantung penyimpanan, Ye hanya melirik saja tanpa memeriksanya. "Kata ayah kau tidak usah mengenalnya lagi kalau tidak mau mengambilnya." Mendengar ini, Ye Chen dengan terpaksa mengambil pemberian Cia Sun.


"Aku bukannya tidak mau. Tapi aku benar-benar tidak mengharap apa-apa. Sudahlah jadi bagaimana?"


Cia Sun lalu menceritakan pengalamannya ketika sampai di desa Bunga.


Menurut ceritanya, Ia sudah beberapa kali melihat orang yang sama dengan yang orang yang menyerangnya. Tapi anehnya, orang-orang ini hilang begitu saja ketika Ia mencari jejaknya.


"Jangan banyak berpikir, kau lupa? kita kan punya tawanan hehe."


"Benar juga, mungkin kita bisa mengorek beberapa informasi. Biar aku yang menanyainya." Dengan langkah pasti Cia Sun mendekati anggota berkerudung yang tertangkap.


Ia yakin bisa mendapatkan informasi karena sudah sering melihat interogasi di istana.


"Aku pergi mencari makanan, bunuh saja kalau Ia tak mau cerita. Kita bisa menangkap lainnya nanti."


Tawanan yang sudah sadar ini hanya pasrah ketika melihat Cia Sun mendekat, tapi dari matanya tidak terpancar sedikitpun rasa takut.


"Percuma saja kau menyiksaku, aku tak akan mengatakan apapun." ucapnya ketika Cia Sun mulai menyiksanya karena tetap bungkam.


"Tidak sia-sia aku memilih desa ini. Saudara Cia, lihat apa yang kubawa, kita makan besar hari ini." Ye Chen melangkah memasuki gua dengan bahagia, membawa tiga ekor ayam hutan muda yang sudah Ia siangi.


"Bagaimana, dia sudah mengaku?"


Cia Sun menggeleng pelan, "Dia sangat keras kepala, aku sudah menyiksanya tapi tetap saja tidak mau bicara."


"Begitukah...? kalau begitu serahkan padaku." kata Ye Chen lalu berjalan mendekati tawanan dengan senyuman.