PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
88. Nikmat


Sepeninggalan ayahnya Alfa, pandangan Andini dan Farhan kini tertuju kepada Zaki.


“E eeh… Zaki? Apa apa, Nak?” tanya Andini ramah.


“Saya mau ketemu Cyra. Ada Cyra, Tan?” Zaki balas tersenyum sopan.


“Malahan sejak tadi Cyra belum pulang, loh. Entah mampir kemana tuh anak.” Andini melongok melihat halaman rumah dan tidak mendapati mobil putrinya terparkir di sana.


Zaki mengernyit. Lah, Cyra nyangkut di mana? Kenapa sejak tadi dia belum masuk ke rumah? Bukankah tadi Cyra sudah memarkirkan mobilnya ke halaman rumahnya?


“Mau ketemu Cyra, ya? Nanti aja ke sini lagi. Palingan bentar lagi dia pulang. Atau ada pesan yang perlu disampaikan ke Cyra?” Tanya Andini.


“Enggak, Tan. Saya ada perlu sama Tante dan Om. Bisakah kita bicara sebentar?” Zaki bertanya dengan hati-hati.


“Oh… Boleh. Ayo masuk!” Andini masuk diikuti oleh Farhan dan Zaki.


Zaki kini duduk berhadapan dengan Andini dan Farhan.


“Ada apa, Zaki?” tanya Farhan.


“Tumben loh kamu ngajakin ngobrol? Kayak serius banget?” Andini tersenyum ramah. “Mau minum dulu nggak? Biar Tante bikinin.”


“Nggak usah, Tan. Makasih. Aku nggak lama, kok.”


“Minuman buatan Tante enak, loh. Kamu belum cobain. Tunggu di sini, biar Tante buatin, ya!” Andini melenggang penuh semangat menuju ke dapur.


“Tapi aku nggak bisa lama-lama.”


Sebenarnya Zaki ingin menghentikan Andini, tapi melihat semangat Andini yang berkobar untuk menyuruhnya mencicipi kopi buatannya, terpaksa Zaki diam saja. Kasihan kalau ditolak.


“Cyra adalah gadis yang pintar. Dia memang suka ceroboh, tapi nggak pernah bikin masalah, kok.”


“Syukurlah. Soalnya aklau di rumah, tingkahnya ada-ada saja. Kadang-kadang istri Om sampai jera memberi hukuman untuknya. Dia memang bandel, tapi sebenarnya baik.”


Zaki tersenyum menanggapi. “Ada banyak bakat dalam diri Cyra, hanya saja tidak dikembangkan. Bahkan jurusan yang dia ambil pun tidak sejalan dengan bakatnya.”


Perbincangan terhenti ketika Andini muncul membawa dua gelas kopi. Satu gelas untuk Farhan dan satu gelas lainnya untuk Zaki.


“Ayo diminum!” Andini menyuguhkan.


Zaki mencium aroma sedap yang berasal dari kopi panas yang disuguhkan. Sungguh menggugah hasratnya untuk meneguk. Zaki meraih gelas mini itu lalu menyeruputnya.


Yieeeek… Apa gula lagi mahal ya? Kok pahitnya semengerikan ini? Sedikitpun tidak ada rasa gula. Pasti calon mertuanya itu lupa menaburkan gula. Ups, kalau memang beneran jadi calon mertua sih. Zaki rasanya ingin merem melek saat cairan kopi melewati tenggorokannya. Pahiiiiit naudzubillah…


“Gimana, belum ada rasa kopi senikmat buatan Tante, kan?” Andini percaya diri.


Iya bener, nggak ada kopi yang sepahit itu selain buatan Tante Andini. Tapi nggak mungkin Zaki mmengatakan hal itu.


“Ah, iya, Tan. Nikmat!” Zaki tersenyum berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan demi menghargai Andini. Air putih mana air putih? Oh ya ampun, Zaki ingin sekali meminum air putih sebagai penawar.


Ya Tuhan, butuh kesabaran ekstra saat menelan kopi. Satu teguk saja sudah sangat menyiksa, lalu bagaimana jika beberapa teguk? Apa lagi untuk menghabiskan satu gelas, mungkin Zaki benar-benar akan merem melek dibuatnya. Merem melek bersama Cyra sih enak-enak saja, nah ini merem melek nelan kopi. Astaga! Kopi buatan calon mama mertua benar benar mengerikan. Entah berapa sendok kopi yang dituang di gelas. Kental sekali.


**TBC


KLIK LIKE**