
Sembari menunggu pesanan, Zaki main ponsel. Apa lagi yang dia lakukan jika bukan sms-an dengan Cyra.
Tak lama pesanan datang.
Zena menatap lontong pecel tanpa telur dan tanpa apapun di atasnya.
“Ada tempe goreng atau bakwan nggak, Bu?” tanya Zena.
“Ada, Mbak. Mbak mau?”
“Tempe untuk apa?” tanya Zaki.
“Makan gini aja mana enak, Mas. Aku mau bakwandan tempe mendoan,” jawab Zena.
“Bakwan harganya berapa, Bu?” Zaki bertanya pada pemilik warung.
“Seribu, Mas. Semua gorengan harganya sama.”
Zaki menatap Zena. “Lontong aja harganya udah delapan ribu, kalau ditambah tempe sama bakwanmu, biaya makanmu udah sepuluh ribu. Udahlah ya jangan pakai bakwan atau tempe. Mahal.”
Zena mengesah kesal. Ya, kekesalannya mulai tampak di wajahnya dan ia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
“Kamu kelewatan sih Mas. Segini aja kamu bilang mahal.” Zena meletakkan sendok dan garpunya ke piring dengan kesal.
“Kenyataannya mahal. Kita harus ngirit.”
“Kamu ini orang kaya loh, Mas. Kamu udah pilih tempat beginian untuk kita makan, dan sekarang nambah gorengan aja kamu nggak boleh.”
“Berhemat itu sebagian dari perbuatan mulia, boros adalah temennya setan. Udah deh, kamu makan aja. Sayang kan duitku kalau dihabisin Cuma buat makan.” Zaki mulai mengunyah makannya.
“Ya udah Bu, gorengannya nggak jadi,” ketus Zena.
Pemilik warung pun berlalu pergi. Ia kembali membawa dua gelas dan menuangkan air ineral dari teko ke dalam gelas tersebut. Setelah itu ia pergi lagi.
Zena melipat tangannya di meja tanpa menyentuh sendok dan garpunya.
“Kamu nggak makan?” tanya Zaki setelah makanannya habis. Dan menutup makannya dengan minum air putih.
“Oh.. ya udah, sini biar kumakan kalau kamu nggak mau.” Zaki menyeret piring milik Zena kemudian menyantapnya dengan lahap tanpa perduli dengan ekspresi wajah Zena yang tentunya merasa kesal.
Usai makan, Zaki bersendawa. “Geeeeegkh....”
Zena mengernyit.
“Aduuh... kalau udah makan pedes gini aku jadi mau buang ingus. Dari tadi narik ingus mulu. Ini aku juga mau ngupil.”
Zena terkejut mendengar ucapan Zaki. Jorok. Di meja makan begini Zaki sempat ngomongin ingus dan upil. Astaga.
“Ah, ya udah. Nanti aja buang ingus sama ngupilnya.” Zaki bangkit berdiri mendekati pemilik warung di balik meja hidangannya.
“Jadi berapa saya mesti bayar, Bu?” tanya Zaki.
“Enam belas ribu aja. Tapi ya udah deh buat Mas saya kasih lima belas ribu aja. Kayaknya Mas itungan banget sama makan. Kasihan tuh enengnya aja sampe kelaperan begitu,” ucap pemilik warung sembari melirik Zena yang masih duduk di kursi dengan muka bete.
Zaki tersenyum kemudian mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan. “Ini uangnya. Sisanya buat Ibu. Makasih udah jadi bagian dari skenario saya.”
Pemilik warung mengernyit heran dengan ucapan Zaki. Namun melihat uang lima puluh ribuan di tangannya, ia pun tersenyum. “Ini beneran untuk saya? Makasih.”
“Ssst... Jangan keras-keras.” Zaki meletakkan jari telunjuk ke mulut. Kemudian ia berlalu pergi.
Zena mengikuti Zaki keluar dari area warung. Mereka kembali masuk ke mobil.
“Kita kemana lagi? jalan-jalan ke mol atau kemana?” tanya Zaki saat ia sudah mengemudikan mobil.
“Nggak usah. Kita pulang aja. Maaf, aku batalin niatku untuk nikah sama kamu.”
“Apa?” Zaki sok kaget. “Tapi apa salah dan dosaku?”
“Pokoknya aku mau pulang.” Zena menutup mukanya dnegan kedua telapak tangannya sambil menangis sesenggukan.
Yess, planing berhasil. Zaki tersenyum.
****