
Meski kurang jelas mendengar kata-kata Cyra, namun pandangan Zaki mengikuti arah telunjuk Cyra. Ia melihat empat motor ninja yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
Zaki terlambat mengegas motor karena dua motor ninja sudah berada di depannya, satunya menyelip di sebelah kiri dan satu lainnya mengiringi di sebelah kanan.
Mata Zaki mengawasi motor motor yang mengelilinginya. Cyra memegang erat perut Zaki. Ia mulai was-was, khawatir akan terjadi hal buruk.
Belum sempat Zaki mengerem motornya untuk mengihindari empat motor ninja itu, motor di sebelah kanan menyenggol motor Zaki hingga Zaki terpaksa ngerem mendadak, hampir saja motornya tumbang jika kaki kirinya tidak cepat-cepat menapak.
Zaki membuka kaca helm, menatap para pria yang kini mengelilinginya. Semuanya memakai helm hingga Zaki tidak bisa mengenali mereka.
“Zaki, mereka mau apa?” Cyra semakin cemas.
Zaki menggenggam erat tangan mungil Cyra, berusaha memberikan ketenangan. Lewat sentuhan tangannya itu, ia berharap Cyra merasa terlindungi.
“Turun lo!” teriak salah seorang pria yang masih menunggangi motor, mengelilingi Zaki dan Cyra.
Zaki menyetandarkan motornya. Membuka helm dan meletakkannya di stang.
“Pengecut!” teriak Zaki dengan sorot tajam menatap orang-orang yang masih terus berkeliling.
Tak lama, salah satu motor meluncur dengan cepat dan menerjang tubuh Zaki sebelum sempat Zaki menghindarinya. Pandangan Zaki tidak bisa fokus karena tidak tahu mana yang harus dia amati. Tubuh Zaki tersungkur seiring dengan jeritan Cyra yang langsung berlari menghambur menghampiri tubuh Zaki.
Tiga pria lainnya melakukan aksi pengeroyokan terhadap Zaki. Bertubi-tubi memukuli Zaki, menghantam, menendang dan menghajar tanpa belas kasih.
Awalnya Zaki smepat bangun dan memberikanperlawanan, namun pengeroyokan itu membuatnya gagal fokus. Tendangan dan tinjuan diarahkan kepadanya dari segala arah. Sampai akhirnya Zaki tersungkur tak berdaya ketika punggungnya dihantam keras.
Di bawah guyuran hujan deras, Cyra menjerit histeris melihat aksi kekerasan yang terjadi di depan matanya. Tangisnya pecah, berteriak memanggil-manggil nama Zaki, berteriak memohon supaya mereka menghentikan pemukulan itu. Namun serangan terus dilancarkan meski tubuh Zaki sudah terkulai lemas tak berdaya.
Cyra akhirnya melancarkan senjata andalannya, menendang selangkangan pria yang emmegangi lengannya itu. Namun ternyata si pria hanya mengapit kedua pahanya dengan satu tangan memegangi pusakanya, sementara satu tangan lainnya masih tersu memegangi lengan Cyra, tak mau membiarkan gadis itu lepas dari pegangannya.
Kesal, Cyra pun melepas helm pria itu dengan sekali tarik ke atas. Sayangnya helm itu sempit hingga kepala pria itu ikut terangkat dan giginya nyangkut saat helm melewati mulutnya.
Berhasil. Cyra berhasil melepas helm pria yang tak dikenalnya itu. Giginya keluar semua, pasti pria itu tidak pernah mingkem kalau tidur akibat bibir yang keganjel gigi.
Salah seorang menjentikan jari, memberi isyarat untuk meninggalkan tempat itu. Ke empat pria itu pun menaiki motor masing-masing dan berlalu pergi.
Cyra menghambur menghampiri tubuh Zaki yang terkapar di aspal.
“Zaki!” Cyra meraih kepala Zaki dan menaruhnya di pangkuannya. Darah segar mengalir dari mulut Zaki. Wajah pria itu lebam. Tak hanya itu, pipi Zaki memar dan mengeluarkan bercak darah. Cyra menangis melihat luka-luka di wajah Zaki. Pasti sakit sekali. Cyra tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya. Air mata Cyra berbaur dengan air hujan.
***