PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
172. Ribet


“Setelah nikah, lo bakalan kerja atau ngapa, Ra?”


“Pengennya gue kerja. Itu pun kalau diijinin sama Pak Zaki. Kalian sendiri mau ngapa setelah ini?”


“Gue mau pulang kampung, Ra!” jawab Rere.


“Gyah, kita pisah, dong.”


“Gue pulang kampung setelah lo nikah, biar gue bisa dateng ke pesta lo.”


Cyra merangkul Rere terharu.


“Kalau gue mah mau lanjut kuliah lagi,” sahut Bianca.


“Gue kerja di perusahaan bokap.”


“Gue juga mau nyari kerjaan.”


Cyra menatap wajah teman-temannya satu per satu. Kelima temannya itu juga balas menatapnya.


“Kalau gue udah nikah, kalian masih inget sama gue, kan?” tanya Cyra.


“Iya, dong, Ra. Kami pasti akan tetep inget sama lo.”


“Meski pun kita nggak bisa kayak gini lagi karena pasti akan ada kesibukan masing-masing, tapi kita harus tetap jaga komunikasi. Jangan sampai lupa. Gue janji pasti akan dateng ke pesta pernikahan kalian kelak.”


Bianca mendekati Cyra, duduk di sisi Cyra dan merangkulnya. “Iya, Ra. Kita janji bakalan selalu ngejaga komunikasi. Seenggaknya kita adakan pertemuan kayak gini, minimal kita luangin waktu buat bisa bertemu dan berbagi cerita.”


Ketiga teman yang lain ikut mendekat dan memeluk satu sama lain.


“Pertemanan itu nggak harus putus hanya karena pernikahan, kan? Gue harap kita akan tetap seperti sekarang.”


Keenam gadis saling pandang dan tertawa merasakan situasi yang mendadak menjadi mengharukan.


Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu bersama, bercanda dan saling berbagi cerita. Setelah itu Bianca mengantar Cyra pulang.


***


Sederet mobil sudah terparkir, mulai dari depan rumah Zaki sampai sepanjang jalan. Tak lain mobil-mobil milik kerabat dari keluarga Surya dan Alya. Mereka akan mengantar Zaki menuju ke rumah Cyra guna mengikuti acara adat yang biasa dilakukan seminggu sebelum pernikahan berlangsung.


Zaki melangkah keluar rumah beriringan dengan kedua orang tuanya. Ia mengenakan pakaian adat Jawa, persis seperti pakaian yang dikenakan ayahnya yang merupakan keturunan Jawa. Blankon di kepala.


“Zaki, jangan cepet-cepet jalannya. Nggak sabaran banget,” ledek Alya membuat Zaki salah tingkah dan memperlambat langkah kakinya.


Semua orang mengiringi Zaki dan kedua orang tuanya menuju rumah Cyra, berjalan membentuk barisan panjang.


Dengan wajah-wajah cerah berbinar yang dipenuhi kebahagiaan, mereka semua berjalan beriringan memasuki rumah setelah disambut oleh pemilik rumah yang juga menggunakan pakaian adat Jawa.


Semuanya duduk melingkar memenuhi ruangan luas, saling berhadapan di bawah lampu gantung yang memberi penarangan.


Cyra tidak ada di ruangan itu, dia berada di kamar. Menurut adat, calon mempelai pria belum diperkenankan bertemu calon mempelai wanita. Dan tujuan kedatangan mempelai pria adalah untuk nyantri.


Zaki mulai merasa gelisah saat ia harus memulai perannya mengikuti prosesi yang disebut dengan nyantri tersebut.


Ya ampun, kenapa harus ada adat beginian? Kenapa adatnya ribet banget? Lebih ribet dari mengurus perasaan wanita. Zaki gugup saat ia harus maju, melangkahkan kaki dengan posisi jongkok. Setiap melangkah, lutut harus menempel di lantai. Gerakan itu tentu saja membuatnya kesulitan meski ia sudah mencobanya berulang kali di rumah sebelum acara berlangsung. Lututnya bahkan sempat tersandung hingga tubuhnya terhuyung maju, untung hanya terhuyung beberapa derajat saja dan tidak sampai tertungging. Kejadian itu mengundang tawa seisi ruangan, membuat muka Zaki kian memanas.


TBC


KLIK LIKE