
Zalfa duduk di depan cermin, menatap wajahnya yang sudah dirias. Kebaya warna putih lengkap dengan jilbabnya sudah teronggok di atas kasur. Beberapa jam lagi acara ijab qobul akan segera dilangsungkan. Ini adalah hari pernikahannya. Tapi rasanya ia masih tidak yakin. Semakin ke sana, hatinya semakin ngilu. Tidak sanggup meninggalkan Faisal.
Zalfa meresapi perasaannya, mencoba mencari jawaban apakah langkah yang ia pilih sudah tepat?
“Zalfa!” Atifa membuka pintu, kepalanya menyembul masuk.
Zalfa menoleh dan tersenyum.
“Masyaa Allah, kamu cantik banget!” Atifa masuk kamar dan menghampiri Zalfa. Ia berdiri di belakang Zalfa dan emmegangi pundak Zalfa sambil menatap wajah Zalfa di dalam cermin.
“Akhirnya kamu merid juga,” kata Atifa dengan muka cerah. Atifa kemudian sibuk mengemas peralatan rias wajah, tak lama ia menatap Zalfa dan dahinya mengernyit. “Zalfa, kamu kenapa? Keliatannya kamu ragu-ragu?”
“Iya, Mbak. Aku ragu, apakah ini sudah benar?”
“Masih kepikiran Faisal?”
“Ya, Mbak. Aku kepikiran Faisal.”
“Udah, dong. Ini udah hari H pernikahan masih aja mikirin cowok lain. Pikirin Arkhan. Dia calon suamimu sekarang.”
“Aku mencintai Faisal,” ujar Zalfa lagi.
“Aku ngerti, Zalfa,” sahut Atifa sambil memeluk adik iparnya itu. “Ngerti banget. Aku juga pasti nggak bakalan bisa ngelupain Faisal kalo jadi kamu. Faisal gantengnya dahsyat gitu, sempurna lagi, gimana bisa semudah itu ngelupainnya? Tapi kamu punya gantinya, Arkhan. Sama gantengnya, kok.”
“Ini bukan perkara ganteng ataupun kesempurnaan fisik ataupun soal materai. Tapi perasaan. Semakin kesini, aku semakin sadar nggak kuat kalo harus ninggalin Faisal.”
“Aku bingung, Mbak.”
“Ya ampun Zalfa, tapi ini udah hari H. Semua orang udah nunggu. Kamu nggak bisa batalin ini.”
Zalfa menatap Atifa bimbang.
“Aku tahu Faisal sangat berarti dalam hidupmu, Zalfa. Aku juga sayang sama Faisal, sama seperti kamu,” kata Ismail. “Udah sejak lama aku pengen dia yang jadi suamimu dan menjagamu sampai akhir hayatnya, tapi semuanya udah terlanjur. Dan kamu juga udah ambil keputusan ini.” Atifa meraih pundak iparnya. Ia menatap wajah yang terpantul di dalam cermin. Wajah itu terlihat sangat cantik dalam balutan riasan. “Ikuti kata hatimu. Oya, Mbak mau ngomong sesuatu. Bukan maksud Mbak mau menggoyahkan pendirianmu loh, tapi ini cuma sedikit masukan.”
Zalfa menoleh dan tersenyum samar. “Yang namanya masukan pasti bagus, kan? Emangnya Mbak mau ngomong apa?”
“Kamu yakin mau nikah sama Arkhan meski kamu belum mengenalnya? Gimana hatinya, gimana akhlaknya, gimana kehidupannya? Kamu baru kenal dia loh, Zalfa. Meski Mbak berharap dia menikahimu karena satu alasan, tapi Mbak sanksi apakah dia pria baik-baik atau tidak.” Kali ini Atifa menatap Zalfa penuh harapan.
“Insyaa Allah, keputusanku ini akan berujung baik. Semua keputusan yang kuambil selalu kuawali dengan doa dan shalat.”
Atifa tersenyum. Keteguhan Zalfa begitu kuat dan tidak mudah untuk dirobohkan. Atifa membuka toples di meja lalu merampas isinya dan mengunyahnya lahap. Ya begitulah, isi dalam toples yang disediakan Zalfa selalu habis dilahap kakak iparnya itu. Dan tugas Zalfa hanyalah mengisinya kembali dengan makanan baru setelah isinya habis.
“Baiklah, segeralah menikah. Mbak mendukungmu. Mbak yakin kamu pasti akan meraih kebahagiaan. Trus gimana sama orang tuanya Arkhan? Nggak ada masalah, kan?” tanya Atifa.
“No problem,” jawab Zalfa sembari terus berjalan melewati ruang depan.
TBC