PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
216. Extra Part 26


Zena kembali ke mobil dan meletakkan dua gelas minuman ke atas dashboard.


Zaki mengambil salah satu minuman dan meneguknya hingga habis. “Ayo, minum! Kamu nggak haus?”


“Enggak. Aku takut debu yang nempel di gelasnya, entar batuk.”


“Ya udah. Bisa untuk nanti.” Zaki mengambil gelas minuman satunya dan menyimpannya. Kemudian Zaki kembali menyetir mobil.


Zena memperhatikan Zaki sepanjang perjalanan.


“Zena, aku ingin tanya, kenapa kamu mau dijodohin sama aku, lelaki yang udah beristri?” tanya Zaki.


“Aku udah pernah denger soal kamu, Mas. Kamu dosen yang jadi idola kampus, dan kemudian menikah dengan mahasiswinya. Aku tanpa sadar mengagumimu, sama seperti para mahasiswi yang menjadi anak didikmu.”


“Dan bersedia menjadi istri kedua?”


“Ini kan demi memberi keturunan untukmu, bukan semata-mata karena keinginan nafsu doang.”


“Ooh.. ya udah. Baguslah.” Zaki menghentikan mobil. “Kamu kuliah dimana?”


“Di kampus sebelah, dekat kampus kamu juga.”


Zaki mengangguk. Tak lama mobil berhenti.


Pandangan Zena mengedar ke luar. Tampak warung kecil di tepi jalan yang sisi samping kiri kanannya berbataskan terpal, meja dan kursinya lusuh.


“Kok, berhenti?” tanya Zena.


“Ayo, turun.” Zaki melepas sealbelt.


“Kita mau ngapain di sini, Mas?”


“Makan.” Zaki turun dari mobil lalu melenggang memasuki area warung kecil dan duduk di salah satu kursi kayu. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresi wajah Zena saat ia tinggalkan tadi. Dan senyum Zaki terbit begitu saja membayangkan wajah Zena yang mungkin merah padam. Bagaimana mungkin pria setajir Zaki membawanya makan di tempat seperti itu? begitu perhitungannya sosok pria yang akan menjadi suaminya kelak.


Zaki melirik Zena yang duduk di hadapannya dengan ekspresi risih. Beberapa orang yang duduk di meja lain tampak memperhatikan Zaki dan Zena dengan pandangan heran. Pasangan tajir kok makan di tempat begituan? Aneh, kan.


Zaki mengambil ponsel dari saku kemejanya saat mendengar nada pesan masuk. Tak lain pesan dari Cyra.


Cyra


Gimana, sayang?


Rencana berhasil?


Zaki tersenyum membaca pesan tersebut, kemudian ia mengetik pesan dan mengirim pesan ke Cyra.


Zaki


Setegah berhasil.


Kamu akan tertawa saat mendengar ceritaku, sayang.


Cyra


Ha haaaa....


Aku tertawa sekarang aja deh


Zaki


Nanti kita ketawa bareng-bareng.


Cyra


Ya udah.


Met kerja keras


Zaki


Muuuah...


Zaki menatap Zena yang mukanya ditekuk melihat dirinya asik sms-an. “Eh ini sms dari istriku, Cyra,” ucap Zaki dengan entengnya.


Zena menelan saliva dengan sulit.


“Mas ganteng, Mbakcantik, mau makan apa?” Pemilik warung yang berpakaian lusuh menghampiri ke meja Zaki.


Zena memperhatikan pakaian wanita itu. bahkan clemek yang dia gunakan sudah tujuh rupa.


“Sebutin aja mau makan apa,” ucap Zaki.


“Aku nggak tahu menu makanan di sini apa aja.”


“Ada makanan apa aja, Buk?” tanya Zaki.


“Lontong pecel, lontong sayur, nasi uduk, sama nasi goreng,” jawab si ibu dengan ramah.


“Lontong pecel berapa?” tanya Zaki.


“Lontong pecel dan lontong sayur harganya sama, delapan ribu. Kalau pakai telur jadinya sepuluh ribu.”


“Nasi uduknya berapa?”


“Sepuluh ribu.”


“Nasi goreng?”


“Sama, sepuluh ribu.”


“Ooh, ya udah lontong pecel ajadua porsi. Jangan pakai telur ya.”


Zena mengernyit. Zaki sudah memilih makanan paling murah, bahkan tidak bersedia memberikan telur untuk lauknya.


“Minumnya apa, Mas?”


“Air putih aja. Jangan yang aqua gelas ya.”


“Loh, jadi, air putih yang mana lagi, Mas?”


“Air minum yang nggak bayarlah, Bu. Dari gelas ibu gitu, kan nggak dijual tuh kalau diambil dari galon.”


Pemilik warung melongo, namun kemudian mengangguk dan melenggang ke dapur.


Zena geleng-geleng kepala. Lelaki seperti apa yang akan dia nikahi itu? pelitnya minta ampun. Belum nikah aja perhitungannya detil bukan main, bagaimana jika sudah menikah nanti?


TBC