PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
213. Extra Part 23


“Sayang, paha ayamnya tadi pasti jatuh ke lantai. Kamu pungut ya? Kotor, ih. Buang aja, deh.” Cyra merampas paha ayam dari tangan Sifa dan membawanya ke tong sampah. Lalu ia mengambil chicken nugeat yang sudah dogoreng dan menyerahkannya kepada Sifa. Bocah yang hampir menangis akibat kehilangan paha ayam itu pun kembali tertawa ceria saat mendapat nugeat pemberian mamanya.


Cyra kembali duduk di sisi Zaki, memeluk Sifa di pangkuannya.


Zaki kembali menyantap mie-nya hingga habis tak bersisa.


“Sayang, aku mau bicara soal mamamu,” ujar Cyra saat melihat Zaki menyudahi makan dengan membaca hamdallah.


“Ya? Mamaku kenapa?”


“Kemarin mamamu datang ke sini dan mengatakan sesuatu ke aku.”


Zaki menatap Cyra dengan dahi bertaut melihat istrinya itu berbicara dengan nada serius.


“Mama bilang apa?” Tanya Zaki.


“Apa mama Alya nggak ada bilang sesuatu ke kamu?”


“Nggak ada.” Zaki mengedikkan bahu. Ia mengambil alih Sifa dari pangkuan Cyra. Kini si kecil berpindah duduk di pangkuan Zaki.


“Sebenernya udah sejak kemarin aku mau ngomong ini ke kamu. Mama Alya meminta ijin dariku supaya kamu nikah lagi.”


Zaki terkejut. “Mama bilang begitu? Jangan bercanda kamu.”


“Aku serius. Mamamu sangat mengharapkan anak, keturunan yang lahir dari darah dagingmu. Keliatannya mamamu nggak sabar banget.”


“Enggak enggak. Ini gila. Aku nggak akan mungkin nikah lagi. Sampai kapan pun aku nggak akan mau menikah lagi. Aku cintanya Cuma sama kamu.”


Cyra tersenyum emndengar pengakuan suaminya.


“Trus kamu jawab apa ke mama?” tanya Zaki.


“Aku serahkan semuanya ke kamu. Keputusan ada di tanganmu.”


“Cerdas. Aku nggak akan mau punya istri selain kamu.”


“Itulah yang aku yakini.”


“Kamu tenang aja ya, aku akan bicarakan masalah ini ke mama. Jangan pernah jadikan masalah ini beban. Kita yang menjalani rumah tangga, maka kita yang harus tentukan kemana arah kita melangkah.”


“Mama bahkan nggak berpikir apakah calon yang mama ajukan itu benar-benar bisa memberinya cucu atau enggak. Bahkan justru membuat masalah baru.”


Cyra diam saja.


“Sayang, maafin mamaku. Mama nggak berpikir panjang dalam mencari solusi masalah ini. Kamu jangan marah sama mama ya.”


“Aku nggak marah, Cuma kecewa aja.”


Zaki meraih kepala Cyra dan membenamkan ke pelukannya. Kecupan singkat mendarat di pucuk kepala Cyra. “Aku bisa atasi masalah ini.”


“Kamu selesaikan saja masalah ini dengan mamamu. Aku serahkan semuanya ke kamu. Aku percaya sama kamu.”


“Huaaaaa…..” Tangisan Sifa pecah.


“E eeeh… Kenapa Sifa nangis?” Zaki kaget.


“Astaga, kakinya kejepit. Kamu sih narik kepalaku ke dadamu, jadinya lututnya menjepit kaki Sifa,” protes Cyra pada Zaki.


“He heeee… Nggak sengaja, sayang.” Zaki mengelus-elus pergelangan kaki Sifa yang baru saja terjepit.


Tangis Sifa langsung terhenti dan ia kembali asik melumatt paha ayam. Sepertinya Sifa sedang fokus pada makanan barunya itu dan tidak perduli meski kakinya memerah akibat terjepit.


“Sayang, kuminta kamu nggak usah terlalu pikirkan omongan mamaku,” ucap Zaki lagi, ia merasa takut Cyra akan terbebani akibat ucapan mamanya.


Cyra mengangguk.


“Kta hadapi masalah ini dengan senyum aja, ya. Percayalah, aku akan atasi semuanya dengan baik dan kita akan tetap hidup bersama tanpa ada orang ketiga. Itu janjiku ke kamu.”


Cyra mengangguk lagi. “O ya, soal jodoh yang udah mama persiapkan buat kamu, aku punya ide untuk membuatnya nggak suka sama kamu,” ucap Cyra dengan senyum lebar.


Zaki mengangkat alis.


Cyra membisikkan sesuatu ke telinga Zaki.


***