PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
188. Menahan


Cyra membantu Zaki menarik salah satu koper memasuki rumah. Pandangan Cyra berkeliling menatap seisi rumah. Perabotannya sudah komplit, bahkan isinya jauh lebih mewah dari isi di rumahnya yang dulu.


Uuh... ternyata hanya ukuran rumahnya saja yang mungil, namun isi dan corak bangunnnya sangat elit.


“Sayang, aku mau lihat-lihat rumahnya dulu.”


“Oke. Aku temani.”


Cyra melangkah menuju ke ruangan lain. Zaki mengikuti kemana pun istrinya itu melangkah.


“Waow... Isi setiap ruangan bagus banget. Warna sofanya elegan banget sama dinding, rak TV-nya juga mewah, setiap ruangan ada Ac-nya, aquariumnya juga keren.” Cyra menanggapi setiap barang yang ia sentuh.


Zaki hanya mengamati dari belakang. Syukurlah, usahanya selama ini menabung uang dan membangun rumah tidak sia-sia, karena istrinya menyukai pilihannya. Memang, pembangunan rumah tidak lepas dari uluran tangan orang tuanya yang selalu rempong dan mengucurkan dana yang mungkin malah jauh lebih besar dari tabungan Zaki, namun itulah yang bisa Zaki lakukan untuk masa depannya. Padahal Zaki melarang orang tuanya dalam hal membantunya membangun rumah, sebab dia ingin mengukur sampai dimana kemampuannya. Namun orang tuanya bilang, harta mereka yang banyak itu untuk siapa jika bukan untuk anak semata wayang. Ya sudah, terpaksa pasrah menerima bantuan orang tua.


Zaki kemudian mengikuti Cyra menuju ke belakang rumah.


Cyra tersenyum lebar menatap betapa asrinya suasana di belakang rumah baru itu. Pantulan cahaya dari dasar kolam mengenai wajahnya.


“Rumah ini baru saja selesai dibangun. Aku mencari tukang bangunan terbaik untuk membangun rumah ini. Skurang lebih satu bulan sebelum kita menikah, rumah ini pun akhirnya selesai juga.” Zaki menerangkan sembari mengingat proses pembangunan yang sempat ngangkrak selama beberapa bulan akibat kekurangan dana, untung saja semua bisa ia atasi.


“Kamu nggak pernah cerita sama aku soal rumah ini.”


“Untuk kejutan.” Zaki berjalan ke tepi kolam, menatap air bening dengan dasar kolam berwarna biru. Ia terkesiap merasakan pelukan dari arah belakang. Ditatapnya kedua tangan Cyra yang melingkar di perutnya. Ia mengusap punggung tangan yang melingkar di perutnya itu. Betapa nikmat dipeluk oleh Cyra, ia memejamkan mata sejenak menikmati keadaan.


“Aku bahagia banget, sayang!” bisik Cyra. Ia benamkan wajahnya di punggung Zaki.


Zaki tersenyum.


Cyra mengelus permukaan perut Zaki yang rata dan tangannya tersebut perlahan naik mengelus dada bidang Zaki.


Cyra berjalan memutari tubuh Zaki dan kini berdiri di hadapan pria itu. ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Zaki, lalu menempelkan permukaan tubuhnya pada Zaki, membuat pria itu terkesiap dan menatap wajah cantik di hadapannya dengan nanar.


“Aku bahagia. Thank’s ya, sayang!” Cyra berbisik, nafasnya menampar muka Zaki yang berjarak sangat dekat.


“Kenapa harus berterima kasih?”


“Kamu udah memberiku kejutan seindah ini.”


“Cuma kamu yang berhak, karena kamu adalah istriku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.” Zaki melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Cyra.


“Aku nggak nyangka jika hidupku bakalan seistimewa ini setelah menikah denganmu.”


“Aku juga nggak nyangka bisa nikah sama cewek yang selama ini justru aku benci, menyebalkan, ceroboh dan suka bikin ulah.” Zaki menjepit ujung hidung Cyra dengan jarinya. “Namun rasa benci itu begitu cepat berbalik menjadi rasa cinta semudah membalikkan telapak tangan. Kamu telah sempurna mengubah perasaanku.”


Cyra tersenyum tipis. Kata-kata Zaki seperti siraman yang menyejukkan hatinya. “Jadi, apa sekarang aku masih nyebelin?”


“Kadang-kadang.”


“Tega!” Cyra menonjok kecil perut keras Zaki.


Zaki tersenyum. Dan senyumnya mendadak lenyap saat ia merasakan ciuman dahsyat mendarat di bibirnya. Sontak Zaki membalasnya dengan mata terpejam.


Inilah yang Zaki rindukan dari sosok Cyra. Cyra yang berani, yang nakal, yang nekat, dan suka menunjukkan hal-hal baru.


Cyra melepas ciumannya dan menatap Zaki lekat. Ia tahu suaminya itu sedang menahan sesuatu dan Cyra berharap bisa memenuhi hasrat Zaki saat itu juga.


TBC