PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 56


Zalfa langsung mendongak dan menatap wajah dingin Arkhan, wajah itu terlihat semakin beku. Zalfa tidak kaget dengan ekspresi calon suaminya itu, memang sejak awal Arkhan adalah pria paling dingin yang dia kenal.


“Pernikahanku dengan Faisal batal karena ulahmu. Kau yang menghancurkan impianku untuk bisa membina rumah tangga bersamanya. Dan sekarang kamu memintaku melepas cincin ini?” Wajah Zalfa sedikit menegang.


“Kamu batal menikah dengannya bukan karena aku, tapi karena calon suamimu itu meninggal,” ujar Arkhan dengan raut bengisnya. “Lepaskan cincin itu!”


“Enggak!”


“Kau menolak cincinku karena cincin pria itu masih ada di jari-jarimu bukan? Lepaskan sekarang!” gertak Arkhan dengan suara meninggi hingga menjadi pusat perhatian beberapa orang di meja sekitar. “Aku paling tidak suka ditolak.”


Jantung Zalfa berdetak keras mendengar bentakan Arkhan. Pria itu terlihat semakin menyeramkan saat emosinya naik. Disaat posisinya tidak marah saja, dia terlihat sangat bengis. Apa lagi di saat marah begini, bisa dibayangkan bagaimana kebengisannya.


Dengan perasaan sedikit takut, Zalfa terpaksa melepas cincin di jari manisnya.


“Good. Gadis pintar!” Arkhan merampas cincin dari genggaman Zalfa dan langsung mengantonginya ke saku kemeja. Gerakan tangan Arkhan begitu cepat hingga membuat Zalfa tidak sempat berkelit.


“Apa-apaan kamu? Kembalikan padaku!”


“Nggak penting kamu mau memakai cincin dariku atau enggak, tapi yang jelas nggak ada cincin lain yang menghuni jarimu. Sekali lagi, aku paling nggak suka ditolak.”


Zalfa melepas nafas panjang. Gondok sekali batinnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Ia tidak berdaya dan hanya bisa mengalah. Jika ia memaksa untuk merebut kembali cincin itu, yang ada dia dan Arkhan akan menjadi bahan perhatian seisi restoran.


Zalfa melihat arloji di tangan, lalu berkata, “Aku memiliki banyak pekerjaan lain yang jauh lebih bermanfaat dari ini. Kalau masih ada yang perlu kamu sampaikan, maka sampaikanlah. Atau ada lagi kegiatan yang oerlu kita selesaikan?”


“Tentu.” Arkhan menarik gelas kopinya lalu meneguknya. Dengan tenang ia berkata, “Kau mau calon suamimu adalah seorang muslim bukan? Kalau begitu temukan aku dengan seorang ulama dan biarkan aku mengucap syahadat.”


“Kamu dengar aku, kan?” Arkhan membuyarkan lamunan Zalfa.


“Mm.. I iya, aku dengar. Kalau begitu biar kuhubungi seorang ulama untuk mengatur waktu.” Zalfa mengambil ponselnya dari dalam tas yang ia letakkan di atas meja. Lalu menelepon Ustad Dahlan. Ia membicarakan perkara tentang Altahf dan Ustad Dahlan menyanggupi untuk bertemu dengan Arkhan. Zalfa meletakkan ponsel setelah pembicaraannya dengan ustad Dahlan selesai.


“Kebetulan ini adalah hari jum’at. Setelah selesai shalat jum’at, kamu bisa menemui ustad Dahlan di masjid Al Muhajirin.”


“Aku? Bukan aku, tapi kita. Kamu juga harus mengantarku.”


Zalfa berpikir sebentar, kemudian ia berkata, “Baiklah. Nggak masalah bagiku.”


“Kalau begitu kita punya banyak waktu di sini sembari menunggu shalat jum’at selesai.”


“Aku harus ke kafe sekarang. Banyak urusan yang harus kuselesaikan. Kita bertemu lagi saja nanti.” Zalfa bangkit berdiri.


“Kujemput kau di kafe. Tunggu saja di sana!”


Langkah Zalfa terhenti dan ia menoleh. “Aku bisa pergi sendiri. Kita gunakan kendaraan masing-masing.” Zalfa segera melangkah pergi setelah mengucapkan kalimat itu.


“Dasar keras kepala!” lirih Arkhan dengan sorot tajam.


***


TBC