PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
137. Pelukan


Di lorong rumah sakit, langkah Cyra gegap gempita. Tak sabar, ia pun berlari menuju kamar rawat inap yang informasinya ia dapatkan dari Andini melalui via telepon saat Cyra berada di perjalanan menuju rumah sakit. Ya, Zaki sudah dipindahkan ke ruang rawat.


Cyra langsung mendorong pintu dan memasuki kamar.


Alya yang sedang menyuapi Zaki, menoleh menatap Cyra yang berdiri di ambang pintu.


Cyra tertegun menatap Zaki yang juga tengah menatapnya. Hati Cyra terasa gembira, senyumnya tertarik lebar. Rasa bahagia membuncah. Ia melangkah mendekati Zaki.


Zaki masih menatap Cyra, bednya dalam posisi setengah terangkat hingga tubuh Zaki kini setengah duduk.


“Zaki kamu udah siuman?” Mata Cyra berkaca-kaca.


Zaki tersenyum seraya mengangguk.


Lihatlah Zaki masih bisa tersenyum disaat kondisinya begitu. Mengagumkan. Cyra menggumam dalam hati. uuugh… Andai saja tidak ada Alya, Cyra pasti sudah memeluk Zaki. Ups, Cyra harus menahan diri. Ada mak mertua di hadapannya sekarang, jangan sampai kebablasan.


“Ya udah, ini tugasmu sekarang, Cyra. Ayo, suapi Zaki! Tante laper, mau nyusul Om Surya makan. Tadi Om Surya makan duluan biar gentian. Tapi karena ada kamu, ya udah kamu yang suapin Zaki.” Alya menyerahkan piring besar yang berisi menu makanan ala ragam rumah sakit ke arah Cyra.


Dengan senyum cerah, Cyra langsung menyambut piring tersebut.


“Ya udah, Tante tinggal dulu. Duuuh… perut tante lapeeer banget, kebetulan kamu dateng. Beruntung ini Tante jadinya.” Alya mengelus lengan Cyra sebentar kemudian berlalu pergi.


Sepeninggalan Alya, Cyra langsung fokus memandang Zaki. Menatap mata hitam milik pria yang sangat ia cintai itu. Ia duduk di kursi tempat Alya tadi duduk, tepat di samping bed.


“Kenapa mukamu mendung banget?” Zaki tersenyum menatap wajah Cyra. “Aku nggak apa-apa, kok. Jangan cemas.”


“Aku akan terluka kalau kamu yang kenapa-napa.” Zaki mengusap pipi Cyra yang entah sejak kapan sudah dibanjiri air mata. “Jangan nangis, dong! Aku sayang sama kamu, aku nggak mau ngeliat kamu menangis karena aku.”


Cyra memindahkan piring ke meja sampingnya. Lalu tanpa aba-aba, ia menjatuhkan tubuhnya ke separuh dada Zaki. Tangan mungil Cyra melingkar di dada bidang Zaki yang kini sudah mengenakan kaos putih. Zaki memegang lengan Cyra dan menguisap lengan putih itu dengan jempol.


“Zaki, apa yang sebenernya terjadi? Apa bener Alfa yang udah bikin kamu jadi kayak gini? Aku janji nggak akan maafin dia kalau memang benar dia pelakunya. Kita harus laporin dia ke polisi. Ini udah keterlaluan, ini kriminal dan tindak kejahatan.”


“Papa yang akan urus semuanya, Ra. Kamu nggak usah pusing mikirin itu. Percayakan semuanya ke Papa. Papa akan urus masalah ini ke pihak yang berwajib. Alfa akan menerima resiko atas perbuatannya itu.” Lengan kanan Zaki terangkat dan mengusap kepala Cyra, mengecup pucuk kepala gadis itu cukup lama. Lengan kirinya belum bisa banyak bergerak, masih diperban. Luka di punggung tangannya itu belum kering.


“Nggak ada yang berubah dari diriku, Ra. Kata dokter, kondisi tubuhku akan kembali normal. Hanya butuh waktu pemulihan aja. Jadi kamu nggak usah cemas.” Zaki melirik kepala Cyra yang tergeletak nyaman di dadanya.


“Aku rasanya kayak hampir mati ngeliat kamu hampir mati, Zak. Aku nggak sanggup.”


“Semua udah berlalu.”


“Iya, tapi masih nempel di ingatanku.”


“Sekarang nggak usah diingat-ingat lagi. Kita ingat yang indah-indah aja. Ingat ketika kamu numpahin minuman ke mukaku, ingat ketika kita makan berdua, ingat ketika kamu nyosor nyium aku.”


Cyra langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar Zaki mengucapkan kalimat itu. Kan bukan Cyra saja yang main sosor, Zaki juga melakukan hal yang sama. Ia membuka mulut hendak protes, namun Zaki menempelkan dua jarinya ke bibir Cyra saat tahu gadis itu akan memprotesnya.


***


TBC