
“Eh, tasku ketinggalan. Bisa balik bentar nggak?” tanya Zena.
“Emangnya apa isi tasmu?”
“Dompet, ponsel dan semuanya barang penting milikku ada di tas.”
“Jangan cemas. Tasmu ketinggalan di rumahku, nggak akan hilang.”
“Bukannya begitu, aku kan tentu butuh uang untuk keperluanku nanti.”
“Kamu sekarang kan lagi jalan sama aku, jadi jangan cemas bakalan kekurangan apa pun. Soal makan dan lainnya biar aku yang tanggung. Kamu kayak pergi jalan sama orang nggak punya uang aja takut kelaperan.”
“Oh iya.” Zena tersenyum senang.
“Kamu mau makan di mana?” tanya Zaki.
“Mm... Terserah Mas, aja,” jawab Zena.
Zaki mengangkat alis mendengar Zna memanggilnya dengan sebutan ‘mas’.
“Apa kamu nggak punya pilihan tempat?” tanya Zaki lagi.
Zena tersenyum memikirkan nama-nama restoran mewah kesukaannya, restoran tempatnya sering makan bersama teman-teman atau pun keluarganya.
“Baiklah, aku rekomendasikan restoran untuk kita makan,” ujar Zena setelah memikirkan nama-nam restoran yang ada di kepalanya.
“Apa?”
“Restoran Bulan Bintang. Di sana ada menu kesukaanku.”
“Apa? Restoran Bulan Bintang?” Zaki pasang ekspresi sok kaget dengan raut mengernyit.
“Iya.”
“Aduuh... Itu kan retsoran elit. Pasti mahal-mahal makanannya. Satu porsi menu bisa sampai ratusan ribu.”
“Memangnya kenapa, Mas?”
“Kok, kenapa? Nanti uangku habis.”
Zena mengernyit kaget mendengar jawaban Zaki. “Tapi, makan aja kan nggak bakalan sampe habis jutaan, Mas.”
“Kita cari tempat makan lainnya aja.”
“Bukannya Mas yang minta rekomendasi tempat makan sama aku ya tadi? Dan restoran yang kusebutakn adalah restoran yang sering kukunjungi.”
Zena tertegun.
Zaki menghentikan mobil di tepi jalan. Zena menoleh ke arah Zaki, tak mengerti apa yang akan dilakukan Zaki.
“Kenapa berenti di sini, Mas?”
“Aku haus. Kamu beliin minuman ya.” Zaki mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Kemudian ia membuka lipatan dompet untuk mengecek kondisi dompetnya. Zena bahkan bisa melihat dompet Zaki dengan jelas. Di sana ada uang cash yang sangat banyak, serta kartu kredit dan kartu-kartu lainnya yang berderet memenuhi setiap lipatan dompet. Telunjuk jari Zaki mencari-cari sesuatu di antara tumpukan uang.
“Cari apa sih, Mas?”
“Uang.”
“Loh, itu kan uang.” Zena menunjuk uang ratusan ribu yang tersusun rapi di dompet.
“Jangan, dong. Nah, ini dia.” Zaki mengambil uang lima ribuan yang terselip lalu menyerahkannya kepada Zena. “Sana, kamu beli air minum gelas.”
Zena mengernyit melihat uang lima ribuan yang disodorkan ke arahnya. Kemudian terpaksa ia mengambilnya. Pandangannya kemudian mengedar ke luar. Tidak ada minimarket atau pun toko di sekitar sana. Hanya ada penjual klontongan di tepi jalan yang menjual beberapa jenis minuman dan jajanan anak-anak.
“Beli dimana, Mas?” tanya Zena.
“Itu. kan ada yang jual minuman.” Zaki menunjuk penjual yang duduk di kursi tepi jalan.
“Itu pasti kotor, Mas. Banyak debu. Minumannya juga nggak dingin.”
“Nggak apa-apa beli aja yang itu. di situ lebih murah.”
“Satu aja?” tanya Zena sembari menatap uang lima ribuan.
“Dua. Untukmu juga.”
“Ini mana cukup untuk beli dua botol minuman.”
“Beli aqua gelas atau teh gelas aja. Kan cukup. Palingan dua ribu. Eh iya, ini ada uang dua ribuan. Ya udah pakai uang yang ini aja.” Zaki menukar uang lima ribuan di tangan Zena dengan uang dua ribuan yang baru saja ia dapatkan dari dompetnya.
Zena semakin terperangah.
“Ya udah, sana beliin,” titah Zaki.
Zena akhirnya turun dari mobil meski dengan kening terlipat. Langkahnya pelan mendekati penjual dan membeli minuman tersebut sembari menyodorkan uang dua ribuan.
Zaki terkekeh di dalam mobil memperhatikan tingkah Zena, gadis itu terlihat malu dengan muka yang terlihat kemerah-merahan. Bagaimana mungkin dia tidak malu, turun dari mobil elit dan berhenti di pinggiran jalan untuk membeli minuman murah bahkan dengan uang dua ribuan.
TBC