
“Pak, Ibu yakin Faisal akan datang. Yang menelepon itu suara Faisal, loh.”
“Kita nggak tau kapan dia tiba di bandara. Bisa besok, lusa atau kapan.” Pak Ibrahim melirik wajah istrinya dan berkata lirih, “Itupun kalau infonya benar.”
“Barusan aku cek, penerbangan dari Medan ke Jakarta yang jam tujuh tanggal sepuluh semalam ada, yang jam dua dini hari tadi juga ada,” jelas Zalfa.
“Jika Faisal berangkat jam tujuh semalam, seharusnya dia sudah sampai sekarang,” ujar Pak Ibrahim semakin tidak meyakini akan hadirnya Faisal. Ingin sekali ia mengatakan agar istrinya membuang harapan untuk bertemu dengan Faisal, harapan itu hanyalah harapan kosong kepada penipu yang meniru suara Faisal. Entah bagaimana caranya orang itu bisa mengenali suara Faisal.
Pak Ibrahim menyentuh lengan istrinya dan memaksanya berdiri. Dengan penuh keterpaksan, Bu Fatima bangkit berdiri dan berjalan mengikuti suaminya menuju ke pintu keluar.
Zalfa merasa sangat berat untuk melangkah pergi. Kemudian ia menoleh ke pintu kaca di belakangnya. Tepat pada saat itu, ia menangkap pemandangan mengejutkan yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. Tampak seorang lelaki berjalan memasuki loby diantara beberapa orang lainnya yang mendorong koper. Faisal? Zalfa mengulang pandangannya. Hampir ia tidak mengenali wajah lelaki yang pernah mengisi hidupnya itu.
Faisal berdiri dan terdiam sesaat melihat ke kiri dan kanan, tanpa membawa apapun, tak ada koper, tak ada tas yang ditentengnya. Pakaiannya terlihat kumal dan beberapa bagian terlihat robek. Rambutnya sedikit gondrong. Tapi jelas ia masih terlihat tampan. Seseorang tampak menemaninya, berdiri di sisinya sembari melihat-lihat sekitar dengan ekspresi takjub. Penampilannya tak kalah kumal. Celana pendek cokelat yang benang di ujungnya tampak menjuntai-juntai, dipadu kaos oblong yang lehernya sudah melebar.
Jika mereka duduk di tepi jalan, pasti akan langsung mendapat lemparan uang dua ribuan dari orang-orang yang melintas.
Teriakan Zalfa menarik perhatian Pak Ibrahim dan Bu Fatima yang saat itu belum jauh dari Zalfa. Mereka menoleh. Mendapati Zalfa tengah menghambur dan Faisal melingkarkan tangannya di punggung Zalfa melepas jutaan rasa yang selama ini telah lama dipendam.
Sesaat setelahnya Zalfa melepaskan diri dari lingkaran tangan Faisal. Mengucap istighfar. Sadar sudah kebablasan faktor baper gara-gara jutaan rasa yang membuncah. Ditatapnya mata Faisal yang terlihat gelap dan lelah.
Ya Tuhan… benarkah yang sekarang dilihatnya itu Faisal? Subhanallah… Benar ini Faisal. Zalfa meyakinkan diri dengan meraba wajah Faisal. Tidak ada yang berubah dari wajah itu, hanya sedikit menghitam karena sering terpapar matahari. Zalfa ingin menjerit meluapkan kebahagiaan, mengucap rasa syukur, tapi air matanya sudah cukup mewakili itu semua. Ia tidak bisa berkata-kata, sungguh besar Kuasa Allah. Karena dibalik kecelakaan maut yang menewaskan ratusan orang, masih tersisa satu nyawa yang selamat. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Allahu Akbar.
“Faisal, benarkah ini kamu?” akhirnya Zalfa mengeluarkan suara setelah lama mengusir semua yang mencekat lehernya. Rasa haru dan gembira berbaur menjadi satu memenuhi ruang benaknya.
“Ini aku, Zalfa. Aku yang berjanji akan menikahimu,” jawab Faisal dengan pandangan teduh.
Kata-kata Faisal justru membuat Zalfa terpaku.
TBC