
Zaki mengesah kemudian bertanya dengan topik pembahasan lain, “Aku tadi ke ruang makan dan nggak menemukan apa-apa di meja makan. Kamu nggak masak ya untuk malam ini?” tanya Zaki sembari menyandarkan punggung ke pintu. “Aku laper.”
“Aku nggak sempet masak tadi, soalnya ngurusin Sifa. Sifa tadi nggak mau diangkat dari bak mandi, jadi lama banget deh mandinya. Uah gitu Sifa juga nggak mau didiemin. Dia pinginnya diajak main mulu, kalau ditinggal ngerjain pekerjaan lain, Sifanya nangis. Aku jadi nggak bisa ninggalin Sifa.”
“Tapi walau bagaimana pun kan itu udah jadi tugasmu. Jangankan ada Sifa, sebelum ada Sifa pun kamu sering nggak masak. Aku yang sering melakukannya. Seharusnya kamu mengambil pelajaran dari semua yang terjadi, aku membantu masak bukan berarti kamu lepas dari tanggung jawabmu.”
Cyra mengangkat alis dan berdiri lalu menghampiri Zaki. Menatap kekesalan di wajah suaminya itu. “Ini kamu jadi kesel sama aku karena bales dendam ya? kamu sedang nyari-nyari kesalahanku setelah tadi aku nyalahin kamu? Kamu lakukan hal ini untuk menutupi kesalahanmu dan membalas ke aku bahwa aku juga salah? Sebelumnya, kamu nggak pernah marah kalau aku nggak masak.”
“Itu karena aku mengharap kamu paham dengan tugasmu, bukan malah kamu measa besar hati atas sikapku yang selalu diam saat kamu nggak masak dan bahkan malah aku yang turun tangan untuk memasak.”
“Aku kan udah kasih tahu ke kamu kalau aku nggak sempet masak karena harus jagain Sifa. Baiklah, sekarang kamu jagain Sifa, biar aku keluar beli lauk mateng aja. Kalau aku masak terlebih dahulu, kamu keburu kelaperan.”
“Nggak usah! Selera makanku udah hilang,” ketus Zaki.
Cyra terhenyak mendengar keketusan Zaki yang baru kali ini ia dengar. “Sayang, kamu kok ngebentak aku?” Mata Cyra berair. Entah kenapa hatinya langsung tertusuk mendengar Zaki, pria yang sangat dia sayangi itu berbicara dnegan nada tinggi.
“Kamu membentakku tadi.”
“Aku hanya ingin kamu mengerti dengan tanggung jawabmu, mengurus rumah saja kamu nggak bisa. Lalu apa yang kamu bisa?” Zaki yang merasa disalahkan dan terus-terusan dipojokkan oleh Cyra, kini berbalik memojokkan Cyra dan menyalahkan wanita itu. nalurinya sebagai lelaki yang tidak ingin dipojokkan dengan berbagai macam kesalahan membuatnya bersikap demikian. Sesungguhnya Zaki juga tidak ingin bersikap seperti itu pada Cyra, tapi ia sudah kadung ingin menjaga wibawa.
Hati Cyra semakin ngilu? Kok, Zaki jadi sentimen? Bahkan kini menganggap Cyra tidak bisa apa-apa.
“Zaki, kamu nggak ngerti dengan pekerjaan seorang wanita. Kelihatannya aja sepele, tapi kenyataannya menjadi wanita itu tidak mudah. Tangan wanita hanya ada dua, tapi begitu banyak daftar pekerjaan yang haus wanita kerjakan. Aku hanya mengharap kamu maklum kalau aku nggak sempet mengerjakan pekerjaanku. Dan aku bersyukur kalau kamu mau ngebantuin.” Cyra menahan air matanya agar tidak tumpah, dan berhasil meski akibatnya hatinya malah menjadi sesak dan terasa penuh dengan sumpalan perasaan yang berkecamuk. “Apa lagi sejak kecil aku nggak pernah mengerjakan pekerjaan beginian, ada asisten rumah tangga yang selalu membereskan pekerjaan rumah.”
“Begitu banyak wanita di dunia ini dan mereka sanggup menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kamu contoh saja mereka yang layak untuk dicontoh, jangan malah mencontoh yang nggak bisa menjadi ibu rumah tangga.”
TBC