
“Faisal!” Bu Fatima muncul diantara mereka dan merengkuh kedua lengan puteranya itu hingga tubuh Faisal berpaling dari Zalfa dan menghadap ke arah Ibunya. Bu Fatima meraba-raba tubuh Faisal, lengannya, dadanya, lehernya, sampai ke wajahnya. Tidak salah, memang Faisal yang ia lahirkan dari rahimnya. “Ya Allah, ini benar kamu, Nak.” Bu Fatima langsung maju dan memeluk tubuh Faisal erat-erat. Tangisnya pecah.
Pak Ibrahim ikut memeluk Faisal dari samping. Berkali-kali ia mengucap hamdallah. Terbesit penyesalan di benaknya karena sudah menaruh ketidakpercayaan terhadap anaknya sendiri. Zalfa meneteskan air mata dengan seulas senyum menatap kedua orang tua itu memeluk Faisal. Seakan ia sedang menunggu giliran untuk bisa memeluk seperti yang dilakukan Pak Ibrahim dan Bu Fatima, tapi mustahil itu ia lakukan. Yang ia lakukan sekarang hanyalah daim saja.
Terima kasih Ya Allah… Terima aksih atas kebesaran-Mu. Bisik Zalfa dalam hati sembari menatap suasana hangat yang tercipta di hadapannya. Ia sadar apa yang harus dilakukan. Ia harus menyingkir memberikan waktu pada keluarga itu untuk bercengkrama melepas rindu. Jika ia masih di sana, perhatian Faisal akan terpecah menjadi dua bagian. Ia ingin Faisal fokus pada keluarganya.
Sementara lelaki berambut ikal yang berdiri di sisi Faisal tersenyum lebar menikmati suasana haru di depannya.
Pak Ibrahim melepas pelukannya dan menoleh ke lelaki berambut ikal itu, lalu bertanya, “Anda siapa?”
“Aku Enek Hasibuan. Kawan Faisal,” sahutnya dengan nada bersemangat seperti barusan menyantap seekor ayam bakar hingga suaranya kedengaran cempreng mengalahkan speaker mushola. Matanya berbinar penuh takjub melihat situasi sekitar.
“Lihat Yah, apa yang Ibu bilang? Faisal pasti kembali.” Bu Fatima menatap muka Faisal penuh haru. “Kamu salah jika menganggapnya sudah meninggalkan dunia ini.”
“Faisal, awalnya Ayah tidak percaya kamu akan kembali. Ayah pikir informasi ini hanyalah sebuah penipuan. Sebab pemilik rekening itu mengaku tidak menerima uang kiriman Ibumu padahal Ibumu jelas-jelas sudah mengirimkannya. Sampai-sampai Ibumu mengirim uang dua kali,” Pak Ibrahim menjelaskan.
“Ya ampun Yah, aku baru ingat, gara-gara gugup, pertama kalinya aku mengirimkan uang itu dengan cara kliring. Yang kedua baru pake yang online.”
“Owalaaaah...” Pak Ibrahim geleng-geleng kepala. Patutlah uangnya belum diterima saat itu juga oleh si pemilik rekening padahal saldo sudah dipotong. Bisa dua, tiga atau bahkan lima hari uang baru sampai dengan cara pengiriman kliring. Pak Ibrahim tidak mempermasalahkan, ia maklum karena saat itu istrinya sedang gugup sehingga tindakannya bersalahan.
“Dalam beberapa hari ke depan, pemilik rekening itu pasti akan menerima uangnya,” ucap Bu Fatima.
“Ya sudahlah, nggak masalah. Bagi-bagi rejeki sama orang lain, anggap itu adalah rejeki untuknya. Sekarang, yang terpenting Faisal sudah kembali dengan selamat,” sahut Pak Ibrahim menenangkan hati istrinya.
“Ayo kita pulang, Faisal. Pasti kamu lelah sekali,” tutur Bu Fatima yang pandangannya tak lepas dari wajah Faisal. Tak pernah sebelumnya Faisal berpenampilan seburuk itu, dan sekarang ia terlihat sangat memprihatinkan di mata Bu Fatima.
“Iya, Bu.” Faisal tersenyum bahagia melihat Ibunya tersenyum. Senyuman yang amat dirindukan selama ini. “Oya, kenalin ini Enek. Dia yang selama ini menolong dan merawatku, ijinkan Enek tinggal di rumah kita untuk sementara waktu. Aku akan memberinya pekerjaan yang layak,” sahut Faisal sembari merangkul bahu Enek yang matanya terbelalak lebar dengan senyum mengembang hingga mempertontonkan barisan giginya yang berantakan.
TBC