
Cyra memasuki rumah Alya dengan langkah lebar, kedua lengan mungilnya menggendong Sifa. Cyra memang tidak suka menggendong Sifa dengan kain gendongan. Dia lebih nyaman menggendong bocah itu tanpa kain, sebab Sifa paling tidak betah berada di dalam kain gendongan.
Rumah sepi. Tidak ada siapa-siapa hingga langkah Cyra sampai ke ruangan tengah. Setelah tadi ia mendapat kabar dari Zaki tentang kondisi Alya, Cyra memutuskan langsung mendatangi rumah Alya bersama dengan Sifa. Ia naik taksi, ia memilih untuk tidak menyetir mobil sendirian, sebab akan berbahaya jika kedua tangannya digunakan untuk menyetir, lalu Sifa ditarok mana? Andai saja Sifa duduk sendirian di sisi kemudi, meskipun bocah itu pakai selatbelt, hidungnya bisa rata saat menggelinding ke lantai mobil.
“Biiik!” panggil Cyra.
Bik Pay muncul dari arah dapur. Ia tersenyum lebar menatap kedatangan Cyra. “Eeeh… Non Cyra. Ya ampun, Non tambah cantik aja.” Bik Pay menatap wajah Cyra yang semakin cerah. “O ya, ada apa, Non?”
“Mama Alya mana? Aku mau ketemu.”
“Ooh… Ibu di kamarnya. Tadi jatuh di kamar mandi.”
E eeh… dosa nggak kalau bilang bahwa itu adalah hukuman untuk mertua bahlul? Aelah Cyra tidak setega itu untuk ngomong begitu.
“Ya udah aku mau liat mama. Bibik bawa Sifa dulu.” Cyra menyerahkan Sifa kepada Bik Pay.
“Iya iya sini anak cantik. Uluh uluh… Cantiknya pakai bando warna merah.” Bik Pay menggendong Sifa.
Yang digendong menjauhkan wajahnya dari wajah Bik Pay dengan kening bertaut. Matanya menilik wajah Bik Pay dengan heran, sepertinya Sifa kurang menyukai orang asing hingga kini wajah bocah itu berubah mendung. Bahkan bibirnya manyun hampir menangis.
“E eeeh… janga nangis ya, pinter.” Bik Pay membujuk. Ia pun kemudian bernyanyi asal-asalan untuk menghibur Sifa, “Anak pinter anak pinter, jangan nangis jangan mewek. Tek tung gendang dus… Tek tung dang ding brem… Tak dung deng ding jreng…”
Mendengar music aneh yang keluar dari mulut Bik Pay, yang kedengarannya sangat jelek dan mengerikan, Sifa justru tertawa menggemaskan. Musik terburuk Bik pay pun berhasil membuat Sifa betah dalam gendongannya.
Cyra tersenyum melihat interaksi antara Sifa dan Bik Pay. Ia kemudian melangkah menuju kamar Alya.
Untuk beberapa detik Cyra berdiri di depan pintu kamar yang tertutup. Ia menarik nafas untuk menenangkan diri. Semoga ia tidak khilaf dan melempar alya dengan sepatunya jika nanti Alya masih membahas soal Zena. Bahlul ampun deh. Siapa tahu setelah Alya sakit dan bahkan jatuh di kamar mandi, ia berpikir kalau hidup dan mati tidak bisa diprediksi. Sehingga ia benar-benar menginginkan Zaki secepatnya memiliki anak sebelum kematian hadir kepada salah satu diantara mereka.
Tok tok… CYra mengetuk pintu.
“Masuk!” sahut Alya dari dalam.
“Permisi! Pagi, Ma!” sapa Cyra sembari membuka pintu kamar. Ia menampilkan ekspresi cerah bersahaja, senyum lebar dan tatapan teduh.
“Pagi!”
“Mama kenapa bisa sampai jatuh?” Cyra duduk di kursi.
Alya tersenyumk samar. “Iya. Entah bagaimana kok ya bisa kepleset.” Ia menyentuh betisnya yang membiru.
“Ya ampun, Ma. Itu pasti sakit.”
“Nyeri banget.”
“Kenapa mama nggak ke rumah sakit?” Cyra menyentuh pelan bagian yang membiru. Kemudian telapak tangannya itu berpindah menyentuh lengan alya. “Mama juga panas. Mama demam. Kita ke rumah sakit aja yuk.”
“Enggak, Cyra. Mama udah minum obat resep dari dokter. Mama udah panggil dokter keluarga kok. Mungkin besok demamnya juga sembuh.”
“Trus ini kakinya gimana? Mama nggak bisa jalan kan? Mendingan mama ke rumah sakit aja biar bisa dirawat secara intensif.”
“Nggak usah. Kaki mama juga udah dikompres, nanti pasti baikan. Siapa yang kasih tau kamu kalau mama sakit?”
“Zaki. Tadi papa Surya nelepon Zaki.” Cyra menghela nafas menatap betis mertuanya yang membiru. “Biar aku buatin sup ayam ya, Ma. Orang demam bagus loh makan sup ayam.” Cyra bangkit berdiri sebelum mendengar jawaban dari mertuanya. Ia tidak perlu mendengar persetujuan Alya, sebab ia yakin mertuanya itu pasti tidak akan menolak makanan pendongkrak kesembuhan.
Cyra ke dapur dan memasak sup ayam dengan tangannya sendiri. Beberapa hari yang lalu, ia melihat cara memasak sup ayam di youtube untuk dia praktikkan di rumah dan menyuguhkannya untuk Zaki. Hasilnya, enak sekali. Zaki juga memuji hasil masakannya. Sekarang ia memasak sup untuk mertuanya, sama persis seperti sup yang dia masak kemarin. Ia bahkan belum lupa dengan takaran bumbunya.
Usai masak, Cyra membawa satu mangkuk sup ke kamar Alya. Kemudian dengan telaten, Cyra menyuapi mertuanya makan sup.
“Cyra, makasih ya kamu udah merawat mama,” ucap Alya sembari menatap Cyra dengan pandangan teduh.
Cyra mengangguk sambil tersenyum.
“Maafin mama kalau mama udah bikin kamu kecewa. Seharusnya mama nggak menghadirkan wanita lain untuk Zaki yang pastinya membuatmu merasa sedih.” Alya menyentuh punggung tangan Cyra.
Cyra menatap mertuanya dengan tenang.
😁😁😁