
Mobil berbelok memasuki pelataran rumah Zaki. Cyra mengikuti Zaki turun dari mobil.
“Kamu nggak mau nganterin aku sampe ke depan rumahku?” tanya Cyra penuh harap.
Zaki mengernyit heran. “Nganterin ke rumahmu? Kamu tinggal jalan kaki aja sampe, kenapa meski dianterin? Apa rumahmu udah pindah digotong semut?”
“Nggak romantis banget. Masak nganterin pacar nggak sampe ke rumah. Aku diberentiin di rumah cowoknya dan disuruh pulang sendirian.”
Zaki menoleh ke arah luar pagar rumahnya. Kemudian ia melangkah maju mendekati Cyra, kedua telapak tangannya membingkai pipi gadis itu.
“Jangan mesum, ya! Ini di depan rumahmu, salah-salah kita bisa langsung dikawinin kalau diintip dari dalem sama bokap nyokapmu,” bisik Cyra penuh ancaman.
Zaki tak menghiraukan kata-kata gadisnya itu, tangannya memutar kepala Cyra, membuat wajah Cyra menoleh ke arah luar pagar dan pandangannya mendapati mobilnya yang sejak tadi bertengger di sana.
“Mobilmu aja di sana. Kamu harus pulang sendirian membawa mobilmu itu, okey Baby! Jangan manja!” Zaki menepuk pipi Cyra dengan sorot tajam.
Sontak pipi yang ditepuk pun langsung memerah. “Eh iya, lupa. Nggak bisa ya nggak usah pake muka sadis gitu? Ya udah, lupain soal permintaanku yang minta dianterin pulang. Aku pulang sendiri nyetir mobil aja. Dadaaah… Banteng!”
Zaki membelalak? Banteng? Apa dia kelihatan seperti seekor banteng? Awas Cyra, kalau saja ketemu nanti, Zaki akan mengetok jidat Cyra tiga kali. Belum tahu ya bagaimana nikmatnya ketokan kepalan tangan Zaki?
Cyra ngibrit lari keluar gerbang dan memasuki mobilnya. Setelah memarkirkan mobil ke garasi, Cyra melenggang memasuki rumah.
“Ma!” Cyra berseru memanggil mamanya. Tak ada jawaban, ia menoleh ke kiri kanan. Sepi. “Pa! Bik Mey!”
Semuanya tidak ada di rumah. Sepertinya rumah benar-benar sedang kosong.
Tak lama setelah berjibaku dengan air shower setelah sebelumnya berendam di bath tub, Cyra keluar kamar mandi dengan handuk yang membelit tubuhnya dari dada sampai ke lutut.
Sambil bersenandung dengan bunyi lagu na na na na, Cyra menuju lemari hendak memilih baju. Namun baru saja tangannya menjulur, belum sempat memegang handle lemari, terdengar suara deheman laki-laki dari arah belakang.
Terkejut, Cyra menoleh dan mendapati Alfa yang tengah berdiri menyandarkan punggung di dinding dekat pintu. Kedua tangan pria itu bersilang di dada. Sorot matanya menatap Cyra dengan pandangan dalam.
Jantung Cyra berlarian melihat ekspresi Alfa yang tampak tenang dan bahkan kini menatap Cyra yang dalam keadaan tidak pantas untuk dipandang. Lilitan handuk yang hanya menutupi bagian dada sampai ke separuh pahanya, membuatnya merasa sangat geli dan risih.
“Alfa? Kenapa lo di kamar gue? Keluar sana!” geram Cyra dengan paras sebal.
Alfa masih diam. Sorot matanya dingin menusuk. Ekspresinya tenang dan sulit ditebak. Entah apa yang sekarang ada dalam pikiran cowok itu. Alfa berjalan maju sesaat setelah Cyra bergerak hendak membuka lemari.
Sontak gerakan tangan Cyra langsung terhenti melihat Alfa yang berjalan semakin dekat ke arahnya. Tatapan mata Alfa yang berbeda dari biasanya, membuat Cyra merasa semakin terancam.
Alfa memutar kunci yang tergantung di lubang pintu lalu mengantongi benda kecil itu ke kantong celananya.
“Alfa, lo mau apa? Jangan gila lo! Pergi!” Cyra terpaksa mundur dan menjauhi Alfa. Andai saja penampilannya tidak dalam keadaan seperti sekarang, tentu saja ia tidak setakut itu. Tapi handuk di tubuhnya bisa saja terlepas dengan sekali tarik andai saja tangan Alfa benar-benar melakukannya. Itulah yang membuatnya lebih memilih melarikan diri.
TBC
buat para readers harap maklum yah kalo aku belum bisa update, hidupku ini gk melulu mesti melototin laptop. Ada kalanya aku gk bisa pegang laptop saat ada kesibukan lain. Aku juga punya kehidupan nyata yg mesti kuurus. okeeey cintah?