PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
109. Help Me


Detik berikutnya Alfa melangkah secepat kilat mendekati Cyra.


Dengan gesit Cyra menghambur lari menghindari pria itu. Namun naas, Alfa berhasil meraih lengan Cyra dan menariknya sangat kuat.


Cyra menjerit dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan kokoh Alfa.


Cyra akhirnya mengeluarkan jurus ampuhnya dengan menendang **** Alfa, namun akibat ruang gerak lututnya yang terbatas, membuat tendangan tidak mengenai sasaran, justru hanya mengenai paha pria itu.


Alfa melempar tubuh Cyra ke ranjang dan kemudian ia dengan gerakan cepat menyusul menaiki ranjang lalu mengunci pergerakan tubuh Cyra dengan menekan kedua lutut Cyra dengan lututnya. Sementara kedua tangan Cyra, dia pegangi kuat-kuat. Seringaian muncul di wajah Alfa melihat Cyra yang sudah tak berkutik di bawahnya


Cyra semakin geram melihat muka Alfa yang berada sekitar setengah meter dari wajahnya. Adakah keajaiban datang di saat seperti sekarang? Roket yang mendadak nimbus rumah atau meteor jatuh gitu?


Cuh!


Nah, senjata paling menjijikkan pun digunakan juga oleh Cyra. Gadis itu meludahi wajah Alfa. Nah, rasain tuh jigong! Nikmati aja aroma pete.


Tindakan Cyra ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa, Alfa dengan gesit mengambil sapu tangan dari kantong kemejanya dan membekap mulut Cyra dengan sapu tangan tersebut.


“Maafkan aku, Cyra. Hanya ini yang akan membuat kita bersatu. Alfa menatap bibir Cyra yang merah. Hasratnya kian menjadi melihat bibir itu sedikit terbuka. “Gue mencintai lo, Cyra.” Alfa mendekatkan wajahnya ke wajah Cyra.


Satu centi sebelum bibir Alfa mendarat, tubuhnya tiba-tiba melayang dan berakhir dengan terkapar di lantai setelah sebelumnya merasakan tendangan hebat mengenai bok*ngnya. Rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhnya akibat tendangan dari Zaki, ditambah hentakan keras di punggungnya.


Alfa menatap tajam pada Zaki yang sudah berdiri menjulang tinggi di hadapannya. Entah bagaimana Alfa sampai tidak menyadari kedatangan Zaki yang sebelumnya melakukan aksi pendobrakan pintu setelah memutar knop yang terkunci. Saking terbuai melihat keindahan Cyra, Alfa sampai tak perduli dan tidak ngeh akan suara berisik pendobrakan pintu yang dilakukan Zaki. Dia pikir, suara gaduh di luar tadi hanyalah halusinasinya semata. Tapi ternyata ia salah telah mengabaikan suara gaduh tersebut.


Zaki menyambar selimut dan melemparnya ke tubuh Cyra untuk menutup tubuh yang hanya terbalut handuk tersebut.


“Kurang ajar! Beraninya kau berbuat sehina ini pada Cyra!” Zaki melangkah maju dan meraih kerah baju dada Alfa. Sudah tak bisa lagi digambarkan bagaimana ekspresi kemarahan yang terlihat di wajah Zaki. Wajah tampan itu sampai memerah.


Zaki menarik kerah kemeja tersebut hingga tubuh Alfa terangkat dan bangkit berdiri mengikuti gerakan tangan Zaki.


Zaki mendorong tubuh Alfa hingga membentur dinding. Bertubi-tubi, layangan tangan Zaki mendarat keras di pipi Alfa hingga muka Alfa lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Tinjuan tangan Zaki kembali melayang hendak mendaratkan pukulan untuk kesekian kalinya, namun kepalan tangan itu tertahan di udara melihat muka Alfa yang sudah belur. Zaki heran, Alfa sama sekali tidak melawan. Dia menerima pukulan itu tanpa sekalipun membalas meski ekspresi wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.


TBC