
Zalfa terseret memasuki mobil mewah milik Arkhan. Ia terduduk pasrah di samping kemudi. Tak lama Arkhan menyusul masuk dan menyetir mobil keluar area masjid, tepatnya melintasi Faisal yang terpaku menatap kepergian mobil hingga hilang dari pandangan.
Zalfa tidak berani menoleh ke arah Faisal saat mobil melintasi pria itu. kepalanya lurus tak bergerak, hanya manik matanya saja yang sedikit melirik dan mendapati ekspresi kecewa di wajah pria itu.
“Aku tidak perduli dengan pernikahan ini. tapi setidaknya temui ibu dan keluargaku, katakan kalau kamu adalah istriku. Setahu mereka, aku pergi untuk menikah.”
“Dan mereka nggak menghadiri pernikahanmu?”
“Itu bukan urusanmu.” Arkhan menyetir dengan kelajuan di atas rata-rata.
Sampai detik ini Zalfa masih bertanya-tanya, alasan apa yang membuat Arkhan bersikeras bersedia menikahinya sementara pria itu juga terlihat tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Apakah hanya sebatas ingin menutupi aib Zalfa?
Setelah lama mobil melaju dan sepasang pengantin baru itu duduk bersisian tanpa pembicaraan, mobil pun sampai di sebuah ruamh mewah. Rumah bak istana yang membuat Zalfa selalu takjub saat memandangnya.
Zalfa turun dari mbil sesaat setelah melihat Arkhan keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah. Zalfa berjalan dengan langkah pelan memasuki rumah mengingat sendal high heels yang melekat di kakinya bisa saja membuat tubuhnya terkapar di lantai. Langkahnya memelan saat sudah berada di tengah-tengah ruangan utama yang luas dan Arkhan menatapnya dengan alis terangkat.
“Tinggalah di rumah ini,” ujar Arkhan datar. “Kamu bebas melakukan apapun di sini. ini sekarang menjadi rumahmu juga. Terserah kamu mau tidur di mana. Ada banyak kamar di rumah ini. kamu bebas memilih kamar yang mana. Kamarku ada di lantai dua, belok kanan, lurus, pintu warna biru. Hanya ada satu pintu warna biru di rumah ini. Kamar mama dan Elia ada di lantai dua juga, tapi belok kiri. Pilihlah kamar selain dari kamar Elia dan kamar mama.”
“Dimana Elia dan mamamu berada sekarang?”
“Mereka sedang ke luar kota.”
“Bukankah alasanmu membawaku kesini untuk mempertemukanku dengan mereka? Tapi nyatanya mereka nggak ada di rumah.”
Zalfa tertegun. Ternyata Arkhan jauh lebih cerdik dari yang ia pikirkan. Zalfa jelas tidak bisa membantah mengingat kepahamannya mengenai agamanya. Dan tentu saja ia merasa malu pada Arkhan jika ia tidak bisa mencontohkan hal baik pada seoang mualaf. Ia sadar sepenuhnya, bahwa ia harus taat pada suaminya. Apa lagi untuk urusan tempat tinggal, alasan apa yang membuatnya tidak mau tinggal seatap dengan suaminya itu? sungguh dosa besar baginya menentang tuuan baik suaminya tanpa alasan.
“Pakaianku sehelai pun nggak ada di sini, bagaimana mungkin aku bisa tinggal di sini?”
“Nanti akan diantar oleh Reza.”
“Reza? Memangnya dia tahu dimana alamat rumahku untuk menjemput pakaianku?”
“Tidak perlu sampai harus ke rumahmu untuk mendapatkan pakaianmu. ada banyak pakaian di mol.”
“Apakah Reza tahu ukuran dan selera pakaianku?”
“Sekali saja melihat gayamu berpakaian, aku sudah tahu selera dan style–mu. Dan soal ukuran, aku tahu persis semua ukuran milikmu. Jadi jangan ragukan itu,” jawab Arkhan sambil melenggang naik ke lantai atas sembari melepas jas dan menyampirkan jas tersebut ke satu lengan.
Zalfa terpaku sendiri di ruangan itu.
***
TBC
JANGAN LUPA KLIK VOTE AND SUMBANGIN POIN 😁😁😁