PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
218. Extra Part 28


Zaki menghentikan mobil tepat di pekarangan rumahnya. Ia melirik Zena yang masih sesenggukan di sisinya. Batinnya tergelak, rasanya ia ingin tertawa ngakak. Tapi tidak tega, jadi tawanya ditelan dalam hati saja. Itulah resikonya untuk wanita yang bersedia menjadi madu, bersedia merusak rumah tangga orang lain.


“Jangan nagis lagi, kalau ketahuan orang tua kita, nanti dikirain kamu kuapa-apain lagi,” ucap Zaki sok perhatian. Zaki kemudian mengambil tisu dan mengelapkannya ke dahi, leher dan lubang hidungnya.


“Nih, lap deh air matanya.” Zaki menyodorkan tisu.


Zena terdiam dan melongo melihat tisu yang bentuknya sudah dikepal bundar bekas lap keringat Zaki. “Apa kamu nggak bisa ngambilin tisu yang baru? Tisu bekas begitu dikasih ke aku? Mana bekas ingusmu lagi,” rengek Zena sambil sesenggukan.


“Kamu pakai aja ini. Jangan minta yang baru.” Zaki menyodorkan tisu itu.


Zena menggeleng kemudian tangannya menjulur hendak mengambil tisu.


“E eh, mau ngapain?” Zaki menampel tangan Zena yang menjulur ke arah tisu.


“Ngambil tisu,” jawab Zena setengah dongkol.


“Jangan. Nanti tisuku habis. Kamu harus ngirit. Kamu pakai aja ini. Nggak pa-pa bekasku, Cuma bekas ngupil dikit kok.” Zaki masih saja menyodorkan tisu di tangannya.


“Iiiiih… Nyebelin.” Zena menjerit kesal kemudian turun dari mobil dan setengah berlari memasuki rumah.


Lagi-lagi, Zaki terkekeh. Ia sampai menghabiskan waktu lima menit untuk menghabiskan tawanya yang terpingkal-pingkal. Kemudian Zaki terdiam memikirkan perbuatannya. Apakah dia sudah keterlaluan? Ah, tidak. Semua itu ia lakukan bukan karena benar-benar pelit, tapi hanya sebuah trik untuk dapat membuat Zena menjauh dan membencinya. Hanya untuk mempertahankan rumah tangganya. Dia yakin apa yang dia lakukan sudah benar meski ia telah membuat seorang gadis menangis. Setidaknya satu kebaikan sudah dia lakukan meski harus mengorbankan yang lainnya.


Zaki mengambil ponselnya dan menscrol kontak. Ia tersenyum menemukan nama sayangku yang tertera di sana. Tak lain nomer Cyra. Ia kemudian menelepon istrinya tersebut. Telepon terhubung namun Cyra tidak menjawab hingga nada sambung terputus. Zaki mengulang panggilannya. Pada panggilan kedua, telepon pun terhubung. Bukan suara Cyra yang menjawab melainkan suara tangisan Sifa yang lengkingannya mampu membuat gendang telinga Zaki serasa hampir pecah. Zaki menjauhkan ponsel dari telinga. Astaga, Sifa kalau nangis ngegags banget.


“Cyra!” panggil Zaki.


“Ngapain dia ngamuk?”


“Aku lagi jalan-jalan ke mol nih. Lah ini pas aku lagi milih-milih baju renang, Sifa malah pegang-pegang BH. Dia minta dibeliin BH. Kacau kan.”


Zaki malah tergelak mendengar penjelasan Cyra. Anaknya memang kocak, belum apa-apa udah minta dibeliin BH, untuk persiapan kalau udah gede kali ya. Zaki geleng-geleng kepala.


“Ya udah, kamu beliin aja. Toh kan nanti kamu juga yang pakai,” jawab Zaki setelah memuaskan tawanya.


“Enggak, ih.”


“Kenapa?”


“Sifa nggak mau dibeliin satu, maunya dia beli semuanya, setumpuk bra yang dipajang diangkut semua. Buat apa coba sebanyak itu?”


“Ha haaaa…” Zaki akhirnya semakin tergelak.


“Sifa ngeliat hiasan bagus di branya makanya dia kepingin. Ya udah aku mau beliin mainan aja buat Sifa. Entar aja telponnya.”


“Oke, sayang.” Zaki menutup telepon. Ia geleng-geleng kepala mengingat tangisan Sifa yang teriakannya luar biasa. Niat ingin mengadu soal Zena kepada Cyra pun batal.


TBC