
“Audubillahiminasyaitonirojim….”
Zalfa mengangkat kepala dan melihat si pembaca Al Qur’an tersebut. Arkhan duduk di depan menghadap Al Qur’an yang telah dipersiapkan, mengenakan peci hitam dan kemeja putih. Pelan, kepala Zalfa tertunduk. Ada apa ini? Ia merasa seperti sedang bermimpi.
“Bismillahirohmannirohim…”
Lemas, tubuh Zalfa terkulai seakan tak bertenaga lagi. Bagaimana bisa Arkhan duduk di depan sana dan membaca Al-Qur’an dengan penuh kepercaayaan diri? Baru membaca Basmallah, hati Zalfa sudah bergetar. Lidah Arkhan seperti sudah terbiasa melafazkannya.
“Isytarou bi’aayaatillaahi samanang qoliilan fa shodduu ‘an sabiilih, innahum saaa’a maa kaanuu ya’maluun…”
Sungguh indah lantunan yang diserukan Arkhan. Suaranya merdu dan menggetarkan hati yang mendengar. Zalfa merinding dan matanya berkaca-kaca. Baru satu ayat, namun sudah mampu menyiram kalbu. Benarkan Arkhan yang sedang membaca ayat suci itu? Benarkah lelaki yang baru saja mengantar Ibunya ke gereja itu sedang menyerukan kalimat agung yang diturunkah Allah?
Ya Tuhan, Arkhan yang telah membacakan ayat-ayat-Mu membuat Zalfa terharu dan hampir meneteskan air mata. Zalfa hampir tidak mempercayai apa yang ia lihat dan ia dengar. Hatinya basah. Ia kagum, kagum pada sosok Arkhan. Banyak pertanyaan yang menyerbu benak Zalfa begitu Arkhan membaca Al Qur’an, tapi ia hanya bisa menahan serbuan pertanyaan itu dengan diam dan menyimak ayat yang dibacakan.
Selesai membaca Al Qur’an, gemuruh tepuk tangan diiringi ucapan hamdallah menggema memenuhi masjid.
Bukan hanya Zalfa saja yang merasa kagum, seluruh yang hadir di masjid juga merasa kagum. Banyak orang beragama Islam namun belum tentu bisa mengaji seindah dan selancar Arkhan, tapi bagaimana bisa seorang non muslim seperti Arkhan justru memiliki ilmu sedalam itu terhadap Islam? Luar biasa.
Entah kenapa Zalfa jadi penasaran ingin melihat raut wajah Arkhan sekarang. Namun Zalfa menahan pandangan agar tidak melihat ke arah Arkhan. Pandangannya tetap fokus ke pembawa acara yang kini telah berdiri di depan memulai acara.
Pembawa acara membacakan susunan acara. Pertama dimulai dengan kata sambutan dari Rektor Kampus yang mengadakan acara tersebut, dilanjutkan sambutan dari Wali kota sebagai tamu undangan yang turut mendukung acara.
Bapak Wali kota mengucapkan salam, disambut gemuruh salam para jamaah. Kata sambutan berakhir.
Kini saatnya memasuki acara inti, tak lain ceramah yang diisi oleh Ustad Dahlan.
Gemuruh salam meramaikan masjid begitu Ustad Dahlan mengucapkan salam sampai tiga kali. Beliau menyampaikan khotbah mengenai perbaikan akhlak. Cara beliau bertutur dan menyapa sangat bersahaja dan menarik simpati.
“Para pemirsa yang budiman, hari ini kita sedang berkumpul untuk bersama-sama menambah ilmu pengetahuan, bertepatan dengan tanggal 1 Muharam, Tahun baru Islam. Maka di Tahun yang baru, diharapkan semuanya juga baru. Bukan baju, mobil atau rumahnya yang baru, tapi akhlaknya. Yang mana sekarang bangsa kita sedang sakit. Kenapa sakit? Karena akhlak manusianya yang buruk. Sebab jika akhlak manusianya buruk, maka perekonomian pasti buruk. Bahkan berpolitik pun menggunakan dengan akhlak yang rusak. Rakus, serakah, dan tamak. Jangankan dalam urusan negara, bahkan dalam urusan rumah tangga pun pasti akan kacau. Tidak bisa menjadi suami yang baik, tidak bisa menjadi istri salihah, juga tidak bisa menjadi anak yang berbakti.
TBC