
Zaki melonggarkan dasi di lehernya. Satu tangannya setia menyetir mobil. Ah, ia sudah kayak presiden direktur di perusahaan besar saja mesti pakai dasi segala. Selama profesinya menjabat sebagai dosen, tidak pernah ia memakai dasi begini. Penampulannya sudah cukup rapi dengan mengenakan kemeja dan celana dengan ikat pinggang keren. Eh, tadi Cyra memasangkan dasi itu ke lehernya. Kesannya jadi formal sekali.
Zaki keluar dari mobilnya yang baru saja diparkirkan di pekarangan rumah. ia melirik mobil yang lebih dulu terparkir di sana. Sebuah mobil asing yang cukup mewah. Itu pasti mobil milik keluarga Zena, gadis yang akan diperkenalkan dengannya.
Baiklah, strategi dimulai.
Zaki memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka. Tepat dugaannya, keluarga asing yang dia perkirakan adalah keluarga Zena sudah berkumpul di ruang tamu. Sepasang suami istri, serta seorang gadis berwajah sederhana namun penampilannya terkesan elit.
“Zaki, kami sudah menunggumu. Akhirnya kamu datang juga.” Alya tersenyum cerah menyambut kedatangan putranya.
Zaki mengangguk ramah dan tersenyum sangat manis, semanis gula aren. Para cewek suka meleleh setipa kali melihat senyumannya yang manis itu. Zaki mendekati sofa dan ikut duduk bergabung.
“Selamat pagi!” sapanya pada keluarga Zena.
Ketiga manusia itu mengangguk sembari tersenyum menyambut sapaan Zaki.
“Zaki, kenalin, ini Zena,” ucap Alya sembari menunjuk gadis bergaun putih. “ini loh, gadis yang akan mama kenalin ke kamu. Dia memang masih kuliah. tapi sebentar lagi juga abkalan lulus. Sama kayak pas kamu kenal Cyra dan kemudian menikahinya.”
Zena tersenyum dan disambut senyum pula oleh Zaki.
“Zena datang bersama orang tuanya, Pak Fahri dan Bu Raya,” lanjut Alya memperkenalkan.
“Senang bertemu om dan tante,” ucap Zaki ramah.
“Kami jauh lebih senang bertemu denganmu. Wah wah... Jadi ini calon suaminya Zena? Bagaimana mungkin kami bisa menolak? Ganteng, rapi, dan ramah,” ucap Fahri, ayahnya Zena.
“Senagaja mama mengundang mereka kemari untuk makan siang karena mama ingin mempertemukanmu dengan mereka,” ujar Alya.
Surya yang sejak awal kurang menyetujui perjodohan itu pun hanya diam saja, sesekali tersenyum memperlihatkan barisan gigi rapinya. Itu saja. Sejak tadi ia ingin mengusir tamunya, tapi rasanya tidak sopan. Beberapa hari yang lalu dia dan istrinya bahkan sudah cek-cok gara-gara masalah perjodohan Zaki dengan Zena. Intinya, Surya tidak menyetujui ide istrinya itu.
“Zena, jadi bagaimana, setelah ketemu begini, apakah kamu suka sama Zaki? Apakah kamu mau menikah dengannya?” tanya Fahri pada putrinya.
“Syukurlah.” Fahri tersenyum senang. “Kami setuju menjodohkan Zena karena Zena juga sudah dewasa, sebentar lagi lulus kuliah. dia sudah bisa membina rumah tangga.”
“Saya mengharapkan Zena menjadi istri Zaki karena saya yakin Zena bisa menjadi istri yang baik untuk Zaki, juga memberi keturunan yang saleh dan salehah,” sahut Alya antusias.
Mereka mengobrol hal-hal ringan sampai setengah jam lamanya. Setelah itu Bik Pay muncul dan mengatakan kalau masakannya sudah siap saji.
Alya mengajak tamunya untuk segera menuju ke meja makan. Namun Zaki menolak.
“Maaf, Ma. Aku nggak ikut makan siang bersama. Mama dan Papa saja yang makan siang bersama Om dan Tante,” ujar Zaki sopan.
“Loh, kenapa? Ini kan acaranya kamu, kenapa malah kamu nggak mau makan bareng?” Alya mengernyit kaget.
“Aku ingin makan berdua di luar bareng Zena aja. Biar kami bisa bicara empat mata,” jawab Zaki.
“Oooh...” Serentak para orang tua.
“Ide bagus itu. biar kalian bisa saling kenal lebih deket. Ya udah, kalau kalian mau pergi nggak pa-pa,” ujar Raya, ibunya Zena.
“Zena, kamu mau kan makan siang di luar sama aku?” tanya Zaki.
Dengan raut kemerah-merahan menahan rasa malu, Zena mengangguk sembari melirik ke arah Zaki.
“Aku permisi.” Zaki melenggang keluar diikuti oleh Zena.
Zaki memasuki mobil dan Zena duduk di sisi pria itu. Zaki melirik Zena dengan senyum skeptis saat mobil sudah mulai bergerak meninggalkan rumah. babak pertama dimulai.
TBC