PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 90


Zalfa keluar dari minimarket menenteng sekantong makanan ringan yang rencananya akan dibagikan kepada pegawainya di kafe sebagai sedekah di hari jumat, juga supaya pegawainya bekerja lebih giat. Ia menuju ke mobil yang diparkir di halaman minimarket. Tak lain mobil pemberian Arkhan yang pagi itu dia gunakan sebagai armadanya. Matanya membelalak melihat pemandangan mengejutkan. Mobilnya dicoret-coret menggunakan kapur berwarna-warni. Baru sebentar ia meninggalkan mobil, sudah begini kondisi mobilnya. Siapa yang tega melakukannya?


Zalfa melihat ke kiri-kanan, siapa tahu pelakunya masih ada di sekitar sana. Terlihat tiga remaja berseragam putih biru mengintip di balik pagar pendek depan minimarket.


Tiga remaja yang tak lain seorang perempuan dan dua laki-laki itu tertawa ngakak begitu Zalfa memergoki mereka yang sedang mengintai di balik pagar yang mengelilingi minimarket. Dua remaja pria berlari menjauh ketika Zalfa berjalan mendekati. Sementara yang perempuan masih berdiri mematung dengan tatapan tajam menghunus ke mata Zalfa.


Elia? Jelas, dia dan teman-temannya yang mencoret-coret mobil hingga mereka kabur saat dipergoki. Pikir Zalfa.


“Woi, vampir jelek!” umpat Elia membuat Zalfa terkejut.


Apa kesalahan Zalfa hingga harus menerima umpatan itu?


Elia berlari menjauh setelah sebelumnya meludah. Namun malang, ia tersandung hingga mengakibatkan tubuhnya melayang dan jatuh nungging di trotoar. Gadis itu mengaduh dan memgangi lutut yang berdarah sembari merintih kesakitan.


Dengan mengumpulkan setumpuk kesabaran penuh, Zalfa mendekati Elia. Ia membungkukkan badan sembari mengulurkan tangan untuk membantu. Hanya satu yang terbesit dalam benaknya, tidak ingin membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan.


“Kau terluka, mari kubantu,” tawar Zalfa dengan seulas senyum.


Gadis berseragam SMP itu malah menatap sinis. Kemudian memalingkan wajah dan menatap luka di lututnya.


Salah satu teman laki-laki Elia berbalik dan kembali menghampiri.


“Elia, kaki lo berdarah. Buruan diobatin,” kata remaja pria sembari jongkok di sisi Elia.


“Payah ini gue mau berdiri. Sakit kaki gue,” jawab Elia.


“Mari kubantu. Di mana sekolahmu? Biar kuantar. Kamu naik ke mobilku aja, ya.”


Tidak menjawab, Elia malah menatap Zalfa dengan pandangan lebih sinis.


“Untukmu berobat,” kata Zalfa dengan senyum lebar.


“Nggak butuh,” ketus Elia.


Zalfa terkejut. Elia masih terlihat muak terhadapnya. Sementara remaja pria itu memperhatikan Zalfa. Ia merasa tersentuh melihat kelembutan wanita itu.


“Kau dan teman-temanmu yang mencoret-coret mobilku bukan? Aku nggak marah, kok,” lembut Zalfa berusaha menahan kekesalannya supaya tidak tampil ke permukaan wajahnya.


“Mmm… Aku cuma diajak, Kak. Elia yang punya ide,” jawab remaja lelaki hingga membuat dahi Zalfa berkerut.


Ternyata Elia dalang dari kejadian itu. Zalfa menatap lengan baju Elia, di sana tertulis SMP Tunas Bangsa. Beberapa kali Zalfa menarik nafas, SMP yang berseberangan jalan dengan kafe mini miliknya. Sebegitu besar kebencian Elia sampai-sampai mengerahkan teman-temannya untuk mencoret-coret mobil yang dia gunakan untuk berkendara.


“Apa kamu baik-baik aja?” pertanyaan Zalfa ditujukan pada Elia. Namun yang ditanya diam saja, manyun.


“Maaf, Kak. Kami nggak akan mengulangi hal ini lagi,” sahut remaja lelaki menyesal. Kebaikan Zalfa membuatnya merasa sangat bersalah sudah ikut-ikutan mencoret-coret mobil.


“Ya udah, ambil ini.” Zalfa menyodorkan uang kepada remaja lelaki. “Pakailah untuk mengobati luka temanmu. Sebaiknya kalian bergegas pulang. Nggak baik keluyuran sebelum jam masuk sekolah.”


“Makasih, Kak,” ujar remaja itu.


Zalfa mengangguk lalu berlalu pergi, membiarkan Elia dan si remaja pria yang adu mulut karena Elia tak sependapat dengan remaja lelaki yang justru berterima kasih pada Zalfa.


Sikap Zalfa yang demikian semata-mata ingin mendidik mereka yang masih remaja untuk berbuat baik kepada sesama. Ia berharap sikapnya itu menjadi contoh.


***


TBC