PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 68


Zalfa menapaki anak tangga. Hingga sampai ke lantai dua. Ia meletakkan tas. Lalu duduk di sofa kamar.


Atifa meraih kedua tangan Zalfa. “Jelas banget kamu dicintai sama dua cowok ganteng-ganteng dan berkelas semua. Itu menunjukkan bahwa kamu terlihat mulia di mata lelaki.” Alis Atifa terangkat, kemudian ia terlihat berpikir. “Tapi… mulai sekarang kamu mesti belajar melupakan Faisal. Kalo kamu mantap menikah sama Arkhan, jangan biarkan Arkhan memendam sakit ngeliat kamu masih mencintai lelaki lain. Pikirkan itu.”


Ternyata Atifa bisa berpikir positif ditengah rasa kurang nyamannya terhadap Arkhan. Namun Zalfa hanya diam saja. Meski hatinya membenarkan kata-kata Atifa, namun ia masih merasa berat untuk melepas Faisal dari lubuk hatinya sebelum ada kabar tentang kematian Faisal. Entah kenapa sampai detik ini ia berharap Faisal masih hidup.


Ismail terlihat melintasi pintu kamar yang terbuka lebar. Ia kemudian berbalik dan melongokkan kepala hingga separuh badannya memasuki kamar.


“Hmm… Rupanya ada di sini,” katanya sembari menatap istrinya.


“Sori mas, aku nemenin Zalfa ini lho. Dia lagi galau. Sini dulu Mas. Kita ngomongin pernikahan adikmu ini yang tinggal menghitung jam aja lagi bakalan dilangsungkan.”


Ismail masuk. Penampilannya sudah sangat style. Dasi di lehernya tampak rapi.


“Sini, Mas.” Atifa menarik tangan suaminya hingga suaminya itu terseret duduk di sisinya. “Entah kenapa aku jadi kangen mulu bawaannya sama Zalfa semenjak dia ngasih keputusan mau nikah sama Arkhan. Aku takut Zalfa dibawa Arkhan untuk tinggal di rumah gedongnya itu. Jadinya kan kita jarang ketemu Zalfa. Trus aku mesti ngadu ke siapa kalo kecapekan?”


“Kamu nih ya, kemarin sibuk maksa-maksa Zalfa nikah. Sekarang bingung begitu ngeliat Zalfa mau nikah.” Ismail menjepit ujung hidung istrinya.


Atifa terkekeh. “Menurutmu gimana dengan pernikahan Zalfa sama Arkhan?”


Ismail mengedikkan bahu. “Kita kan udah bahas soal ini. Nggak ada lagi yang menjadi masalah. Arkhan kan juga udah menjadi muslim. Apa lagi?”


Atifa tidak bisa berkomentar lagi.


Kalimat Zalfa terputus oleh nada dering yang terdengar nyaring. Zalfa mencari sumber suara. Ah, ia lupa mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia mendekati tasnya dan merogoh ponsel. Dahinya mengerut dan alisnya sampai hampir menyatu. Ia heran kenapa Pak Ibrahim meneleponnya.


“Assalamu’alaikum!” Zalfa menempelkan ponsel ke telinga.


“Wa’alaikumsalam Zalfa! Zalfa!” Suara Pak Ibrahim terdengar gemetar dan gugup. Hanya menyebut-nyebut nama Zalfa saja. Kemudian terdengar napasnya yang keras dan tidak beraturan.


“Pak Ibrahim, ada apa? Halo!” Berulang-ulang Zalfa memanggil-manggil, Pak Ibrahim tidak menjawab. Hanya napasnya saja yang kedengaran. “Pak, ada apa? Bapak kenapa?”


“Zalfa. Ya Allah, Zalfa. Ini kenyataan. Faisal, Zalfa. Faisal kem…. Kembali.”


Seperti mendengar suara gunturan petir, atau bahkan lebih dari itu, Zalfa terkejut dan hampir merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia ingin mendengar Pak Ibrahim mengulang kalimat itu, tapi ia tidak punya tenaga lagi untuk mengeluarkan suara. Kenapa lehernya tercekat? Dimana pita suaranya? Lemas seluruh tubuhnya sampai hampir roboh.


“Ya, Zalfa. Faisal pulang.”


Sambungan telepon terputus.


Zalfa masih terpaku dan membeku. Tubuhnya tak bergerak sementara ponsel masih di telinga. Berita apa ini? Ini bukan sekedar hoax bukan? Benarkah ini nyata? Kenapa seperti mimpi? Ya Tuhan…


TBC