PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
67. Pelaku Itu


Zaki memasuki sebuah minimarket. Sepanjang perjalanan menyetir, tenggorokannya terasa kering. Ia ingin minuman dingin. Zaki mengambil dua botol minuman kemasan dalam pendingin lalu mengantri di kasir untuk proses pembayaran. Ia meletakkan dua botol minuman tersebut ke meja kasir sesaat setelah antrian di depannya sudah habis.


“Ini aja, Mas?” Tanya kasir sembari menerima botol yang diserahkan Zaki.


Zaki tidak menjawab. Pandangannya kini sednag fokus ke luar. Melalui kaca bening yang menjadi pembatas, pandangannya dapat melihat ke luar. Si gigi maju sedang berjalan melintas di depan minimarket sambil menyulut rokok.


“Nggak jadi, Mbak!” Zaki berlari keluar meninggalkan botol minuman, membuat kasir melongo. Untung belanjaannya belun dihitung di barcode scanner.


Zaki mengikuti pria muda yang sedang melenggang sambil merokok. Pria itu berbelok ke samping gedung minimarket, di sana sudah ada seseorang yang menunggu sambil main gitar. Si gigi maju duduk di kursi kayu menghampiri pria yang tengah memetik gitar.


Zaki mengamati dari kejauhan. Dahinya mengernyit menatap punggung pria yang tengah memetik gitar sambil bernyanyi. Pe De sekali dia bernyanyi meski burung-burung pada menghambur beterbangan akibat mendengar suaranya yang fals. Postur tubuh pria yang sedang memetik gitar itu tidak asing di matanya. Bahkan bentuk kepalanya yang peang juga tidak asing di mata Zaki. Tapi siapa dia?


Penasaran, Zaki akhirnya memutuskan untuk mendekati posisi duduk pria itu. Ia harus mengetahui siapa pelaku pengeroyokan itu sebelum rasa penasaran menghilang dan ia jengah hingga tak mau mengurusi hal konyol itu.


Zaki menarik bahu pria yang tengah main gitar itu, memutar Sembilan puluh derajat hingga wajah mereka berhadapan.


Faiz.


“Jadi dia temanmu?” Zaki menunjuk si gigi tongos dengan dagunya. “Apa kau sudah puas setelah mengeroyok dan membuatku terkapar? Sampai separah itu dendammu padaku?”


Faiz diam saja, matanya menatap mantan dosennya tanpa ekspresi.


Si tongos menatap Zaki dengan ekspresi memucat. Kali ini ia ketakutan karena mereka hanya berdua. Tubuh tinggi dan gagah Zaki membuatnya sadar diri kalau Zaki bukanlah lawannya disaat ia hanya berdua saja.


“Aku bisa saja membuatmu membusuk di penjara. Perilakumu terhadap dosenmu ini sungguh di luar batas. Apa begini perilaku seorang mahasiswa berpendidikan? Perilakumu sama seperti mereka yang tidak berpendidikan?” gertak Zaki sambil mencengkeram erat leher baju Faiz.


Faiz mengesah, tak sedikitpun ia terlihat gentar. Bahkan mukanya masih sama, tanpa ekspresi.


Zaki menangkap tatapan Faiz yang berbeda, sorot mata itu lebih bersahabat, tanpa amarah.


“Saya bukan lagi mahasiswa, Pak. Mungkin Bapak sudah tahu hal itu. Dan mungkin Bapak benar, perilaku saya mencerminkan manusia tidak berpendidikan,” ungkap Faiz kalem. “Saya akui saya emosi, saya marah karena setelah berurusan dengan Bapak, Cyra ngelaporin saya ke dekan hingga akhirnya saya dikeluarin dari kampus. Cyra melakukan itu karena ingin membela Bapak. Dia menganggap sayalah orang yang telah melaporkan video itu ke dekan. Tapi saya sadar sekarang, kalau aksi kekerasan yang saya lakukan ke Bapak, sama sekali tidak membuahkan hasil apa-apa untuk saya. Hanya kepuasan yang saya dapatkan namun tidak menghasilkan perubahan apapun.”


TBC