
Zaki mengambil selembar kertas dari tangan Cyra lalu meremas dan membuangnya ke luar.
“Kok, dibuang?” Cyra menjauhkan tubuhnya dari Zaki dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran joknya.
Zaki mengangkat alis. “Memangnya mau untuk apa? Kamu mau simpen?”
“Enggak, sih.”
“Ya udah. Dibuang aja.” Zaki melirik kepalan kertas yang teronggok di jalan. Jujur saja, saat Cyra membaca kalimat demi kalimat yang tertuang dalam tulisan itu, Zaki merasa sangat cemburu. Seperti ada jarum tak kasat mata menusuk-nusuk hatinya. Namun Zaki harus dewasa dalam mengambil sikap. Walaupun rasanya nyeri saat mendengar ada pria lain yang memuja, memuji dan mengungkapkan ketulusan cinta pada gadisnya, Zaki harus bersikap legowo, memberikan contoh baik untuk Cyra agar bisa memaafkan Alfa. Ia hanya perlu mengesampingkan rasa cemburu demi rasa lain yang harus diutamakan.
“Makasih ya, Zaki. Kamu udah kasih pengertian ke aku tentang Alfa. Sekarang aku ingin ketemu dia. Kamu mau anterin aku ke sana?”
Zaki memalingkan wajah ke luar jendela. Menyembunyikan wajahnya yang mendadak jadi memanas. Ada apa dengan perasaannya? Kenapa jadi ngilu saat mendengar permintaan Cyra? Fix, Zaki semakin merasa cemburu. Tapi kalau ia menunjukkan kecemburuannya, maka nasihat yang tadi ia luncurkan untuk bisa memaafkan orang lain, bisa saja kembali musnah di pikiran Cyra. Huh, dua rasa dalam benaknya terasa bertentangan.
“Zaki!” panggil Cyra mengguncang lengan Zaki yang malah membelakanginya.
“Eh, ya?” Zaki menghadap Cyra.
“Mau kan anterin aku nemuin Alfa?” ulang Cyra.
“Mau ngapain?”
Zaki melirik Cyra dan mengesah, lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sedikit gusar. Ucapannya yang bermula ingin memberi pengertian pada Cyra supaya mudah memaafkan, kini malah membuat perasaannya menjadi tak menentu. Kata-kata Cyra yang kini berbalik memberi simpati pada Alfa, terasa menyudutkan perasaan Zaki.
“Aku mau ketemu Alfa. Aku mau ngeliat keadaannya,” lanjut Cyra.
“Oke. Kita ke sana,” lirih Zaki berusaha menyembunyikan kekalutan hatinya. Entah mengapa ia merasa sensitif disaat gadisnya memperhatikan pria lain.
Zaki melajukan mobil. Pikirannya kini malah jadi runyam setiap kali mengingat sorot mata Cyra yang basah saat mengenang kebaikan Alfa. Ia berusaha membuang rasa itu jauh-jauh, bukan saatnya menghadapi situasi dengan bermelo-melo.
Tiba-tiba Cyra menjerit saat mobil berguncang seiring dengan cicitan rem. Tubuh Cyra meringkuk dan tangannya memegangi handle kuat-kuat sesaat setelah menjerit histeris bersamaan dengan huyungnya mobil kea rah samping jalan. Mobil berbelok dengan kecepatan tinggi saat menghindari lawan dari arah depan.
Mobil yang berasal dari arah berlawanan tadi telah berlalu pergi.
“Cyra!” Zaki meraih bahu Cyra yang kini masih di posisi meringkuk dan kepala menunduk. Dengan penuh kecemasan, Zaki mengangkat wajah Cyra dengan tangannya. “Kamu nggak apa-apa?”
Sorot ketakutan di mata Cyra jelas terlihat. Namun gadis itu menggeleng pelan. Jantungnya masih berdegup-degup. Nafasnya masih ngos-ngosan. Saat mobil hampir bertabrakan, rasanya Cyra sudah berada di ambang maut.
TBC