PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
119. Heboh


Cyra melenggang di koridor, tas menggayut di punggungnya. Langkahnya tidak bersemangat memikirkan nasib ujian yang baru saja ia lalui. Semoga saja nilainya di atas rata-rata.


“Cyra!” panggil suara dari belakang.


Cyra tidak menoleh. Ia kenal persis suara yang memanggilnya itu. Alfa.


Cyra mempercepat langkah kakinya, namun ia kalah cepat. Kini Alfa sudah berdiri di hadapannya.


Uuugh… Cyra gedeg sekali menatap wajah di hadapannya itu.


“Apa lagi? Mau minta tonjok?” ancam Cyra sengak.


“Ra, nggak semua…”


“Udah! Jangan banyak bicara!” potong Cyra. “Gue mau pulang!” Cyra berlari menghambur melewati Alfa. Larinya kencang sekali mengalahkan pelari nasional.


Bruk!


Lagi-lagi kecerobohan Cyra membuahkan hasil yang tidak baik. Efek lari ngibrit nggak lihat-lihat ke depan, ia menabrak sosok manusia saat berbelok. Korban tabrak tak lain adalah Zaki.


Dengan gesit, Zaki meraih lengan Cyra saat tubuh mungil itu memantul dan terhuyung seperti hendak tumbang.


“Cieeee…”


“Suit suiiiit…”


“Asiiiik…”


“Kayak di sinetron-sinetron aja, nggak sengaja tabrakan sama calon suami.”


“Waaah… Cyra modus nih.”


Komentar berdengungan di sekitar Cyra dan Zaki. Dalam sekejap, Cyra dan Zaki dikelilingi anak-anak yang iseng mengomentari.


Muka Cyra memerah seketika. Sementara Zaki tampak rileks. Sedikitpun tak terlihat canggung.


“Ayo, pulang!” ajak Zaki pada Cyra. Ia berjalan menuju mobilnya, mengabaikan ocehan anak-anak yang berdengungan di sekitarnya.


Muka Cyra makin merah merona, pipinya terasa panas saat meninggalkan kerumunan anak-anak yang masih asik terus mengomentarinya.


Zaki benar-benar kelewat rileks. Bahkan sengaja mengajak Cyra pulang bareng di hadapan anak-anak.


Cyra buru-buru masuk ke mobil. Manik matanya melirik Zaki yang duduk di sisinya. Pria itu terlihat tenang menyalakan dan memundurkan mobil.


“Buset, kita jadi bahan gosip di kampus. Sumpah aku malu banget.” Cyra menepuk-nepuk pipinya.


Zaki melirik sebentar. “Kamu kan pakai baju, kenapa harus malu?”


“Malu bukan mesti telanjang doang kali, Zaki. Trus kenapa kamu mesti ngajakin aku pulang di depan anak-anak? Aku kan jadi bahan gosipan mereka jadinya.”


“Udah terlanjur basah, Cyra. Apa lagi yang mau ditutup-tutupi. Santai ajalah.”


Bisa-bisanya Zaki bicara sesantai itu. Cyra melepas nafas panjang.


“Apa yang membuatmu malu punya pacar dosen kayak aku? Bukannya itu malah kebanggan tersendiri bagimu?” Zaki menatap Pe De.


“O ya, ujian tadi kamu nggak nyontek, kan?” tanya Zaki sambil mengawasi ekspresi Cyra.


Cyra melirik Zaki dengan seulas senyum kecut. “Apa tadi kamu mergokin aku nyontek, ya?”


“Ya.”


Muka Cyra sontak kian memerah menahan malu. Kepergok Zaki nyontek, maluuuuu…. Pagi tadi ia mengaku sudah siap menghadapi ujian, dan nyatanya siap nyontek. Astaga.


“Kalau kamu mergokin aku nyontek, kenapa kamu nggak perlakukan aku kayak kamu memperlakukan Kiwol?” tanya Cyra dengan muka menunduk.


“Karena aku nggak bisa profesional saat menghadapimu. Entahlah…”


“Maaf… Jujur kuakui, aku ini anak yang bandel. Dan soal kecerdasan, sebenernya lumayan. Buktinya setiap mata pelajaran, aku cepet nangkep. Apa lagi soal hitung-hitungan, langsung nyantel di kepala. Di saat temen-temen pada belum siap mengerjakan kali-kalian, aku udah selesai sepuluh menit sebelum mereka. Sayangnya aku punya cerita buruk yang bikin aku mengenal kata ‘nyontek’.”


Zaki menaikkan alis.


“Meskipun tugas kuliah bejibun dan bikin stres, aku nggak menyerah dan tetap berusaha memahami materi kuliah, khususnya menjelang ujian. Sayangnya, hasil dari nilai UTS semester empat bener-bener jauh dari kata memuaskan. Aku sebel banget sama temen-temen yang jelas-jelas hanya ngandalin contekan waktu ujian, tapi justru dapet nilai di atas aku. Aku ngerasa usahaku belajar hanya berakhir sia-sia karena nilaiku kalah sama temen-temen yang bermodal contekan. Sejak itu, aku putuskan kalau aku juga bikin contekan saat ujian.”


“Ya ampun Cyra, kamu ini songong banget. Seharusnya kamu jadikan kekalahan nilaimu itu sebagai cambuk agar kamu bisa lebih giat lagi, cari cara gimana supaya bisa mengalahkan mereka dnegan jalan jujur. Bukannya malah ikut-ikutan nyontek. Itu sama aja kamu putus asa. Hasil nilai ujian dengan cara nyontek dengan yang nggak nyontek itu beda, loh. Ada kebanggaan tersendiri saat nilai kita bener-bener dari hasil kerja keras.”


“Yaah… Ngomong sih gampang. Prakteknya?”


“Ini artinya kamu udah siapin contekan juga buat ujian nanti?”


“He heee…”


Zaki menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Emangnya dulu kamu juga nggak pernah nyontek waktu ujian?” selidik Cyra.


Zaki diam saja dan membuang pandangan ke samping, tepatnya ke arah luar hingga Cyra tidak bisa menatap wajahnya.


“Zak, aku tanya kok malah dibelakangin, sih?”


“Pernah, tapi kan sekali-kali aja. Dan itu pun bukan maksud karena niat mau nyontek. Tapi karena kekuranga waktu saat mempelajari materi sementara waktu ujian udah mendesak.”


“Huuu… Gitu pun sempet-sempetnya nyeramahin aku.”


“Intinya, belajar dari pengalaman, yang namanya nyontek itu nggak bagus. Itu sama aja mendidik diri kita kepada ketidakjujuran.”


Cyra terdiam. Dalam hati menyetujui kata-kata Zaki.


TBC


Buat yang mau baca kisah Ashel dan Fariz, silahkan cari Judul


My Boss Is My Love,


sebab cerita itu judulnya bukan lagi Crazy Boss. udah ganti judul yah


Bentar lagi cerita itu naik cetak ke versi buku.